Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nazaliah Yusma Zahrani

Menakar Ulang Makna Rezeki Terkait Kesiapan Orang Tua terhadap Hak Dasar Setiap Anak

Agama | 2026-05-05 23:02:24
Vecteezy" />
Picture by Vecteezy

Oleh: Nazaliah Yusma Zahrani

Kalimat “banyak anak banyak rezeki” sering kali dijadikan tameng saat seseorang ditanya soal kesiapan berkeluarga. Seolah-olah, dengan hanya bermodal keyakinan, urusan gizi, pendidikan dan kesehatan mental anak akan aman dengan sendirinya. Namun, apakah benar rezeki itu turun secara otomatis atau sebenarnya hanya meromantisasi kemiskinan? Di media sosial, sering melihat narasi yang mengagungkan kesederhanaan hidup dengan banyak anak. Namun di balik layar, realitas sering kali pahit seperti angka stunting yang tinggi, anak-anak yang terpaksa putus sekolah untuk membantu ekonomi hingga luka batin karena tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan finansial.

Memuliakan Keturunan dengan Persiapan Matang

Menghadirkan anak ke dunia tanpa rencana yang jelas bukan sekadar perkara kurang modal melainkan sebuah bentuk pengabaian yang sering kali dibungkus dengan bahasa agama. Memang benar Tuhan menjamin rezeki setiap makhluk. Namun, jaminan Tuhan tidak pernah menghapus kewajiban manusia untuk berusaha dan berencana. Dalam Islam, terdapat peringatan keras bagi mereka yang tidak memikirkan masa depan keturunannya. QS. An-Nisa ayat 9 menyebutkan: "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya)".

Lemah di sini bukan hanya soal fisik teapi juga lemah ekonomi, mental dan iman. Membiarkan anak lahir dalam kondisi miskin tanpa upaya perencanaan yang matang untuk mengubah nasib bisa dianggap sebagai kejahatan dalam pengasuhan. Anak adalah amanah, dan menelantarkan hak-hak dasar amanah tersebut, seperti hak untuk mendapatkan nutrisi yang baik dan pendidikan yang layak adalah pengkhianatan terhadap amanah itu sendiri. Sebab, menjaga kualitas hidup generasi masa depan jauh lebih utama daripada sekadar memuaskan keinginan pribadi atau terjebak dalam pemahaman yang kaku.

Antara Flourish dan Survive

Dalam psikologi positif, terdapat konsep flourishing yang dipopulerkan oleh Martin Seligman. Kata flourish berasal dari bahasa latin flor yang berarti flower (bunga) dan dari bahasa Indo-European bhlo yang berarti blooming atau to bloom (berkembang). Flourish dapat diartikan seperti bunga yang berkembang. Menurut Seligman, konsep ini menekankan bahwa hidup manusia seharusnya bukan sekadar tentang cara bertahan hidup atau survive, tapi tentang bagaimana individu yang mampu mencapai perkembangan optimal dan berfungsi secara penuh. Untuk bisa flourish, seorang anak membutuhkan lima elemen dasar diantaranya: positive emotion, engagement, relationship, meaning dan accomplishment/achievement (Sekarini et al., 2020).

Secara ilmiah, kemiskinan pada masa kanak-kanak buka hanya soal dompet yang kosong melainkan soal perkembangan otak. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience ole Kimberly Noble menunjukkan bahwa Status Sosial Ekonomi (SES) pada masa kanak-kanak, yang ditandai oleh tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orang tua, berkaitan dengan pengalaman awal yang penting bagi perkembangan kognitif (Noble et al., 2015). Anak-anak dari keluarga dengan pendapatan rendah cenderung memiliki luas permukaan otak yang lebih kecil di area yang bertanggung jawab atas bahasa dan kontrol diri. Hal ini membuktikan bahwa pengabaian ekonomi oleh orang tua memiliki dampak permanen yang melampaui masalah finansial yang menjadi luka biologis anak hingga dewasa.

Memutus Rantai Kemiskinan Mental

Perlu adanya kesadaran untuk membebani anak dengan harapan bahwa merekalah yang harus menjadi tiket lotre untuk mengubah nasib keluarga. Sering kali, anak-anak dengan ekonomi rendah dipaksa dewasa sebelum waktunya atau parentification. Mereka kehilangan masa kecilnya karena harus ikut memikirkan beban dapur. Rezeki memang diatur Tuhan tapi menjemput reseki dengan cara yang bermartabat adalah tugas orang tua. Menyiapkan kondisi finansial dan mental yang stabil sebelum menambah anggota keluarga bukan berarti meragukan kekuasaan Tuhan, melainkan itu adalah bentuk ketaatan untuk memastikan bahwa setiap nyawa yang diundang ke dunia ini mendapatkan halnya secara penuh. Maka memberikan lingkungan yang layak untuk flourishing adalah kewajiban yang harus ditunaikan bukan spekulasi nasib yang dipertaruhkan. Berhenti meromantisasi kemiskinan dalam pengasuhan karena anak-anak berhak atas kehidupan yang lebih baik daripada sekadar bertahan hidup.

Daftar Pustaka

Noble, K. G., Houston, S. M., Brito, N. H., Bartsch, H., & Kan, E. (2015). Family income, parental education and brain structure in children and adolescents. NATURE NEUROSCIENCE, March. https://doi.org/10.1038/nn.3983

Sekarini, A., Hidayah, N., & Hayati, E. N. (2020). Konsep dasar flourishing dalam psikologi positif the basic concept of flourishing in positive psychology. PSYCHO IDEA, 1076(2), 124–134.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image