Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Bangku Sekolah Kosong, Cermin Kepercayaan Masyarakat terhadap Pendidikan?

Guru Menulis | 2026-07-30 12:58:23

 

Awal tahun ajaran baru lazimnya menjadi momen yang penuh harapan. Ruang-ruang kelas kembali dipenuhi wajah ceria anak-anak yang memulai perjalanan panjang menuntut ilmu. Namun, suasana itu tidak sepenuhnya tampak di sejumlah sekolah dasar negeri tahun ini. Di berbagai daerah, ada sekolah yang hanya menerima beberapa murid baru. Bahkan, terdapat sekolah yang tidak memperoleh peserta didik sama sekali. Sebaliknya, sejumlah sekolah swasta justru mencatat peningkatan jumlah pendaftar.

Pemerintah menjelaskan bahwa fenomena tersebut dipengaruhi oleh menurunnya jumlah anak usia sekolah akibat perubahan struktur demografi, penuaan penduduk, dan urbanisasi. Salah satu langkah yang dipertimbangkan ialah menggabungkan beberapa sekolah melalui kebijakan regrouping. Namun, solusi tersebut juga menghadapi kendala karena jarak sekolah menjadi semakin jauh dari permukiman warga. (CNNIndonesia.com, 15 Juli 2026)

Sekilas, persoalan tersebut tampak sebagai konsekuensi logis dari perubahan demografi. Penduduk usia sekolah memang semakin berkurang di beberapa wilayah. Akan tetapi, apabila dicermati lebih dalam, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting. Mengapa pada saat sebagian SD negeri kekurangan murid, banyak sekolah swasta justru mengalami peningkatan kepercayaan masyarakat?

Keputusan orang tua memilih sekolah sesungguhnya merupakan cerminan harapan mereka terhadap masa depan anak. Ketika pilihan itu bergeser, berarti terdapat kebutuhan yang mereka anggap belum sepenuhnya terpenuhi.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, banyak orang tua tidak lagi menjadikan biaya atau status sekolah sebagai pertimbangan utama. Mereka lebih dahulu mencari lingkungan yang mampu menjaga anak-anaknya dari pengaruh buruk yang semakin mudah masuk melalui berbagai saluran kehidupan.

Maraknya kasus perundungan, kekerasan antarpelajar, penyalahgunaan media digital, hingga berbagai bentuk kenakalan remaja telah menumbuhkan kekhawatiran yang nyata. Orang tua berharap sekolah tidak hanya mengajarkan membaca, berhitung, dan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan adab, membiasakan ibadah, serta membangun karakter yang kuat sejak usia dini.

Fenomena meningkatnya minat terhadap sekolah yang memberikan porsi lebih besar pada pendidikan agama patut dipahami sebagai bentuk ikhtiar orang tua menjaga masa depan anak. Pilihan tersebut bukan semata-mata menunjukkan preferensi terhadap lembaga tertentu, melainkan mencerminkan kebutuhan akan pendidikan yang menghadirkan ketenangan batin sekaligus membentuk kepribadian.

Selama ini berbagai pembaruan pendidikan terus dilakukan. Kurikulum diperbarui, metode pembelajaran dikembangkan, dan beragam program penguatan karakter diluncurkan. Semua ikhtiar tersebut merupakan langkah positif yang layak diapresiasi.

Namun, pendidikan tidak hanya dibentuk oleh dokumen kurikulum. Nilai-nilai kehidupan tumbuh melalui budaya sekolah, keteladanan guru, lingkungan pergaulan, dan hubungan yang erat antara sekolah dengan keluarga. Karena itu, apabila masyarakat mulai mengalihkan kepercayaannya, evaluasi tidak cukup berhenti pada aspek teknis, seperti penggabungan sekolah atau pemerataan jumlah siswa. Refleksi yang lebih mendalam diperlukan untuk memastikan bahwa arah kebijakan pendidikan benar-benar menjawab kebutuhan utama masyarakat, yaitu membentuk generasi yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.

*Pendidikan dalam Islam*

Islam memandang pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan manusia. Perintah pertama yang Allah Swt. turunkan kepada Rasulullah saw. ialah firman-Nya, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq [96]: 1). Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu menjadi pintu pembuka lahirnya peradaban yang bermartabat.

Rasulullah saw. juga bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR Ibnu Majah, No. 224). Kewajiban tersebut menunjukkan betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan umat. Oleh karena itu, pendidikan tidak dipandang sebagai kebutuhan kelompok tertentu, melainkan hak yang harus dapat dinikmati seluruh masyarakat dengan kualitas yang baik.

Dalam sejarah Islam, Rasulullah saw. membangun pendidikan dengan menanamkan keimanan, akhlak, dan ilmu secara terpadu. Beliau tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian para sahabat melalui keteladanan dalam setiap aspek kehidupan. Dari proses inilah lahir generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kematangan moral.

Perhatian terhadap pendidikan berlanjut pada masa Khulafaur Rasyidin. Umar bin Khattab ra. dikenal memberikan perhatian terhadap penyebaran guru, pembelajaran Al-Qur'an, dan penguatan administrasi pemerintahan yang mendukung pelayanan masyarakat, termasuk bidang pendidikan.

Pada masa-masa berikutnya, lahir berbagai pusat ilmu pengetahuan seperti Baitul Hikmah di Baghdad yang menjadi tempat berkembangnya ilmu kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat berjalan seiring dengan pembinaan akhlak ketika keduanya dibangun di atas landasan nilai yang kokoh.

Dalam perspektif Islam, pendidikan bertujuan melahirkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi kehidupan. Karena itu, kualitas guru, pemerataan fasilitas pendidikan, lingkungan belajar yang aman, serta sinergi antara keluarga dan sekolah merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image