Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Raden Arfan Rifqiawan

Ramadhan, Syukur, dan Kecerdasan Artifisial

Agama | 2026-02-17 03:15:16

Alhamdulillāh, wa ṣallā Allāhu ‘alā nabiyyinā Muḥammad. Ramadhan kini di depan mata. Bulan suci yang selalu kita sambut dengan doa dan harapan itu hadir pada saat dunia bergerak cepat dalam arus transformasi digital. Kecerdasan artifisial atau AI tidak lagi sekadar isu futuristik, tetapi telah menjadi bagian dari infrastruktur pengetahuan global. Dalam suasana menyongsong Ramadhan, pertanyaan penting muncul: bagaimana umat Islam menyikapi teknologi ini secara bijak dan produktif?

Di ruang publik, bahkan dalam pernyataan yang dinisbatkan kepada Prof Roil Bilad, sempat disampaikan bahwa tidak memanfaatkan AI dapat dipandang sebagai bentuk “kufur nikmat”. Pernyataan tersebut tentu dapat dibaca sebagai dorongan moral agar umat tidak tertinggal dalam kemajuan ilmu. Namun, agar tidak terjebak pada retorika semata, persoalan ini perlu ditimbang dalam kerangka ushul fiqh dan maqāṣid al-sharī‘ah.

Dalam metodologi hukum Islam, AI termasuk wilayah muamalah dan diposisikan sebagai wasīlah atau sarana. Kaidah al-aṣl fī al-ashyā’ al-ibāḥah menegaskan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah boleh. Sementara kaidah al-wasā’il lahā aḥkām al-maqāṣid menjelaskan bahwa hukum sarana mengikuti tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, AI pada dirinya bersifat netral. Nilainya bergantung pada bagaimana dan untuk apa ia digunakan.

Ketika AI dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan, menyusun materi kajian, merancang program dakwah, atau membantu keluarga menyusun jadwal ibadah Ramadhan secara lebih teratur, maka ia menjadi sarana menuju maslahat. Dalam konteks ini, penggunaan AI dapat menjadi bagian dari upaya menjaga akal dan agama, dua di antara tujuan utama syariah.

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an dan bulan ilmu. Allah berfirman dalam QS. Al-‘Alaq ayat 4 sampai 5 bahwa Dia mengajarkan manusia dengan pena. Pena adalah simbol teknologi transmisi ilmu pada masanya. Sejarah mencatat bahwa umat Islam tidak menolak teknologi pengetahuan, tetapi justru menguasainya dan mengembangkannya. Jika pena dahulu menjadi instrumen kemajuan peradaban, maka AI hari ini dapat dipahami sebagai bentuk lanjutan dari instrumen itu dalam versi digital.

Karena itu, menyambut Ramadhan dengan memanfaatkan AI secara tepat dapat menjadi bagian dari ekspresi syukur. Syukur, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ibrahim ayat 7, tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi diwujudkan melalui pengelolaan nikmat secara optimal. AI adalah hasil dari potensi akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Menggunakannya untuk memperluas literasi Qur’ani, meningkatkan kualitas kajian, dan memperdalam pemahaman agama adalah bentuk tanggung jawab intelektual.

Yang perlu dikritisi justru adalah sikap apatis yang menolak teknologi tanpa memahami substansinya. Kehati-hatian memang diperlukan, tetapi kehati-hatian tanpa literasi dapat berubah menjadi ketertinggalan. Ketika dunia pendidikan dan dakwah bergerak ke arah digital, lembaga yang menutup diri dari perkembangan teknologi berisiko tertinggal dan kehilangan relevansi. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa kemajuan diraih ketika ulama dan ilmuwan berani menguasai instrumen zamannya.

Tentu saja, dukungan terhadap AI tidak berarti menerima tanpa kritik. Prinsip tabayyun tetap menjadi pagar etis. AI bukan mufti dan bukan pengganti otoritas ulama. Informasi yang dihasilkan tetap harus diverifikasi. Di sinilah pentingnya literasi digital dan penguatan metodologi ilmiah agar teknologi tidak disalahgunakan.

Dalam praktiknya, AI telah membantu banyak dai dan akademisi menyiapkan materi Ramadhan, merangkum referensi, hingga merancang program ibadah keluarga secara lebih sistematis. Jika alat ini dapat meningkatkan kualitas dakwah dan ibadah, maka memanfaatkannya secara bijak adalah pilihan yang rasional dan sejalan dengan semangat syukur.

Ramadhan adalah momentum pembaruan diri. Pembaruan itu tidak hanya dalam dimensi spiritual, tetapi juga dalam cara kita mengelola ilmu dan teknologi. AI bukan ancaman bagi iman. Yang menjadi ancaman adalah ketidakmauan untuk belajar dan beradaptasi. Oleh karena itu, menyambut Ramadhan dengan kesiapan mengelola teknologi secara etis dan produktif merupakan langkah yang selaras dengan semangat ijtihad.

Pada akhirnya, AI tetaplah sarana. Ia tidak menggantikan niat, keikhlasan, dan tazkiyah al-nafs. Namun ketika diposisikan sebagai alat untuk memperkuat penjagaan akal dan agama, ia menjadi bagian dari upaya kolektif membangun peradaban yang lebih baik. Di situlah makna syukur menemukan wujudnya, bukan dalam ketakutan terhadap perubahan, tetapi dalam keberanian mengelola nikmat demi kemaslahatan umat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image