Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shinta Silvia

Belajar Strategi Dekarbonisasi dari Wilayah Tiongkok

Eduaksi | 2026-03-25 10:29:46

Dalam studi yang dipaparkan Changzheng Zhu dan Dawei Gao (2021) menekankan bahwa negara-negara di dunia termasuk Tiongkok menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan pembangunan infrastruktur transportasi dengan target pengurangan emisi gas rumah kaca.

Konteks ini sangat relevan hari ini mengingat banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, tengah mengakselerasi pembangunan konektivitas wilayah namun terikat pada komitmen iklim internasional.

Forum global mendorong kebijakan dekarbonisasi untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Foto: Okezone.com

Salah satu temuan kunci adalah adanya hubungan jangka panjang dan stabil antara emisi karbon transportasi dengan tingkat urbanisasi dan konsumsi energi fosil. Zhu dan Gao (2021) menjelaskan bahwa setiap peningkatan 1% pada tingkat urbanisasi di wilayah Tiongkok memicu kenaikan emisi karbon transportasi sebesar 7,728%.

Hal ini memberikan peringatan bagi kebijakan tata kota modern bahwa pengembangan wilayah perkotaan tanpa perencanaan transportasi publik yang berkelanjutan hanya akan memperburuk jejak karbon nasional.

Pertumbuhan ekonomi yang diproksikan melalui GDP per kapita juga terbukti menjadi pendorong positif emisi karbon, meskipun dengan elastisitas yang relatif kecil dibandingkan faktor lainnya.

Temuan ini memperkuat teori Kurva Lingkungan Kuznets yang menyatakan bahwa pada tahap awal pembangunan, pertumbuhan ekonomi cenderung meningkatkan degradasi lingkungan sebelum akhirnya menurun setelah mencapai titik kemakmuran tertentu.

Di masa sekarang, tantangan bagi negara-negara berkembang adalah bagaimana memutus hubungan (decoupling) antara pertumbuhan ekonomi dan emisi melalui inovasi teknologi hijau.

Struktur konsumsi energi tetap menjadi determinan kritis dalam profil emisi sektor transportasi. Data menunjukkan bahwa kenaikan 1% pada proporsi konsumsi energi fosil mengakibatkan kenaikan emisi sebesar 1,1901%.

Relevansinya dengan kebijakan saat ini sangat nyata, di mana transisi dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik (EV) menjadi agenda prioritas global untuk mengubah struktur energi transportasi dari berbasis karbon menjadi berbasis energi terbarukan.

Peningkatan level teknologi sebesar 1% mampu mereduksi emisi karbon transportasi sebesar 0,2182%. Dalam konteks hari ini, efisiensi mesin, penggunaan material ringan pada kendaraan, dan optimalisasi rute berbasis kecerdasan buatan menjadi instrumen teknologi yang sangat efektif untuk menekan emisi tanpa mengurangi produktivitas ekonomi.

Keterbukaan perdagangan ternyata memiliki pengaruh positif terhadap pengurangan emisi di sektor transportasi. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi ekonomi global memungkinkan transfer teknologi rendah karbon dan standar emisi yang lebih ketat dari negara maju ke negara berkembang.

Kebijakan perdagangan internasional saat ini, seperti mekanisme penyesuaian perbatasan karbon, semakin memperkuat peran perdagangan sebagai alat kontrol lingkungan yang efektif.

Adanya perbedaan dampak variabel antar wilayah, di mana negara-negara di Asia Barat dan Eropa Timur yang memiliki tingkat urbanisasi tinggi perlu lebih fokus pada diversifikasi energi bersih. Negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara diperingatkan untuk mewaspadai dampak negatif pertumbuhan kota yang tidak terkendali terhadap emisi lalu lintas.

Pemetaan regional ini sangat penting bagi kolaborasi global saat ini untuk memastikan strategi mitigasi iklim tepat sasaran sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

Bagi pembuat kebijakan saat ini, penggunaan data makro yang akurat adalah prasyarat mutlak untuk merancang pajak karbon atau sistem perdagangan emisi yang kredibel.

Pentingnya diversifikasi energi ke arah biomassa, gas alam, dan tenaga surya secara eksplisit direkomendasikan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di sektor transportasi.

Tren investasi global saat ini semakin meninggalkan energi batubara dan minyak menuju portofolio energi bersih. Hal ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga strategi ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga komoditas fosil dunia.

Alhasil, pengurangan emisi karbon di sektor transportasi memerlukan pendekatan multidimensi yang mengintegrasikan kebijakan ekonomi, penataan ruang, dan percepatan teknologi.

Di tengah desakan krisis iklim saat ini, keberhasilan dekarbonisasi sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk mengendalikan konsumsi energi fosil sambil terus mendorong inovasi teknologi hijau di seluruh rantai pasok transportasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image