Musim, Makanan, dan Kearifan Senja
Gaya Hidup | 2026-04-05 08:42:53Oleh: Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Pagi menjelang siang itu percakapan mengalir senyaman uap kopi hangat yang naik perlahan dari cangkir. Di atas meja, roti canai yang lembut berpadu dengan kari ayam yang kaya rempah menghadirkan aroma yang hampir mustahil ditolak. Suasana sederhana, tetapi justru di situlah sering lahir percakapan yang hangat dan bernas: dari makanan, tubuh, usia, hingga rahasia alam yang diam-diam merawat manusia.
“Sebenarnya, di umur yang mulai senja ini,” ujar seorang sahabat yang telah lama menyandang gelar profesor, sambil merobek sepotong canai, “kita mestinya makin selektif memilih makanan. Yang sehat, yang memberi manfaat, bukan sekadar memuaskan lidah.”
Kalimat itu meluncur ringan, seperti obrolan biasa di sela sarapan. Namun justru kesederhanaannya menyimpan lapisan makna yang dalam. Pada usia yang matang, tubuh bukan lagi ruang eksperimen bagi segala jenis rasa. Ia telah menjadi rumah kebijaksanaan biologis. Meminta yang cukup, menolak yang berlebihan, dan merindukan yang menyehatkan.
Dari sana, bincang kami melebar ke makanan-makanan lokal yang mengagumkan. Pangan yang sering dianggap biasa karena terlalu dekat dengan keseharian. Dari olahan sederhana berbahan sagu, pisang, jagung, hingga ubi khas daerah, semuanya seperti dipanggil kembali ke meja kesadaran. Betapa sering manusia modern justru melupakan makanan yang tumbuh dari tanahnya sendiri, lalu sibuk mengejar yang datang dari jauh.
Padahal, pangan lokal bukan hanya soal rasa. Ia adalah jejak ekologis, sejarah budaya, sekaligus pengetahuan peradaban yang diwariskan nenek moyang. Di dalam ubi yang direbus sederhana, tersimpan memori tanah, musim, dan kerja sabar petani. Di situlah makanan tidak sekadar menjadi konsumsi, tetapi juga identitas.
Yang paling menarik, profesor yang lain menambahkan sebuah renungan yang membuat meja sarapan kami seolah berubah menjadi ruang kuliah kehidupan.
“Konsumsilah buah-buahan yang sedang musim,” katanya pelan, lalu menyeruput kopi. “Karena buah yang tumbuh pada musimnya, besar kemungkinan itulah yang sedang dibutuhkan tubuh manusia.”
Kami terdiam sejenak. Ada kebijaksanaan kosmis dalam kalimat itu.
Alam ternyata tidak pernah bekerja secara acak. Musim hadir dengan ritmenya sendiri, membawa jenis buah tertentu pada saat tertentu. Mangga, rambutan, durian, langsat, atau jeruk, semuanya datang sesuai waktunya. Dalam perspektif sains, buah musiman memang kerap memiliki kandungan nutrisi yang relevan dengan kondisi cuaca dan kebutuhan metabolisme tubuh saat itu. Saat musim panas, misalnya, buah dengan kadar air tinggi lebih melimpah. Saat musim hujan, hadir buah yang kaya vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh.
Namun lebih dari sekadar penjelasan ilmiah, percakapan itu menyentuh dimensi spiritual yang dalam. Keyakinan bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan alam tanpa hikmah.
Sebagai Pencipta manusia, Allah tentu paling mengetahui kebutuhan ciptaan-Nya. Alam dikelola dengan hukum yang presisi, musim diatur dengan keteraturan, dan setiap yang tumbuh membawa manfaat. Dalam bahasa iman, ini bukan sekadar fenomena ekologis, tetapi bentuk kasih sayang Ilahi yang bekerja melalui siklus semesta.
Karena itu, menolak kearifan musim sejatinya sama dengan menjauh dari harmoni penciptaan. Kita sering tergoda memaksakan segala sesuatu hadir setiap saat, melawan ritme alam, memutus hubungan antara tubuh dan musim. Padahal kesehatan yang sejati sering kali lahir dari kesediaan manusia untuk hidup selaras dengan takdir alam.
Di meja kecil itu, antara kari ayam, roti canai, dan kopi hangat, kami seperti diingatkan kembali bahwa umur yang menua bukan sekadar soal bertambahnya angka, tetapi tentang bertambahnya kebijaksanaan dalam memilih apa yang masuk ke tubuh dan apa yang tumbuh di pikiran.
Mungkin benar, usia senja adalah masa ketika manusia belajar bahwa kesehatan bukan hanya urusan medis, tetapi juga urusan kesadaran: sadar pada tubuh, sadar pada musim, sadar pada asal-usul makanan, dan sadar pada Tuhan yang menumbuhkannya.
Dan menjelang siang itu, kami berpisah bukan hanya dengan perut yang hangat, tetapi juga dengan jiwa yang terasa lebih akrab dengan alam. Sebab dari percakapan sederhana tentang makanan, kami menemukan satu pelajaran penting: Tuhan selalu menyediakan yang dibutuhkan manusia, sering kali justru melalui hal-hal yang paling dekat dan paling sederhana. Saya mengucap syukur dan terima kasih. Kebersamaan dengan sahabat yang hebat tidak sekedar temu kangen tapi juga membawa kebijaksanaan yang baru.
__________
Muliadi Saleh: "Menulis Makna, Membangun Peradaban"
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
