Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yasmin Elsa Mumtaza

Self-Love yang Islami: Antara Menghargai Diri dan Jebakan Ujub

Agama | 2026-03-30 07:37:39
Perempuan memeluk diri sendiri dengan simbol hati kecil.

Scroll sebentar di Instagram atau TikTok hari ini, dan kamu akan menemukan satu frasa yang terus berulang: "You have to love yourself first." "Choose yourself every time." Kata-katanya terdengar menyegarkan dan memang, bagi banyak orang, pesan-pesan itu terasa seperti nafas segar di tengah tekanan hidup yang tidak ada habisnya. #SelfLove #PsikologiIslam

Tapi pernah nggak kamu berpikir: sampai dimana batas mencintai diri sendiri yang sehat? Dan apa yang terjadi kalau kita melewati batas itu tanpa sadar?

Pertanyaan ini menarik untuk dijawab bukan hanya dari sudut pandang psikologi, tapi juga dari kacamata Islam. Karena ternyata, Islam memiliki pandangannya sendiri tentang mencintai diri. Keduanya punya pandangan yang saling melengkapi.

Self-Love Itu Apa, Sebenarnya?

Self-Love

Dalam dunia psikologi, self-love ialah kemampuan untuk bersikap baik kepada diri sendiri, terutama di saat kamu gagal, kecewa, atau merasa tidak cukup baik.

Seorang psikolog bernama Kristin Neff menyebutnya Self-Compassion: yakni memperlakukan diri sendiri seperti kamu memperlakukan sahabat dekatmu ketika ia sedang terpuruk. Kamu tidak akan menghakimi sahabatmu dengan kata-kata kasar saat ia gagal, kan? Nah, self-love mengajarkan kamu untuk melakukan hal yang sama kepada diri sendiri (Neff, 2003). Sebuah riset yang dilakukan oleh (Neff & McGeehee, 2010) membuktikan bahwa orang yang memiliki self-compassion tinggi cenderung lebih tangguh, jarang mengalami kecemasan, serta lebih mudah menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.

Dengan kata lain, self-love bukan hal yang egois, mencintai diri sendiri justru membuat kamu lebih baik sebagai manusia. Dan di titik ini, Islam tidak keberatan sama sekali.

Ujub: Sisi Gelap Self-Love yang Tak Disadari

Ujub adalah salah satu penyakit hati dalam Islam, dan ia lebih halus dari yang kita bayangkan. Ujub bukan sekedar sombong yang terang-terangan. Ia lebih seperti rasa kagum yang diam-diam tumbuh di dalam diri: merasa bahwa kelebihan yang kamu miliki seperti kecerdasan, penampilan, prestasi, memang sudah seharusnya kamu punya, karena kamu memang istimewa.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa ujub terjadi ketika seseorang lupa bahwa setiap kelebihan yang ia miliki berasa dari Allah, kemudian mulai menganggapnya sebagai pencapaian murni dari dirinya sendiri. Rasulullah SAW bahkan menyebut ujub sebagai salah satu dari tiga hal yang bisa membinasakan manusia (HR. Al-Bazzar). Ujub bukan soal merasa baik tentang diri sendiri, melainkan merasa baik tanpa mengakui Allah sebagai sumber dari segala kelebihan itu.

Jadi, Keduanya Berlawanan?

Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Self-love dan Ujub sebenarnya tidak saling berhadapan secara langsung. Self-love dalam psikologi itu netral, ia tidak bicara soal kepada siapa kamu berterima kasih atas semua kelebihanmu. Sedangkan ujub terjadi ketika rasa menghargai diri itu kehilangan satu lapisan penting, yakni rasa syukur kepada Allah.

Jadi, yang sebenarnya berlawanan bukan self-love vs ujub, melainkan self-love yang disertai syukur vs rasa bangga diri yang lupa dari mana semua itu datang. Di sinilah psikologi Islam mengisi celah yang tidak bisa diisi oleh psikologi barat sendirian.

Kenapa Self-Love Mulai Jadi Masalah?

Narasi seperti "Your needs always come first" atau "You don't owe anyone an explanation", meski terdengar membebaskan, tapi perlahan bisa membentuk cara pandang yang menempatkan diri sendiri sebagai pusat dari segalanya.

Penelitian yang dilakukan oleh (Dewi, 2019) menemukan bahwa pengguna media sosial yang harga dirinya rendah justru cenderung menampilan perilaku narsistik yang lebih tinggi. Mereka mencari pengakuan dari luar karena di dalam dirinya belum ada rasa cukup yang sesungguhnya. (Sakinah dan Zatrahadi, 2019) juga menemukan bahwa fenomena narsis di media sosial sering bermula dari kebutuhan pengakuan yang tidak tersalurkan, yang tanpa disadari bisa menggeser seseorang dari zona self-love yang sehat ke pola pikir yang semakin ujub.

Cinta Diri Versi Islam

Islam sebenarnya sudah punya konsep menghargai diri sejak jauh sebelum tren self-love ada. Dalam QS. Al-Isra ayat 70, Allah menyatakan bahwa Ia telah memuliakan manusia. Nilai dirimu tidak perlu kamu cari-cari dari luar melainkan sudah Allah tetapkan.

Psikologi Islam mengenal konsep nafs, jiwa manusia yang memiliki tingkatan. Pada tingkatan terendah, nafs ammarah, manusia dikuasai keinginan diri tanpa batas dan ujub hidup disini. Sementara pada tingkatan tertinggi, nafs muthmainnah, seseorang telah menemukan keseimbangan sejati, yakni mencintai dirinya, tapi tidak terpenjara oleh dirinya. Di sinilah self-love yang Islami seharusnya berasal.

Pada Akhirnya

Kita tidak perlu memilih antara mencintai diri sendiri atau berserah kepada Allah. Keduanya bisa berjalan beriringan, bahkan seharusnya memang begitu. Yang perlu kita jaga adalah arahnya. Self-Love yang sehat membuat kamu lebih baik, lebih lapang, lebih mampu hadir untuk orang di sekitarmu. Sementara Ujub membuat kamu semakin mengecil, karena duniamu menyempit hanya sebesar egomu sendiri.

Mungkin petanyaan yang lebih jujur bukan "Apakah aku sudah cukup mencintai diri sendiri?" tapi "Cinta diri yang sedang aku bangun ini, membawaku lebih dekat ke Allah, atau justru semakin menjauh?".

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image