Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rut Sri Wahyuningsih

Perdamaian ala Israel-AS, Patutkah Dipercaya?

Politik | 2026-02-19 21:50:43

Militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menggempur habis-habisan Jalur Gaza, Palestina, pada Rabu, 4 Februari 2026. Imbas serangan Israel 23 orang termasuk anak-anak tewas (CNN Indonesia.com, 5-2-2026).

Kontributor Al Jazeera di Gaza, Tareq Abu Azzoum mengatakan rumah warga tak luput jadi sasaran pasukan Israel dan terjadi peningkatan aktivitas militer Israel di Gaza dalam beberapa jam terakhir. Di tengah serangan Israel yang meningkat, Palang Merah Palestina menyatakan Israel membatalkan koordinasi untuk kelompok ketiga pasien Palestina yang akan meninggalkan Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah.

Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat berlaku sejak Oktober, menghentikan konflik yang menurut laporan telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya. Namun, otoritas kesehatan Gaza melaporkan bahwa meskipun gencatan senjata berlaku, ratusan pelanggaran masih terjadi, menyebabkan ratusan korban jiwa dan luka-luka tambahan (metrotvnews.com, 19-2-2026).

Masih saja gencatan senjata dan BoP ditawarkan sebagai solusi perdamaian Gaza. Nyatanya pelanggaran gencatan senjata berulang dilakukan oleh Zionis Israel. Bahkan lebih sadis dari serangan sebelumnya. Sampai kapan kita hanya menjadi penonton kebiadaban Israel ini?

Dalam Sistem Kapitalisme, Siapa yang Dapat Dipercaya?

Melihat fakta di atas, mengapa para pejabat kita, demikian juga para pemimpin negeri muslim masih saja enggan melepas kesetiaan kepada AS dan Israel? Kementerian ESDM Indonesia pun seolah menusuk mata dengan menetapkan PT Ormat Geothermal Indonesia sebagai pemenang lelang proyek Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu di Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Januari 2026 lalu. Diketahui perusahaan ini merupakan anak usaha dari Ormat Technologies Inc., perusahaan yang terafiliasi dengan Israel (tempo.co, 18-2-2026).

Dunia terlalu naif, percaya dengan janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. Padahal yang terjadi justru Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian. Nyatanya, gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara AS-Israel melanggengkan penjajahan di Palestina. Karena kepentingan Sistem Kapitalisme yang diterapkan, penguasa negeri-negeri muslim tak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS-Israel, ditambah alasan menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin meluas. Bahkan, mereka rela bergabung dalam BoP, meski ditetapkan pula iuran yang jumlahnya luar biasa, khususnya bagi Indonesia yang sejatinya sedang menghadapi krisis APBN.

Kondisi APBN serasa koyak karena terfosir untuk program MBG, pemulihan bencana banjir di Sumatera, Aceh dan beberapa wilayah Indonesia. Belum lagi untuk pembiayaan pendidikan, kesehatan, bayar bunga utang luar negeri dan masih banyak lagi. Tidakkah momen ini menjadi renungan bagi bangsa yang religius, setidaknya mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim, mempercayai janji manis kafir sama dengan bunuh diri politik?

Yang Dibutuhkan Persatuan Kaum Muslim

Penjajahan terlarang secara undang-undang global, terlebih Islam jelas melarang kezaliman berlangsung terus menerus tanpa ada upaya penghentian, maka sikap umat Islam harus tegas, zero toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS-Israel. Semua tak akan bisa dibuktikan, seberapa pun lamanya waktu yang dijanjikan untuk perubahan itu.

Yang benar dan harus segera diperjuangkan adalah kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan untuk melawan hegemoni penjajah kafir. Rasulullah saw. telah mencontohkan bagaimana beliau sebagai pemimpin menggalang dukungan berdasarkan keimanan, bahwa jihad meski dibenci namun Allah justru menjadikannya sebagai amal ibadah tertinggi, sebagaimana firmanNya yang artinya, " Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (TQS. al-Tahrim : 9).

Jika hari ini pemimpin kita justru menjalin hubungan mesra dengan kafir penjajah, bukankah ini bisa disebut pelanggaran hukum syara? Mereka muslim, tentu akan dimintai pertanggungjawaban Allah, sementara selama mereka memegang kekuasaan justru digunakan untuk menjadikan saudara seakidah sebagai umpan bagi kafir laknatullaj itu, tentulah sebuah azab yang pedih jika tak segera menempuh jalan pertobatan.

Jihad bukan kriminal, tapi bentuk kecintaan Allah kepada hambanya agar bisa menempati tempat mulia, sebagai syuhada. Dengan jihad, hambatan dakwah akan terurai. Dengan jihad, Islam Rahmatan lil Aalamiin, akan dirasakan oleh setiap orang baik kafir maupun Islam. Untuk itu, memahamkan umat dan penguasa muslim untuk melakukan jihad dan mendorong penyatuan negeri2 muslim di bawah naungan Khilafah menjadi agenda utama kaum muslim hari ini.


Tak ada lagi kepercayaan bagi apapun upaya kafir barat ketika mereka melakukan perdamaian, kerjasama hingga perdagangan, sebab semua selalu di atas kepentingan mereka pribadi, bukan seluruh umat manusia. Wallahu alam bissawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image