Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Pusat Inovasi Perempuan

Membuat Pembangkit Listrik Tenaga Surya Skala Rumadhan

Iptek | 2026-02-23 17:22:28

Dr. Susianah Affandy, M.Si

Ambassador Indonesian Woman In Nuclear

Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar, terutama energi matahari, mengingat posisi geografisnya di garis khatulistiwa. Potensi energi surya nasional diperkirakan mencapai ratusan ribu megawatt, namun pemanfaatannya selama ini masih sangat rendah — baru sebagian kecil dari potensi teknis yang dimanfaatkan saat ini, termasuk PLTS atap dan PLTS skala kecil lainnya.

Wilayah Aceh dan Sumatera adalah daerah yang sering mengalami gangguan pasokan listrik akibat bencana alam seperti gempa, tsunami, dan banjir. Ketergantungan pada jaringan listrik konvensional sering kali membatasi kecepatan dan reliabilitas pasokan listrik ketika infrastruktur utama terganggu. Oleh karena itu, muncul kebutuhan untuk mengembangkan sistem energi yang mandiri, terdistribusi, dan tahan terhadap gangguan bencana — khususnya melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala rumah tangga.

Komponen Teknis PLTS Skala Rumah Tangga

PLTS skala rumah tangga merupakan sistem pembangkit listrik yang desainnya modular dan dapat dipasang langsung di atap atau lokasi strategis di rumah tangga. Komponen utama sistem ini meliputi:

1. Panel Surya (Modul Photovoltaic):

Panel surya adalah perangkat fotovoltaik yang secara langsung menangkap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik DC (Direct Current). ([Renewable Energy Indonesia][2])

2. Solar Charge Controller (SCC):

Komponen ini berperan penting dalam mengatur aliran listrik dari panel ke baterai agar tidak terjadi overcharging atau kerusakan pada baterai.

3. Baterai Penyimpanan Energi:

Baterai menyimpan listrik hasil konversi agar dapat digunakan saat malam hari atau ketika intensitas sinar matahari rendah.

4. Inverter:

Inverter mengubah listrik DC yang dihasilkan panel dan baterai menjadi listrik AC (Alternating Current) 220 V yang kompatibel dengan peralatan rumah tangga.

5. Struktur Penyangga:

Struktur ini mendukung pemasangan panel di atap sehingga mendapatkan orientasi terbaik terhadap sinar matahari. ([Renewable Energy Indonesia][2])

Metodologi Pemasangan PLTS

Proses instalasi PLTS rumah tangga melibatkan beberapa tahapan operasional teknik dan manajemen:

1. Analisis Kebutuhan Energi dan Lokasi:

Menentukan kebutuhan energi listrik rumah tangga dan orientasi pemasangan panel agar mendapatkan paparan matahari maksimal sepanjang hari.

2. Pemasangan Struktur dan Panel Surya:

Instalasi struktur penyangga di atap dan pemasangan panel secara aman sesuai sudut optimal radiasi matahari.

3. Integrasi Sistem Kelistrikan:

Menghubungkan panel ke SCC, baterai, dan inverter secara seri dan aman melalui instalasi kabel yang sesuai standar.

4. Koneksi ke Beban Listrik Rumah:

Setelah sistem terpasang, inverter dihubungkan ke jaringan listrik rumah atau beban langsung untuk dapat digunakan.

5. Uji Coba dan Pemeliharaan Berkala:

Pengujian fungsi keseluruhan dan perawatan seperti pembersihan permukaan panel dari debu atau kotoran secara periodik. Metode ini membantu mempertahankan performa sistem dalam jangka panjang.

Analisis Ekonomi: Biaya, Penghematan dan Dampak Sosial

Investasi awal untuk pembangkit listrik tenaga surya skala rumah tangga umumnya berada pada kisaran Rp4-5 Juta untuk sistem PLTS atap berkapasitas sekitar 1300 Watt. Komponen biaya ini meliputi panel surya, baterai, SCC, dan inverter. Sistem seperti ini dikenal mampu memberikan penghematan signifikan dalam tagihan listrik bulanan rumah tangga. Selain itu, dengan desain dan perawatan yang baik, komponen seperti panel surya dapat beroperasi hingga lebih dari 20 tahun.

Dalam konteks manfaat ekonomis jangka panjang, pemanfaatan PLTS skala rumah tangga memfasilitasi:

1. Pengurangan Biaya Energi: PLTS dapat menghasilkan listrik sendiri sehingga mengurangi kebutuhan untuk menarik daya dari jaringan utama pada jam puncak atau ketika kabel distribusi terganggu.

2. Percepatan Payback Period: Dengan penghematan biaya listrik bulanan, investasi PLTS skala rumah tangga dapat kembali dalam kurun waktu sekitar 1–3 tahun tergantung pola konsumsi energi.

3. Dampak Sosial dan Ekonomi Lokal: Pengurangan biaya listrik dapat meningkatkan daya beli diaspora masyarakat dan mendorong reinvestasi dalam kegiatan produktif di tingkat rumah tangga atau komunitas.

Potensi Energi Surya dan Keunggulan EBT di Wilayah Bencana

Potensi Energi Surya di Indonesia dan Aceh

Indonesia memiliki potensi sumber energi surya yang sangat besar, dengan potensi PLTS nasional diperkirakan mencapai ratusan ribu megawatt. Meski demikian, pemanfaatan energi surya baru mencapai sebagian kecil dari potensi tersebut.

Wilayah Aceh secara khusus memiliki potensi energi surya yang besar sebagai bagian dari upaya pembangunan energi berkelanjutan dan kemandirian lokal, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya energi terbarukan sebagai sumber listrik yang dapat diandalkan pascabencana.

Keunggulan PLTS untuk Ketahanan Energi

Pemanfaatan PLTS dalam skala rumah tangga memiliki beberapa keunggulan substansial ketika diterapkan di wilayah bencana:

1. Mandiri dari Jaringan Utama: Sistem PLTS off-grid tidak bergantung langsung pada jaringan utama yang rentan terhadap kerusakan infrastruktur akibat bencana.

2. Ketahanan Listrik Saat Darurat: Integrasi baterai memungkinkan sistem PLTS menyediakan listrik esensial meskipun jaringan PLN tidak beroperasi.

3. Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan: Energi surya menghasilkan listrik tanpa emisi karbon, mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan serta menurunkan polusi lingkungan. ([Solusi Power Indonesia][6])

Penutup dan Rekomendasi Kebijakan

Pengembangan PLTS skala rumah tangga berpotensi menjadi komponen penting dalam sistem ketahanan energi nasional, terutama di daerah yang rawan bencana seperti Aceh dan Sumatera. Untuk mempercepat adopsi teknologi ini, diperlukan dukungan kebijakan yang mendorong insentif investasi, edukasi teknis masyarakat, serta kerangka regulasi yang memfasilitasi pemasangan dan pemanfaatan PLTS di tingkat rumah tangga. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan sektor swasta adalah kunci untuk mewujudkan transisi energi bersih dan sistem energi yang lebih resilien terhadap gangguan bencana.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image