Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dr Drg Laelia Dwi Anggraini SpKGA

Eyang Sumarni Menunggu 14 Tahun, Akhirnya Melengkapi Rukun Islam di Tanah Suci

Gaya Hidup | 2026-05-27 13:44:33

MINA– Di tenda kloter 6 YIA, ada seorang nenek 69 tahun yang matanya sipit karena sering tersenyum. Namanya Sumarni. Orang-orang memanggilnya Eyang.

Tangan Eyang keriput, tapi genggamannya kuat saat memegang tasbih. “Alhamdulillah, akhirnya sampai sini,” bisiknya pelan, seperti tidak percaya.

Eyang Sumarni datang dari Pakualaman, Yogyakarta. Tinggalnya di daerah Jakal, belakang Happy Puppy, Desa Sari Asih. Ia berangkat haji bukan sendirian. Ia ikut adiknya, sekalian biar ada yang nemenin.

“14 tahun nunggu, Dok. Dulu daftarnya bareng adik. Sekarang adik yang ngantar saya,” katanya.

"Menabung Sejak Jualan Kelontong"

Sebelum jadi eyang yang sekarang, ibu Sumarni bertahun-tahun jualan kelontong. Beras, rokok, gula, sembako. Dagangannya kecil, tapi konsisten.

“Nabungnya sedikit-sedikit. Hasil jualan kelontong itu disisihin buat ONH. Nggak berani utang. Nunggu panggilan Allah saja,” ujarnya.

Sekarang toko kelontong itu sudah tutup. Diganti laundry milik anaknya. Eyang punya dua anak perempuan. Yang satu buka laundry, yang satu ikut suami. Cucu sudah empat.

“Pelunasannya dibantu anak-anak. Mereka bilang, ‘Mamah berangkat saja. Kami yang urus’. Saya cuma bisa nangis,” kenang Eyang.

"Mata Kabur, Hati Terang"

Usia 69 tahun bukan angka muda. Apalagi Eyang punya keterbatasan. Mata kanannya tidak bisa melihat karena glaukoma. Mata kiri sudah operasi katarak dua tahun lalu pakai BPJS.

Tapi di Arafah, Eyang tetap duduk khusyuk. Kalau baca Al-Quran, ia dekatkan ke mata kiri. Kalau lelah, ia sandarkan kepala ke tiang tenda, lalu lanjut dzikir lagi.

“Alhamdulillah masih bisa lihat Kiblat. Masih bisa doa. Mata ini boleh kabur, tapi hati jangan,” katanya sambil tersenyum.

"Melengkapi Rukun Islam"

Bagi Eyang Sumarni, haji ini bukan soal jalan-jalan. Ini tentang menuntaskan janji yang sudah 14 tahun ia jaga.

“Rukun Islam tinggal yang kelima ini. Kalau Allah sudah kasih rezeki dan kesehatan, ya harus berangkat. Biar tenang di akhir. Kakak-kakak saya juga naik haji, saya ingin seperti mereka” ucapnya.

Anak-anaknya bilang, Eyang itu inspirasi. Dari jualan kelontong, menabung pelan-pelan, sampai akhirnya bisa berangkat dibantu keluarga.

Di kloter 6 YIA, Eyang jadi eyang semua orang. Jemaah muda sering bantuin bawakan air, ambilkan makanan. Eyang cuma jawab: “Terima kasih, Nak. Doain eyang kuat sampai pulang ya.”

Dan di Padang Arafah itu, doa Eyang Sumarni menyatu dengan ribuan doa lain. Tentang ampunan, tentang keluarga, tentang rasa syukur yang tertunda 14 tahun.

Karena kadang, inspirasi itu datangnya bukan dari tokoh besar. Tapi dari seorang nenek di tenda Maktab 51, yang matanya kabur tapi hatinya terang, karena akhirnya bisa melengkapi rukun Islam.

Dari Tenda Kloter 6 YIA, Mina

Haji 2026: Cerita Kecil di Tanah Suci

Gambar 1. Eyang Sumarni tetap semangat dengan satu penglihatan

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image