Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image rafi ymaliki

Ketika Suaramu Dipetakan Sebelum Kamu Memilih

Teknologi | 2026-04-16 11:06:59
Sumber: Pixabay

Pernah nggak kamu scroll media sosial, terus tiba-tiba muncul iklan atau konten dari seorang politisi yang seolah-olah "berbicara langsung" ke kamu? Bukan kebetulan. Bukan juga keajaiban. Itu adalah hasil kerja algoritma kecerdasan buatan yang sudah lama mempelajari siapa kamu — dari apa yang kamu like, apa yang kamu tonton sampai habis, bahkan dari berapa detik kamu berhenti di sebuah postingan.

Di era kampanye digital hari ini, data adalah amunisi. Dan kamu, tanpa sadar, sudah memberikan amunisi itu secara gratis setiap hari.

Bagaimana mesin ini bekerja?

Bayangkan ini: setiap interaksi kamu di internet, komentar, share, emoji yang kamu pilih, dikumpulkan dan diolah oleh sistem AI. Sistem ini kemudian mengelompokkan kamu ke dalam segmen-segmen psikografis. Istilah gampangnya: AI menebak kepribadian, nilai-nilai, dan emosi kamu.

Model yang paling terkenal adalah OCEAN, singkatan dari Openness (keterbukaan), Conscientiousness (kedisiplinan), Extraversion (ekstroversi), Agreeableness (kecocokan sosial), dan Neuroticism (kecemasan). Hanya dengan menganalisis ratusan likes di Facebook, sebuah algoritma sudah bisa memperkirakan skor OCEAN seseorang dengan akurasi yang bikin merinding. Kasus Cambridge Analytica pada 2016 membuktikan hal ini bukan fiksi ilmiah, mereka mengklaim menggunakan profil psikografis dari jutaan pengguna Amerika untuk menarget pesan kampanye secara sangat spesifik.

Seseorang yang terdeteksi sebagai "neurotik tinggi" akan dibombardir iklan yang bermain pada rasa takut dan ketidakamanan. Sementara orang dengan "openness tinggi" mendapat pesan tentang perubahan dan visi masa depan. Bukan satu kampanye untuk semua, tapi ribuan versi kampanye yang berbeda untuk ribuan tipe orang yang berbeda.

Ini manipulasi, atau sekadar pemasaran canggih?

Di sinilah perdebatan yang paling penting. Sebagian orang berargumen bahwa ini cuma evolusi dari iklan konvensional, sama seperti iklan sabun yang tayang di jam ibu-ibu nonton TV. Tapi ada perbedaan mendasar yang sulit diabaikan: skala dan kedalamannya.

Iklan TV lama menarget demografi kasar, usia, jenis kelamin, lokasi. Iklan berbasis AI hari ini menarget lapisan psikologi. Ia tahu kamu lagi cemas soal ekonomi. Ia tahu kamu baru beli rumah dan takut harga naik. Ia tahu kamu tidak percaya institusi tertentu. Dan ia menyesuaikan narasi politik persis untuk memanfaatkan titik-titik itu.

Yang perlu kamu tahu:

Sebuah studi dari Universitas Stanford menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap konten yang disesuaikan secara emosional bisa menggeser persepsi seseorang tentang realitas, bukan dengan memaksa, tapi dengan perlahan-lahan mempersempit informasi yang mereka terima sampai hanya sudut pandang tertentu yang terasa "normal."

Ini yang disebut sebagai "filter bubble", gelembung informasi. Kamu tidak dilarang melihat sudut pandang lain; kamu hanya jarang sekali terpapar padanya sampai otak kamu mulai menganggap opini tertentu sebagai fakta.

Siapa yang paling rentan?

Terus terang, semua orang rentan. Tapi beberapa kelompok lebih mudah jadi target. Pemilih muda yang aktif di media sosial tapi belum punya referensi politik yang kuat adalah sasaran empuk. Begitu pula orang-orang yang sedang dalam kondisi emosional tidak stabil, baru kena PHK, sedang sakit, atau baru merasakan ketidakadilan. Dalam kondisi itu, pesan yang menyalahkan "pihak lain" atas penderitaan kamu terasa masuk akal, bahkan menyejukkan.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi: kamu tidak tahu kalau kamu sedang ditarget. Tidak ada label "ini iklan yang dirancang untuk psikologi kamu." Yang kamu lihat hanyalah postingan yang terasa relevan, konten yang terasa "ngerti banget" tentang masalah kamu.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Ini bukan seruan untuk meninggalkan internet atau berhenti menggunakan media sosial. Tapi ada beberapa hal yang menurut saya cukup penting untuk mulai dilakukan hari ini.

Pertama, kenali bahwa feed-mu adalah kurator, bukan cermin. Apa yang muncul di beranda-mu bukan representasi dari realitas dunia, itu adalah realitas yang sudah disaring untuk membuatmu betah dan terlibat lebih lama. Kedua, aktif keluar dari gelembung: cari sendiri sumber informasi alternatif, bukan tunggu algoritma yang menyodorkannya. Ketiga, ketika kamu melihat konten politik yang membangkitkan emosi kuat, marah, takut, atau euforia berlebihan, itu justru saatnya melambat dan mempertanyakan: apakah ini fakta, atau ini dirancang untuk membuatku bereaksi?

Dan dari sisi kebijakan, kita butuh regulasi yang lebih serius soal transparansi iklan politik digital. Siapa yang membayar? Berdasarkan data apa iklan ini tayang ke saya? Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya punya jawaban yang bisa diakses publik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image