Jangan Normalisasi Nilai-Nilai yang Tak Terarah
Info Terkini | 2026-03-18 06:24:08Jangan Normalisasi Nilai-Nilai yang Tak Terarah
Oleh: Dhevy Hakim
Baru-baru ini, kasus pembacokan yang terjadi di kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau membuat kita semua terkejut dan prihatin. Seorang mahasiswi bernama Faradilla Ayu Pramesti hampir kehilangan nyawanya saat akan menghadiri sidang proposal, diserang oleh sesama mahasiswa bernama Reyhan Mufazar dengan senjata tajam. Kondisi korban cukup serius dan harus dirawat di rumah sakit, sementara pelaku telah ditangkap dan menjalani proses hukum.
Bermula dari masalah pribadi yakni perasaan cinta sepihak. Keduanya mengenal satu sama lain sejak mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam satu kelompok. Korban yang dikenal ramah dan perhatian pada teman-teman ternyata disalahartikan oleh pelaku, yang kemudian mengembangkan perasaan lebih dalam. Padahal korban sudah beberapa kali menyatakan bahwa dia sudah punya pacar dan hanya ingin menjaga hubungan sebatas teman. Namun penolakan itu tidak diterima dengan baik, bahkan membuat pelaku semakin obsesif hingga akhirnya melakukan aksi kekerasan yang sangat memprihatinkan.
Fenomena seperti ini bukanlah kejadian tunggal, bahkan bisa jadi seperti fenomena puncak gunung es, yang nampak baru puncaknya saja, bisa jadi kasus serupa yang tidak terekspos lebih banyak lagi.
Lantas, apa sesungguhnya yang menyebabkan maraknya kekerasan pada remaja saat ini?
Pada usia remaja menuju dewasa memang kondisi anak-anak sudah mulai tertarik pada lawan jenis. Sesuatu yang menjadi fitrah bagi manusia. Namun, sayangnya fitrah manusia yang tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya inilah seringkali akhirnya berujung pada persoalan baru. Normalisasi pacaran menjadikan trend dikalangan remaja, seolah-olah jika tidak pacaran tidak keren, Cepu dll. Tidak bisa dipungkiri termasuk di dalamnya adalah normalisasi nilai-nilai yang tidak sesuai dengan norma agama dan budaya kita punya peran besar dalam mengubah pola pikir dan prilaku generasi muda.
Di sisi lain usia remaja memang emosinya menggebu-gebu, belum stabil. Acap kali jika dihadapkan pada masalah anak-anak remaja menuju dewasa ini menyelesaikan secara spontanitas pake emosi bukan dengan akal pikiran yang jernih. Tentu dalam hal ini banyak faktor yang mempengaruhi kepribadian anak sampai terbentuk karakter yang demikian.
Salah satu poin penting yang perlu kita sadari adalah bahwa sistem pendidikan sekuler yang banyak diterapkan saat ini tampaknya kurang berhasil dalam membentuk karakter dan kepribadian mulia pada generasi muda. Sistem ini lebih fokus pada pencapaian akademik dan keterampilan praktis, namun sering mengesampingkan pembinaan nilai-nilai moral dan agama. Akibatnya, banyak remaja yang tumbuh dengan pemahaman bahwa mereka bisa melakukan apa saja sesuai keinginan, tanpa memikirkan dampak bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sekularisme yang menjadi dasar dari sistem pendidikan tersebut juga membentuk pandangan bahwa kebebasan adalah sesuatu yang mutlak dan tanpa batasan. Nilai-nilai liberalisme yang semakin merambah ke dalam kehidupan keluarga dan masyarakat membuat hal-hal yang tadinya dianggap tabu atau salah justru menjadi sesuatu yang biasa. Pacaran bebas, perselingkuhan, dan berbagai bentuk pergaulan yang tidak sesuai dengan ajaran agama mulai dianggap lumrah. Padahal, hal ini bisa mengubah pola pikir remaja hingga mereka tidak mampu mengendalikan emosi dan hasrat, yang pada akhirnya berujung pada tindakan yang merusak seperti yang terjadi pada kasus di UIN Suska Riau.
Selain itu, negara dengan sistem kapitalis cenderung melihat generasi muda hanya sebagai faktor ekonomi yang perlu dimaksimalkan produktivitasnya. Perhatian terhadap pembinaan karakter dan nilai-nilai menjadi kurang prioritas, karena yang lebih ditekankan adalah kemampuan untuk bersaing di pasar kerja dan menghasilkan profit. Akibatnya, banyak remaja tumbuh dengan orientasi pada materi dan kesenangan semata, tanpa memiliki landasan nilai yang kuat untuk menghadapi berbagai godaan dan tantangan hidup.
Menyelesaikannya perlu berpikir kembali tentang bagaimana cara membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki kepribadian yang mulia dan bertanggung jawab. Sistem pendidikan Islam bisa menjadi jawaban yang tepat dalam hal ini, karena dibangun di atas dasar akidah yang kuat dengan tujuan utama membentuk pola pikir dan sikap sesuai dengan nilai-nilai syariat.
Dalam sistem pendidikan Islam, generasi muda tidak hanya diajarkan tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan, tapi juga diajarkan untuk memahami mana yang halal dan haram, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, serta mengembangkan ketakwaan kepada Tuhan. Mereka diajarkan untuk tidak hanya fokus pada pencapaian duniawi, tapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Dengan demikian, mereka akan memiliki landasan yang kuat untuk menghadapi berbagai godaan dan membuat keputusan yang benar.
Selain itu, dalam masyarakat yang hidup sesuai dengan nilai-nilai Islam, terdapat budaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan menentang kemaksiatan. Setiap individu merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu sesama dalam berjalan di jalan yang benar dan menjauhkan dari perilaku menyimpang. Hal ini menciptakan suasana yang mendukung terciptanya generasi yang berkualitas dan bertanggung jawab.
Sedangkan negara menjalankan aturan dan sanksi sesuai dengan hukum Islam akan memberikan efek jera yang kuat bagi mereka yang ingin melakukan tindakan menyimpang. Sanksi yang jelas dan tegas akan membuat setiap orang berpikir dua kali sebelum melakukan perilaku yang merusak diri sendiri maupun masyarakat. Selain itu, negara juga akan lebih fokus pada pembinaan generasi muda sebagai aset berharga bagi bangsa, bukan hanya sebagai faktor ekonomi semata.
Kasus yang terjadi di UIN Suska Riau seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang pentingnya membangun generasi muda dengan landasan nilai-nilai yang kuat. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem pendidikan yang hanya fokus pada akademik semata, tapi juga perlu memperhatikan pembinaan karakter dan nilai-nilai agama. Hanya dengan demikian, kita bisa menghindari terjadinya kejadian-kejadian tragis serupa dan membangun masyarakat yang lebih baik. Wallahu a’lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
