Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Kesadaran Masyarakat Menjaga Kebersihan Lingkungan

Sastra | 2026-03-02 08:35:29

Ditulis Oleh : Nurul Qodriyah R

Sering kita melihat pemandangan yang kurang menarik tumpukkan sampah yang membuat lingkungan sekitar menimbulkan bau yang tidak sedap dan bisa mencemari lingkungan akibat dari orang yang kurang kesadaran dalam menjga kebersihan lingkungan. Mengapa sesuatu yang terlihat sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya begitu sulit dilakukan oleh banyak orang? Beberapa alasan utama mengapa kesadaran ini masih rendah: Teori Jendela Pecah (Broken Windows Theory) Teori Jendela Pecah adalah sebuah teori kriminologi yang menyatakan bahwa tanda-tanda kecil dari kekacauan atau ketidakteraturan di sebuah lingkungan (seperti jendela yang pecah, coretan grafiti, atau sampah yang menumpuk) akan memicu kekacauan yang lebih besar dan perilaku kriminal.

Secara psikologis, manusia cenderung menyesuaikan perilakunya dengan kondisi lingkungan sekitar. Jika seseorang melihat suatu area sudah kotor atau penuh sampah, otak mereka akan menangkap sinyal bahwa, "Di sini tidak apa-apa membuang sampah."

Sebaliknya, di tempat yang sangat bersih (seperti bandara atau mal mewah), orang akan merasa sangat sungkan untuk membuang satu puntung rokok pun karena merasa "merusak" keindahan yang ada.

1. Kurangnya Rasa Memiliki (Lack of Ownership)

Banyak orang merasa bahwa ruang publik (jalan, sungai, taman) adalah "milik pemerintah" atau "milik bersama" yang artinya "bukan milik saya." Mereka akan sangat bersih di dalam rumah sendiri, namun merasa sampah di jalan adalah tanggung jawab petugas kebersihan. Ada pemikiran keliru: "Kan sudah ada yang menyapu, nanti juga dibersihkan." Ini adalah bentuk pelepasan tanggung jawab pribadi.

2. Jarak Psikologis dan Dampak yang Tidak Instan

Manusia lebih mudah bereaksi terhadap ancaman yang instan. Sampah yang dibuang sembarangan tidak langsung menyebabkan banjir atau penyakit di detik itu juga. Karena dampaknya butuh waktu (akumulatif), orang merasa tindakan kecil mereka tidak berbahaya. Pikiran seperti "Hanya satu bungkus permen saja kok, tidak akan banjir" jika dikalikan jutaan orang, itulah yang menjadi bencana.

3. Normalisasi Sosial (Kebiasaan Kolektif)

Jika sejak kecil seseorang melihat orang dewasa di sekitarnya membuang sampah ke sungai atau dari jendela mobil tanpa ada yang menegur, maka perilaku tersebut akan dianggap sebagai "norma" atau hal yang wajar. Di lingkungan di mana membuang sampah sembarangan tidak dianggap memalukan, maka tidak ada beban moral bagi pelakunya.

4. Hambatan Fasilitas (Convenience)

Sifat dasar manusia adalah mencari jalan termudah. Jika jarak menuju tempat sampah dianggap terlalu jauh atau tempat sampahnya sudah penuh dan menjijikkan, orang cenderung akan meninggalkan sampahnya di tempat mereka berada.

Kebersihan sebagai Refleksi Batin Dalam perspektif spiritual, kebersihan bukan sekadar estetika, tapi indikator kualitas iman. Jika Teori Jendela Pecah fokus pada pesan visual ke lingkungan, prinsip "bagian dari iman" fokus pada kesadaran internal. Orang yang benar-benar beriman seharusnya tidak membutuhkan "tempat sampah yang dekat" atau "pengawasan CCTV" untuk tidak membuang sampah sembarangan. Mereka merasa diawasi oleh Tuhan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image