Di Balik Layar Pembelajaran Digital, Ada Siswa yang Masih Mencari Sinyal
Pendidikan dan Literasi | 2026-03-11 21:45:33
Penulis: Lusiana Alawiyah, Heru Hermawan dan Dede Kurnia Safari.
Program Magister Universitas Nusa Putra
Di era digital, internet sering disebut sebagai “jendela dunia”. Melalui internet, siswa dapat mengakses pengetahuan tanpa batas, mulai dari video pembelajaran hingga jurnal ilmiah dari berbagai negara. Namun kenyataan di Indonesia tidak selalu seindah itu. Bagi sebagian siswa, internet memang membuka peluang belajar yang luas. Tetapi bagi sebagian lainnya, akses tersebut masih terasa sangat jauh.
Data menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar persepsi. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat penggunaan internet di wilayah perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan. Selain itu, banyak sekolah di daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan perangkat digital dan infrastruktur jaringan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa teknologi belum sepenuhnya menjadi alat pemerataan pendidikan.
Kesenjangan digital dalam pendidikan bukan hanya soal ada atau tidaknya internet. Masalah ini jauh lebih kompleks. Akses teknologi, kemampuan menggunakan teknologi, serta ketersediaan perangkat belajar menjadi faktor yang saling berkaitan.
Di kota-kota besar, banyak sekolah telah memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Guru menggunakan video pembelajaran, aplikasi kelas daring, hingga platform diskusi online. Siswa dapat mencari referensi dengan mudah melalui internet. Bahkan beberapa sekolah mulai menerapkan pembelajaran berbasis proyek yang memanfaatkan teknologi digital.
Namun kondisi tersebut tidak sepenuhnya terjadi di daerah terpencil. Banyak sekolah yang masih memiliki keterbatasan fasilitas teknologi. Komputer yang tersedia sangat terbatas, jaringan internet tidak stabil, dan sebagian siswa bahkan tidak memiliki perangkat digital pribadi. Dalam kondisi seperti ini, pembelajaran digital menjadi sulit diterapkan secara optimal.
Kesenjangan ini semakin terlihat jelas ketika pandemi COVID-19 melanda. Pada masa itu, pembelajaran daring menjadi satu-satunya pilihan. Namun tidak semua siswa dapat mengikuti proses belajar secara maksimal. Sebagian siswa harus berbagi perangkat dengan anggota keluarga lain, sementara sebagian lainnya harus mencari sinyal internet ke tempat yang lebih tinggi atau lebih jauh dari rumah.
Menurut laporan UNICEF tentang pendidikan selama pandemi, jutaan siswa di Indonesia mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran daring karena keterbatasan akses internet dan perangkat digital. Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan digital bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga masalah kesempatan belajar.
Masalah lainnya adalah literasi digital. Tidak semua guru dan siswa memiliki kemampuan yang sama dalam memanfaatkan teknologi untuk belajar. Ada guru yang sudah terbiasa menggunakan berbagai platform digital. Tetapi ada pula yang masih kesulitan menggunakan aplikasi pembelajaran sederhana.
Ketika kemampuan digital tidak merata, teknologi yang seharusnya membantu justru bisa menjadi hambatan baru. Siswa mungkin memiliki akses internet, tetapi tidak tahu bagaimana memanfaatkannya untuk belajar secara efektif. Di sisi lain, guru mungkin memiliki materi yang baik, tetapi tidak memiliki keterampilan untuk menyajikannya dalam format digital yang menarik.
Jika kesenjangan digital ini terus dibiarkan, dampaknya bisa sangat panjang bagi dunia pendidikan Indonesia. Teknologi yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru berpotensi memperlebar jarak kualitas pendidikan.
Siswa yang memiliki akses teknologi yang baik akan lebih mudah mengembangkan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, dan literasi digital. Mereka terbiasa mencari informasi dari berbagai sumber dan belajar secara mandiri. Sebaliknya, siswa yang tidak memiliki akses yang sama akan lebih terbatas dalam mengembangkan keterampilan tersebut.
Kesenjangan ini juga dapat mempengaruhi kesempatan siswa di masa depan. Di era ekonomi digital, kemampuan menggunakan teknologi menjadi salah satu kompetensi penting dalam dunia kerja. Jika sejak sekolah siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan digital, mereka bisa tertinggal ketika memasuki dunia profesional.
Namun kesenjangan digital sebenarnya bukan masalah yang tidak bisa diatasi. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memperluas akses teknologi di sektor pendidikan. Program pembangunan infrastruktur internet di daerah terpencil, penyediaan bantuan perangkat teknologi, serta pelatihan literasi digital bagi guru menjadi beberapa langkah yang telah dilakukan.
Peluncuran Program Palapa Ring, Digitalisasi Sekolah, hingga platform Merdeka Mengajar adalah langkah yang patut diapresiasi. Namun implementasi di lapangan masih menemui hambatan nyata. Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2023 menemukan bahwa sejumlah perangkat TIK yang disalurkan ke sekolah di daerah terpencil tidak digunakan secara optimal karena minimnya pendampingan teknis dan pelatihan guru yang berkelanjutan.
Yang dibutuhkan bukan hanya lebih banyak gawai atau lebih banyak menara BTS. Yang dibutuhkan adalah pendekatan holistik: infrastruktur yang memadai, kurikulum digital yang kontekstual, guru yang terlatih dan terdampingi, serta ekosistem belajar yang mendukung. Negara seperti Estonia dan Korea Selatan berhasil menjadi rujukan global dalam literasi digital bukan karena mereka lebih kaya, melainkan karena komitmen kebijakan yang konsisten dan jangka panjang (OECD, 2022).
Pendekatan yang lebih menyeluruh diperlukan agar teknologi benar-benar dapat menjadi alat pemerataan pendidikan. Sekolah, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja bersama untuk memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pembelajaran digital.
Selain itu, penting juga untuk mengembangkan model pembelajaran yang fleksibel. Tidak semua sekolah harus menggunakan teknologi dengan cara yang sama. Pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi lokal justru dapat menjadi solusi yang lebih efektif.
Kesenjangan digital dalam pendidikan Indonesia adalah tantangan nyata di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Ketika sebagian sekolah sudah terhubung dengan dunia digital, sebagian lainnya masih berjuang untuk mendapatkan akses dasar terhadap teknologi. Perbedaan ini menciptakan kesenjangan kesempatan belajar yang tidak bisa diabaikan.
Teknologi seharusnya menjadi jembatan yang memperluas akses pendidikan, bukan justru memperlebar jarak antara yang memiliki dan yang tidak memiliki. Oleh karena itu, upaya pemerataan akses internet, penyediaan perangkat digital, dan peningkatan literasi digital harus menjadi prioritas bersama.
Transformasi digital pendidikan Indonesia tidak boleh menjadi proyek eksklusif kota besar. Ia harus hadir sampai ke sudut-sudut terpencil, sampai ke ruang kelas tanpa listrik stabil, sampai ke tangan guru yang berjalan kaki dua jam menuju sekolahnya. Karena di situlah, justru, letak sesungguhnya dari janji konstitusi: mencerdaskan kehidupan seluruh bangsa, bukan sebagiannya saja.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa merata teknologi tersebut dapat diakses oleh seluruh siswa. Jika kesenjangan digital dapat diatasi, teknologi berpotensi menjadi alat yang kuat untuk menciptakan pendidikan yang lebih inklusif, adil, dan berkualitas bagi semua.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
