Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aliftya Nuraini

Di Tengah Kurikulum Merdeka, Mengapa Siswa Masih Takut Bertanya?

Sekolah | 2026-07-03 15:54:06

Kurikulum Merdeka hadir dengan cara dan semangat yang cukup berbeda dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Jika dulu belajar sering dikaitkan dengan menghafal materi dan fokus pada nilai, Kurikulum Merdeka berusaha mendorong anak-anak untuk lebih berani berpartisipasi, kreatif, dan aktif menyampaikan pendapat mereka. Guru tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya orang yang mengetahui segalanya, melainkan sebagai orang yang membantu dan mendampingi anak murid dalam belajar.

Sumber: Foto oleh BOOM ???? Photography: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-orang-masyarakat-rakyat-manusia-12716111/

Namun, di tengah berbagai perubahan tersebut, ada satu fenomena yang masih sering terjadi di dalam kelas. Banyak siswa lebih memilih untuk tidak berbicara ketika guru meminta mereka untuk bertanya. Bahkan ketika mereka belum paham apa yang dijelaskan, banyak orang lebih suka menyimpan rasa bingungnya daripada langsung menaikkan tangan dan bertanya.

Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan. Jika Kurikulum Merdeka mengajak siswa belajar lebih aktif, mengapa masih banyak siswa yang merasa takut untuk bertanya?

Menurut saya, masalah ini tidak bisa dijelaskan hanya dari segi kurikulum saja. Rasa takut untuk bertanya sering kali disebabkan oleh budaya belajar yang sudah lama terbentuk. Dalam berbagai kesempatan, siswa sering kali hanya menerima informasi dari guru tanpa kesempatan banyak untuk berbicara atau mendiskusikan hal tersebut. Mereka biasanya diminta untuk mendengarkan, mencatat, dan mengerjakan tugas, daripada memberikan pendapat atau bertanya tentang sesuatu.

Akibatnya, sebagian siswa tumbuh dengan pikiran bahwa bertanya adalah hal yang berisiko. Ada rasa takut dianggap tidak mengerti pelajaran, khawatir ditertawakan oleh teman, atau bahkan takut memberi jawaban yang dianggap salah. Kondisi seperti ini menyebabkan semangat untuk bertanya menjadi semakin menurun.

Sebagai seorang mahasiswa yang dulu pernah menjadi murid, saya juga pernah mengalami situasi seperti itu. Sering kali saya benar-benar punya pertanyaan saat mengikuti pelajaran, tapi memilih tidak bertanya karena merasa pertanyaan itu terlalu mudah atau takut jawabannya tidak bagus. Ternyata banyak siswa lain juga merasakan pengalaman yang sama.

Dalam pendekatan pendidikan kritis, pembelajaran seharusnya tidak hanya menjadi cara menerima informasi secara pasif saja. Paulo Freire, seorang tokoh dalam pendidikan kritis, menekankan bahwa pembelajaran yang efektif adalah proses di mana terjadi komunikasi dan berdialog antara guru dengan siswanya. Pendidikan seharusnya tidak hanya memberi siswa pengetahuan, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir dengan logika dan mempertanyakan hal-hal yang mereka pelajari.

Pandangan tersebut sangat cocok dengan tujuan dari Kurikulum Merdeka. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tidak akan berjalan baik jika siswa masih merasa takut untuk berbicara. Keberanian untuk bertanya adalah bagian yang penting dalam proses berpikir kritis. Dengan bertanya, siswa bisa memahami suatu masalah dengan lebih baik, merasa penasaran, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Namun, membangun budaya bertanya tidak bisa dilakukan secara langsung. Perubahan dalam kurikulum harus diikuti dengan perubahan cara belajar di sekolah. Guru berperan penting dalam menciptakan suasana kelas yang tenang dan nyaman, sehingga siswa merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat mereka. Kesalahan saat menjawab atau bertanya adalah bagian alami dari belajar, jangan dianggap sebagai hal yang perlu ditakuti.

Selain itu, lingkungan sekolah juga harus memberikan penghargaan kepada siswa yang memiliki rasa ingin tahu. Siswa yang bertanya tidak harus dianggap mengganggu proses belajar mengajar. Sebaliknya, pertanyaan yang diajukan bisa jadi tanda bahwa siswa sedang terlibat secara aktif dalam belajar.

Di zaman digital sekarang, kemampuan bertanya justru semakin penting. Informasi bisa didapat dengan mudah lewat internet, tapi kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi itu membutuhkan cara berpikir yang aktif. Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan jawaban. Pendidikan juga harus mengajarkan bagaimana cara bertanya dengan tepat.

Kurikulum Merdeka memberikan harapan besar untuk dunia pendidikan di Indonesia. Namun, keberhasilan kurikulum ini tidak hanya bergantung pada perubahan dokumen atau cara mengajar saja. Yang sangat penting juga adalah bagaimana sekolah bisa menciptakan budaya belajar yang memungkinkan siswa untuk berpikir, berdiskusi, dan bertanya tanpa merasa takut.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan tidak hanya membuat siswa mampu menjawab soal ujian dengan tepat. Pendidikan harus mampu menciptakan individu yang selalu bersemangat untuk mencari tahu, berani menyampaikan pendapatnya, dan mampu berpikir secara kritis dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup. Jika siswa masih merasa takut untuk bertanya, mungkin yang perlu kita sesuaikan bukan hanya materi pelajaran, tetapi juga cara belajar yang selama ini berlaku di dalam kelas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image