Hidup Bukan Sekadar Bertahan: Membaca Ulang Pesan Buya Hamka Bagi Gen Z
Agama | 2026-07-30 18:39:47
Di tengah derasnya arus digitalisasi, generasi Z tumbuh sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi, tetapi juga paling akrab dengan berbagai bentuk tekanan psikologis. Informasi yang mengalir tanpa henti, budaya perbandingan di media sosial, kompetisi akademik dan profesional, hingga tuntutan untuk selalu produktif telah melahirkan sebuah paradoks: kemudahan hidup justru sering diiringi dengan meningkatnya kecemasan dan krisis makna. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya menjalani kehidupan hanya untuk "bertahan", bukan untuk benar-benar "menghidupi" kehidupan itu sendiri.
Fenomena tersebut mengingatkan kita pada sebuah ungkapan Buya Hamka yang tetap relevan melampaui zamannya:
"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja."
Ungkapan itu bukan sekadar retorika yang keras, melainkan kritik filosofis terhadap kehidupan yang kehilangan orientasi. Hamka mengajak manusia untuk menyadari bahwa keistimewaan manusia tidak terletak pada kemampuan bertahan hidup, tetapi pada kemampuan memberi makna terhadap kehidupan. Manusia dianugerahi akal, hati, dan nilai-nilai spiritual agar setiap langkahnya memiliki tujuan yang melampaui kepentingan biologis maupun material.
Realitas generasi Z hari ini memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan sering kali direduksi menjadi angka: indeks prestasi, jumlah pengikut media sosial, besaran gaji, atau pencapaian karier di usia muda. Budaya digital bahkan mendorong lahirnya standar keberhasilan yang seragam, sehingga seseorang mudah merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Dalam situasi demikian, kehidupan berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Produktivitas dipuja, tetapi ketenangan batin justru menjadi sesuatu yang langka.
Padahal, Islam memandang kehidupan dari perspektif yang jauh lebih mendalam. Allah Swt. berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa eksistensi manusia memiliki dimensi transendental. Ibadah dalam Islam tidak hanya dimaknai sebagai ritual, melainkan seluruh aktivitas yang dilakukan dengan niat yang benar dan memberikan kemaslahatan. Belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja secara profesional, meneliti, mengembangkan ilmu pengetahuan, hingga membangun peradaban merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah apabila dilandasi oleh keikhlasan dan tanggung jawab moral.
Dalam konteks ini, pesan Hamka menjadi semakin relevan. Kehidupan yang bermakna bukanlah kehidupan yang sekadar dipenuhi aktivitas, tetapi kehidupan yang memiliki orientasi nilai. Kesibukan tanpa tujuan hanya akan melahirkan kelelahan, sedangkan aktivitas yang berlandaskan makna akan melahirkan ketenangan dan kebermanfaatan.
Rasulullah saw. juga menegaskan:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad).
Hadis tersebut menggeser paradigma kesuksesan dari orientasi individual menuju orientasi sosial. Keberhasilan seseorang tidak semata diukur dari apa yang berhasil ia kumpulkan, melainkan dari manfaat yang dapat ia hadirkan bagi lingkungan sekitarnya. Perspektif ini menjadi penting ketika generasi Z hidup dalam budaya yang sering menonjolkan pencapaian personal dibanding kontribusi sosial.
Lebih jauh lagi, pemikiran Hamka mengajarkan bahwa kemajuan modern tidak seharusnya mengikis dimensi spiritual manusia. Kemajuan teknologi adalah alat, bukan tujuan. Kecerdasan digital perlu diimbangi dengan kecerdasan moral, literasi informasi harus berjalan seiring dengan literasi keimanan, dan kemampuan beradaptasi harus disertai kemampuan menjaga integritas. Tanpa fondasi tersebut, kemajuan hanya akan menghasilkan manusia yang cakap secara teknis, tetapi rapuh secara mental dan spiritual.
Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman. Generasi yang tidak mudah larut dalam budaya instan, tidak menjadikan validasi publik sebagai ukuran harga diri, serta mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, pesan Buya Hamka bukanlah ajakan untuk menolak modernitas, melainkan seruan agar manusia tidak kehilangan arah di tengah modernitas itu sendiri. Hidup bukan sekadar mempertahankan eksistensi, melainkan membangun peradaban melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada Allah Swt. Sebab, manusia yang benar-benar hidup adalah mereka yang mampu menghadirkan makna bagi dirinya, manfaat bagi sesamanya, dan pengabdian yang tulus kepada Sang Pencipta.
Di tengah dunia yang terus bergerak semakin cepat, mungkin inilah nasihat Buya Hamka yang paling layak direnungkan oleh generasi Z: jangan hanya sibuk menjalani hidup, tetapi pahamilah untuk apa hidup itu dijalani.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
