Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fiola Indi Azzahra

Terlambat Lagi, Lagi, dan Lagi 4 Juta Anak Kandas di Tengah Jalan Ini

Teknologi | 2026-04-26 13:01:59

Lebih dari 4 juta anak Indonesia hari ini tercatat tidak lagi menginjakkan kaki di ruang kelas. Dalam terminologi statistika, mereka adalah missing values yang tidak bisa di substitusi. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah jutaan kursi yang terus membisu. Jutaan seragam yang menggantung tanpa pernah lagi dipakai. Jutaan mimpi yang berhenti di tengah jalan, sebelum sempat diperjuangkan.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi baru-baru ini kembali mengingatkan kita pada fakta pahit: persoalan putus sekolah tak lagi bisa disebut sebagai kasus di sini dan di sana. Ini sudah menjadi penyakit, yang diam-diam kita warisi dari tahun ke tahun, tanpa pernah benar-benar kita sembuhkan. Namun, yang lebih menyayat hati dari angka tersebut adalah cara kita menanggapinya. Pendidikan di negeri ini masih bekerja dengan logika keterlambatan. Kita baru bergerak ketika seorang siswa benar-benar kehilangan namanya dari daftar hadir. Kita baru memanggil orang tua ketika rapor siswa telah dipenuhi tanda merah. Kita baru menyusun program penyelamatan setelah angka putus sekolah diumumkan dalam laporan tahunan, sebagai pengakuan dosa kolektif yang tak pernah kita tindaklanjuti.

Seolah-olah kehilangan harus terjadi lebih dulu, baru kita sebut itu darurat. Padahal, tidak ada anak yang memutuskan berhenti sekolah dalam satu malam.

Putus sekolah adalah proses panjang yang berbisik pelan-pelan: ketidakhadiran yang kian sering, nilai-nilai yang merosot tanpa ada yang bertanya kenapa, motivasi yang meredup karena tak ada tangan yang menopang, hingga tekanan ekonomi yang dibiarkan membebani pundak mereka yang masih terlalu kecil. Semua itu meninggalkan jejak. Semua itu adalah jeritan yang tak pernah kita dengar.

Di era sekarang, kita punya teknologi untuk meramalkan segalanya. Perusahaan e-commerce tahu barang apa yang akan saya beli minggu depan. Aplikasi kesehatan bisa memprediksi risiko serangan jantung dari data detak jantung saya. Bahkan aplikasi cuaca bisa memberitahu kapan hujan akan turun hingga ke jamnya. sungguh sebuah aksi keparat yang tak termaafkan jika dunia pendidikan kita masih gagap membaca tanda-tanda paling sederhana dari siswanya sendiri.

Indonesia telah berulang kali menegaskan komitmennya pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 4 yang menargetkan pendidikan inklusif dan berkualitas bagi semua. Namun komitmen itu tak akan pernah melebihi statusnya sebagai slogan kosong jika kita masih betah dengan pendekatan reaktif. Pendidikan inklusif tidak cukup hanya membuka pintu akses seluas-luasnya. Ia menuntut kehadiran sistem yang mampu mencegah sebelum ia benar-benar menjauh.

Ini bukan semata-mata urusan teknologi. Ini adalah urusan perubahan paradigma. Selama ini, kita terlalu mudah meletakkan beban kegagalan di pundak seseorang. Siswa dianggap malas. Keluarga dianggap tidak peduli. Guru dianggap kurang kreatif. Tapi ketika lebih dari 4 juta anak terlepas dari genggaman sistem, mungkin sudah saatnya kita berhenti menyalahkan mereka yang jatuh, dan mulai bertanya: ada apa dengan sistem yang kita bangun bersama?

Kita kerap larut dalam ungkapan “Generasi Emas 2045”. Seratus tahun Indonesia merdeka. Puncak bonus demografi. Masa depan gemilang yang tinggal dua dekade lagi. Namun, cita-cita mulia itu akan runtuh sebelum sempat dibangun jika kita masih membiarkan jutaan anak keluar dari sistem pendidikan tanpa mekanisme pencegahan yang serius. Generasi emas tidak lahir dari pidato dan seminar. Ia lahir dari sistem yang bekerja sebelum krisis terjadi. Dari keberanian membaca data sebelum keadaan darurat diumumkan.

Sebagai mahasiswa statistika, saya memahami bahwa data itu punya suara. Ia bicara. Ia memberi isyarat. Ia bisa menjadi alarm kalau kita mau memasang telinga. Ia adalah peringatan dini yang mengetuk-ngetuk pintu kesadaran kita setiap hari, Tapi kita pura-pura tuli.

Jika hari ini lebih dari 4 juta anak berada di luar sistem pendidikan, maka pertanyaan yang harus kita hadapi bukan lagi "apakah ini persoalan penting?" Melainkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: “mengapa kita terus berjalan seolah tak ada yang genting? Kita tidak kekurangan data. Kita tidak kekurangan teknologi. Kita hanya kekurangan keberanian untuk menggunakan semua itu sebelum segalanya terlambat.

Masa depan bangsa tidak pernah hilang dalam satu malam. Ia memudar perlahan dari satu anak yang tak lagi datang, lalu satu lagi yang terabaikan, hingga menjelma menjadi jutaan kehilangan. Jika kita terus bergerak setelah semua tanda berubah menjadi bayang-bayang, maka yang kita warisi bukan generasi gemilang. Melainkan generasi yang sesungguhnya bisa kita selamatkan, andai kita tak memilih untuk tetap tenang.

Sudah saatnya pendidikan negeri ini berhenti datang setelah kehilangan terbilang. Sudah saatnya kita membaca fajar sebelum masa depan benar-benar tenggelam dan hilang.

Fiola Indi Azzahra

Mahasiswa Statistika, Universitas Airlangga

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image