Kenapa Orang Bugis Dikenal Keras tapi Setia?
Gaya Hidup | 2026-02-07 22:08:54
Orang Bugis sering mendapat cap “keras”. Cara bicara yang tegas, sikap yang lugas, dan prinsip hidup yang kuat kerap membuat mereka terlihat galak di mata orang luar. Tapi di balik kesan itu, ada satu hal yang hampir selalu diakui, kesetiaan. Entah dalam pertemanan, keluarga, maupun komitmen hidup, orang Bugis dikenal sulit berpaling.Dalam kehidupan sehari-hari, sikap “keras” ini sebenarnya lebih dekat dengan keteguhan.
Orang Bugis terbiasa menyampaikan sesuatu secara langsung, tanpa banyak basa-basi. Bagi mereka, kejujuran jauh lebih penting daripada menyenangkan perasaan orang lain. Itulah mengapa dalam pergaulan, mereka cenderung apa adanya kalau setuju, ya setuju, kalau tidak, akan diutarakan dengan jelas.Kesetiaan orang Bugis tak lepas dari nilai siri’ na pacce, sebuah prinsip hidup yang menekankan harga diri, empati, dan tanggung jawab.
Dalam konteks gaya hidup modern, nilai ini tercermin dalam sikap tidak mudah mengkhianati kepercayaan. Sekali seseorang dianggap “orang sendiri”, hubungan itu akan dijaga dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai mengorbankan kepentingan pribadi.Dalam pertemanan, orang Bugis mungkin bukan tipe yang sering mengumbar perhatian lewat kata-kata manis. Namun ketika dibutuhkan, mereka biasanya hadir.
Dalam keluarga, loyalitas ditunjukkan lewat tanggung jawab dan kerja keras. Sementara dalam hubungan sosial, komitmen dianggap sebagai janji yang tidak boleh dilanggar sembarangan.Di era sekarang, ketika banyak hubungan terasa serba cepat dan mudah berganti, karakter orang Bugis yang keras tapi setia justru menjadi pembeda.
Mereka mungkin tidak selalu nyaman dengan kepura-puraan atau drama sosial, tapi menawarkan sesuatu yang semakin langka yaitu, konsistensi dan ketulusan.Jadi, di balik kesan keras yang sering disalahpahami, orang Bugis menyimpan nilai hidup yang kuat. Tegas dalam prinsip, namun setia dalam hubungan adalah sebuah kombinasi yang membentuk karakter dan gaya hidup yang khas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
