Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Surah Al-Baqarah Ayat 5

Agama | 2026-08-23 05:53:00

Abdul Hadi tamba.

Surah Al-Baqarah ayat 5.

Mari memahami Al-Qur'an dengan batiniah.

Tadabbur Alqur'an.

Dalam pandangan kami, Surah Al-Baqarah ayat 5 ("Ulaika 'ala hudam min rabbihim wa ulaika humul muflihun") memandang petunjuk (huda) sebagai limpahan cahaya (nur) langsung dari Allah (min rabbihim), bukan sekedar ilmu mental.

Kata al-muflihun (orang beruntung) dimaknai sebagai al-baqa' (kekal dalam ketenangan makrifat) setelah mereka berhasil al-fana' (melepas ego duniawi) melalui tahapan takwa di ayat sebelumnya.

Ayat Pendukung dalam Al-Qur'an QS. Al-Hadid ayat 28 :

Menjelaskan pemberian cahaya khusus bagi orang beriman agar bisa berjalan mendekat kepada-Nya.

QS. Al-An'am ayat 122 :

Menggambarkan seseorang yang tadinya mati secara ruhani lalu dihidupkan dengan cahaya (nur) untuk berjalan di tengah manusia.

QS. Asy-Syura ayat 52 :

Menyebut wahyu dan petunjuk sebagai ruh dan cahaya (nur) yang dengannya Allah membimbing siapa yang dikehendaki-Nya.

Hadis Pendukung Hadis Arbain Nawawi (Hadis Wali / Qurb al-Nawafil) :

Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.

Jika Aku mencintainya, Aku adalah pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat..."

(HR. Bukhari).

Hadis ini menjelaskan makna 'ala hudam min rabbihim(dibimbing langsung oleh Allah).

Hadis tentang Nur (Cahaya) :

Ya Allah, jadikanlah di hatiku cahaya, di lidahku cahaya, pada pendengaranku cahaya..."

(HR. Muslim).

Menunjukkan esensi permohonan petunjuk hakiki dalam tasawuf.

Pandangan Ulama Muktabar Tasawuf Imam Al-Qusyairi (Tafsir Latha'if al-Syararat) :

Menjelaskan bahwa 'ala hudam' menunjukkan bahwa kedudukan mereka bukan karena kekuatan amal mereka sendiri semata, melainkan karena inayah (pertolongan) dan tarikan kasih sayang Allah (min rabbihim).

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (Sirrul Asrar) :

Menyatakan bahwa keberuntungan (al-falah) dicapai saat hati seorang hamba bersih dari selain Allah, sehingga ia berpijak di atas cahaya makrifat dan sampai pada ketenangan jiwa (nafs muthmainnah).

Imam Al-Ghazali (Ihya' Ulumuddin) :

Menafsirkan petunjuk tertinggi adalah terbukanya hijab antara hati hamba dan Rabbnya, sehingga nur Ilahi masuk memandu setiap gerak lahir dan batin seseorang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image