Abi Umamah: Bukan Tentang Mengejar Nilai, Tapi Nilai sebagai Motivasi Belajar
Kolom | 2026-03-26 22:00:10Di tengah sistem pendidikan yang masih sering mengukur keberhasilan dari angka semata, saya ingin mengajak kita semua melihat dari sudut pandang yang berbeda: bahwa nilai bukanlah tujuan akhir, melainkan bahan bakar untuk terus belajar. Pengalaman pribadi saya menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu lahir dari kecerdasan, tetapi dari kesadaran.
Perkenalkan, nama saya Abi Umamah. Saya bukan berasal dari latar belakang siswa yang selalu berprestasi. Justru sebaliknya, saya pernah menjadi sosok yang malas belajar, lebih suka bermain, dan tidak terlalu peduli dengan masa depan. Sampai suatu hari, sebuah kalimat sederhana dari ayah saya mengubah cara pandang saya terhadap hidup. Ia berkata, “Kamu harus beda dari bapak. Bapak sudah merasakan susah, jangan sampai kamu merasakan hal yang sama.” Kalimat itu mungkin terdengar biasa, tetapi bagi saya, itu adalah titik balik.
Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya mulai menemukan lingkungan yang perlahan membentuk diri saya. Saya bertemu teman-teman yang tidak hanya menjadi partner bermain, tetapi juga secara tidak langsung menjadi pemicu semangat. Ketika melihat mereka mendapatkan nilai tinggi, muncul rasa ingin mencoba, bukan karena ingin bersaing semata, tetapi karena ingin membuktikan bahwa saya juga bisa.
Perjalanan itu tidak instan. Saya mulai belajar lebih serius sejak kelas 4 SD. Dari yang sebelumnya tidak peduli, perlahan saya mulai menikmati proses belajar. Hingga akhirnya, di momen pembagian rapor kenaikan kelas 5, nama saya dipanggil sebagai peringkat pertama. Saya masih ingat jelas perasaan saat itu—bahagia, bangga, dan tidak percaya. Hari itu bukan hanya tentang angka di atas kertas, tetapi tentang kemenangan atas diri saya sendiri.
Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang mau berubah. Sistem pendidikan kita sering kali terlalu fokus pada hasil akhir, tanpa cukup memberi ruang pada proses. Padahal, motivasi belajar yang sejati justru lahir dari perjalanan, bukan dari tekanan.
Kisah sederhana ini mungkin dialami oleh banyak anak di Indonesia. Di berbagai daerah, masih banyak siswa yang merasa tidak percaya diri, merasa tertinggal, atau bahkan kehilangan arah. Padahal, setiap anak memiliki potensi yang sama untuk berkembang, selama mereka diberi kesempatan dan dorongan yang tepat.
Oleh karena itu, penting bagi kita—baik sebagai orang tua, guru, maupun masyarakat—untuk mengubah cara pandang terhadap nilai. Nilai bukanlah alat untuk menghakimi, tetapi alat untuk memotivasi. Bukan untuk membandingkan, tetapi untuk mengukur perkembangan diri.
Apa yang saya alami hanyalah satu dari sekian banyak cerita tentang perubahan. Namun saya percaya, setiap perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil. Dan mungkin, hari ini adalah waktunya kita mulai melihat pendidikan bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
