PUSTAKA Kementerian Pertanian: Menjaga Warisan Ilmu, Menguatkan Literasi Pertanian Indonesia
Sastra | 2026-05-15 09:07:38Ditulis Oleh ; Juznia Andriani
“Ilmu yang terjaga hari ini akan menjadi cahaya bagi pertanian masa depan.”
Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, keberadaan perpustakaan sering kali dianggap mulai kehilangan peran. Padahal, di balik pembangunan pertanian Indonesia yang terus berkembang, ada lembaga yang menjadi penjaga pengetahuan, penyambung inovasi, sekaligus penggerak literasi masyarakat. Itulah PUSTAKA Kementerian Pertanian.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan panjang PUSTAKA telah dimulai sejak 184 tahun lalu. Sejarahnya berawal dari pembelian 25 buku milik Jacques Pierot pada Mei 1842 atas saran seorang asisten hortulanus Justus Karl Hasskarl. Dari koleksi sederhana itulah lahir sebuah pusat pengetahuan pertanian yang kini menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia pertanian Indonesia. Pusat pengetahuan pertanian terus berkembang dengan nama Bibliotheca Bogoriensis yang banyak dikenal di dalam dan luar negeri. Bibliotheca Bogoriensis terus berkembang, mengalami beberapa kali pergantian nama, dan sekarang dikenal dengan nama PUSTAKA.
Momentum Hari Buku Nasional sekaligus ulang tahun PUSTAKA menjadi pengingat bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan adalah rumah pengetahuan, ruang belajar, pusat dokumentasi ilmiah, dan jembatan informasi antara hasil penelitian dengan masyarakat.
Menjaga Warisan Ilmu Pertanian
Salah satu kekuatan utama PUSTAKA terletak pada kekayaan koleksinya. Ribuan buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, majalah pertanian, hingga koleksi antikuariat yang langka tersimpan dan dirawat dengan baik. Koleksi tersebut bukan hanya sekedar dokumen lama, tetapi jejak sejarah perkembangan pertanian Indonesia dari masa ke masa.
Koleksi PUSTAKA banyak menyimpan informasi pemikiran para peneliti, inovasi teknologi, hingga catatan perjalanan pembangunan pertanian bangsa. Sejarah perkembangan pertanian dari masa ke masa, warisan intelektual bangsa, masih terjaga dan menjadi referensi bagi para pemustaka. Semua menjadi khazanah intelektual yang sangat berharga bagi peneliti, mahasiswa, penyuluh, petani, maupun masyarakat umum.
Seiring perkembangan zaman, PUSTAKA aktif melakukan preservasi dan digitalisasi bahan pustaka terutama untuk koleksi antikuariat. Langkah ini penting agar informasi tetap lestari sekaligus mudah diakses oleh generasi sekarang. Digitalisasi juga menjadi solusi untuk melindungi koleksi tua yang rentan rusak jika terlalu sering disentuh secara langsung. Dengan transformasi digital, masyarakat kini dapat mengakses berbagai sumber informasi pertanian secara lebih praktis tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Literasi Pertanian Masuk Era Digital
Peran PUSTAKA semakin terasa ketika kebutuhan masyarakat terhadap informasi cepat dan akurat semakin meningkat. Di era digital, informasi tidak cukup hanya tersedia, tetapi juga harus mudah diakses, mudah dipahami, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Karena itulah PUSTAKA terus berupaya menghadirkan berbagai program literasi yang lebih dekat dengan publik.
Transformasi digital yang dilakukan PUSTAKA bukan sekadar mengikuti tren teknologi tapi menjadi cara untuk mendekatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Kini informasi pertanian dapat diakses melalui repositori digital, katalog daring, layanan informasi ilmiah, hingga publikasi elektronik yang memudahkan pencarian data secara cepat dan efisien. Salah satu inovasi layanan yang menarik adalah RELASI atau Repository dan Layanan Ilmiah. Melalui layanan ini, masyarakat dapat terhubung dengan berbagai sumber informasi untuk mendapatkan solusi di bidang pertanian. Penyuluh, peneliti, mahasiswa, hingga petani dapat memperoleh referensi ilmiah, data penelitian, maupun informasi teknologi pertanian secara offline maupun online.
Literasi yang Dinamis
Citra perpustakaan yang sunyi dan kaku perlahan diubah oleh PUSTAKA melalui berbagai kegiatan kreatif dan komunikatif. Ada BCL atau Bincang Cerdas Literasi, sebuah ruang diskusi menghadirkan narasumber kompeten untuk membahas teknologi pertanian, kebijakan, hingga hasil riset terbaru. Konsepnya ringan, tetapi tetap berbobot.
Ada pula LOVE atau Live of Agriculture Virtual Literacy yang mengusung siaran langsung dari lapangan. Melalui konsep ini, literasi tidak lagi hanya hadir di ruang baca, tetapi turun langsung ke lokasi pertanian dan dapat disaksikan lintas geografis secara virtual. Partisipan dapat melihat bagaimana kondisi langsung di lapangan dan berinteraksi dengan narasumber serta pelaku usaha pertanian.
Program lainnya adalah PUBER atau Pustaka Bergerak. Kegiatan ini menjadi wujud nyata perpustakaan berbasis inklusi sosial. Tidak sekadar memberi informasi, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui pelatihan, tutorial, transfer pengetahuan, hingga pendampingan usaha yang bernilai ekonomis. Melalui PUBER dengan mengusung konsep Library Comes to You, perpustakaan hadir lebih dekat dengan masyarakat tani. Pengetahuan tidak berhenti menjadi teori, tetapi diterjemahkan menjadi keterampilan yang dapat diterapkan langsung di lapangan dan berdampak pada kesejahteraan.
Menyebarkan Inovasi Hingga ke Masyarakat
Dalam dunia pertanian, inovasi tidak akan berarti jika tidak sampai kepada pengguna. Di sinilah PUSTAKA memainkan peran penting sebagai penghubung atau jembatan antara hasil penelitian dan masyarakat. Berbagai informasi mengenai budidaya, keamanan pangan, peternakan, hortikultura, mekanisasi, hingga pertanian modern terus disebarluaskan agar mudah dipahami dan diterapkan. PUSTAKA juga mengembangkan SAPU TERAS atau Single Account, Penerbitan, dan Penyebarluasan Terbitan dan Akses. Melalui sistem ini, sebuah naskah tidak hanya diproses hingga terbit, tetapi juga dipastikan dapat menjangkau pembaca yang membutuhkan. Pengetahuan yang hidup di masyarakat pun dapat diakuisisi menjadi karya terbitan agar dapat dimanfaatkan lebih luas. PUSTAKA tidak hanya menjadi tempat menyimpan ilmu, tetapi juga tempat lahirnya pengetahuan baru.
Menumbuhkan Semangat Membaca dan Belajar
Hari Buku Nasional menjadi momentum dan pengingat bahwa budaya membaca dan belajar sepanjang hayat masih sangat penting. Sebagai penggerak literasi pertanian, PUSTAKA terus mendorong tumbuhnya budaya membaca, belajar, dan berbagi ilmu pengetahuan. Literasi pertanian memiliki peran besar dalam meningkatkan kapasitas petani, penyuluh, generasi muda, dan seluruh insan pertanian. Kolaborasi dengan penyuluh, akademisi, dan para pakar menjadi bagian penting dalam memperluas dampak literasi tersebut.
Di tengah perubahan teknologi informasi yang begitu cepat, PUSTAKA terus bertransformasi menjadi perpustakaan modern yang adaptif dan relevan. Dari koleksi buku hingga layanan digital berbasis teknologi, semuanya diarahkan untuk satu tujuan: menghadirkan ilmu pengetahuan pertanian bagi masyarakat luas. Masyarakat yang memiliki akses pengetahuan akan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan teknologi, tantangan pangan, dan menjadi masyarakat yang literate.
Dari koleksi buku tua hingga transformasi digital modern, PUSTAKA terus berupaya menjadi rumah ilmu pengetahuan pertanian Indonesia. PUSTAKA adalah ruang inspirasi, pusat pembelajaran, dan penjaga warisan ilmu pertanian untuk generasi hari ini dan masa depan Indonesia. PUSTAKA terus bertransformasi menjadi perpustakaan modern yang adaptif terhadap perkembangan era digital. Perjalanan panjang selama lebih dari satu abad menunjukkan bahwa PUSTAKA memiliki peran dalam pembangunan pertanian di Indonesia.(JA dari berbagai sumber)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
