Kebijakan Ekonomi dan Pendidikan di Balik Tragedi Kematian Anak di Kupang
Kebijakan | 2026-02-08 08:28:50Tragedi kematian anak di Kupang adalah manifestasi dari kemiskinan struktural yang berakar pada ketimpangan kelas dalam perspektif Marxian. Secara struktural, kematian ini mencerminkan kegagalan negara dalam melindungi kelas rentan dari tekanan ekonomi yang mematikan.
Marx berargumen bahwa dalam sistem kapitalisme yang tidak terkendali, sumber daya dasar dialokasikan bukan berdasarkan kebutuhan manusia, melainkan akumulasi modal, sehingga akses terhadap nutrisi dan kesehatan bagi anak-anak di wilayah periferi seperti Kupang sering kali terabaikan demi efisiensi fiskal negara.
Dari perspektif Acemoglu dan Robinson dalam tesis Why Nations Fail, kondisi di Kupang adalah hasil dari institusi ekonomi ekstraktif. Institusi semacam ini gagal menciptakan insentif dan akses ekonomi yang inklusif bagi setiap rumah tangga. Ketidakmampuan setiap keluarga di NTT untuk mencapai kemandirian ekonomi adalah bukti bahwa distribusi kekuasaan dan kekayaan hanya berputar di lingkaran elit, sehingga gagal memberikan lapangan permainan yang setara (level playing field) bagi individu di daerah untuk keluar dari jebakan kemiskinan sistemik.
Kegagalan ini diperparah oleh sistem ekonomi yang dianalisis oleh Philippe Aghion melalui konsep Creative Destruction. Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi sering kali tidak bersifat inklusif; inovasi dan akses pasar hanya menyentuh sektor-sektor tertentu, sementara sektor rumah tangga di wilayah tertinggal mengalami marjinalisasi.
Tanpa akses ekonomi yang didesentralisasi secara nyata, setiap kepala keluarga kehilangan otonomi finansialnya, menjadikan mereka bergantung pada jaring pengaman sosial yang rapuh dan sering kali tidak hadir saat krisis kematian anak terjadi.
Sektor pendidikan dasar yang seharusnya menjadi pintu keluar dari kemiskinan justru terjebak dalam krisis kemanusiaan. Jika dibandingkan dengan sistem pendidikan Skandinavia atau Jepang yang mengedepankan keamanan psikologis (psychological safety), basis karakter, dan humanisme, pendidikan dasar kita sering kali terasa mekanistik instrumental non komunikatif.
Pendidikan di wilayah seperti Kupang gagal menawarkan model yang menantang namun nyaman di mana anak-anak seharusnya melihat sekolah sebagai ruang masa depan yang menjanjikan, bukan sekadar kewajiban administratif yang tidak relevan dengan realitas kemiskinan mereka.
Kritik Ivan Illich mengenai Deschooling Society menjadi relevan di sini; sekolah telah terinstitusionalisasi sedemikian rupa sehingga gagal berfungsi sebagai alat pembebasan. Pendidikan dasar yang ada saat ini sering kali tidak memberikan kompetensi praktis untuk kemandirian, melainkan hanya memproduksi kepatuhan.
Ketika sekolah gagal menjadi ruang yang humanis dan berbasis karakter, ia kehilangan daya tawarnya sebagai mercusuar masa depan bagi anak-anak yang lahir dalam kemiskinan, membuat mereka terjebak dalam siklus kebodohan dan kerentanan fisik yang mematikan.
Sejalan dengan itu, Paulo Freire melalui Pedagogy of the Oppressed mengingatkan bahwa pendidikan haruslah menjadi alat penyadaran (conscientization). Namun, sistem pendidikan di Indonesia masih sering mempraktikkan konsep bank, di mana anak-anak hanya dijejali informasi tanpa diajarkan cara mengkritisi dan mengubah realitas sosial mereka.
Kegagalan sistem pendidikan untuk menjadi inklusif dan membebaskan ini secara tidak langsung membiarkan struktur kemiskinan di Kupang tetap langgeng, karena generasi mudanya tidak dipersenjatai dengan kapasitas intelektual untuk meruntuhkan tembok oligarki ekonomi.
Pada level sosiologis, kita menyaksikan rapuhnya sistem sosial akibat tekanan ekonomi negara yang egois. Ketika negara gagal memberikan akses ekonomi yang merata, masyarakat cenderung menjadi individualistik dan "memikirkan diri sendiri" sebagai mekanisme pertahanan hidup.
Nilai-nilai komunal yang dulu kuat kini luntur oleh persaingan sumber daya yang langka, sehingga sistem pendukung komunitas (community support system) yang seharusnya bisa mencegah kematian anak melalui gotong royong kesehatan dan pangan, kini semakin melemah dan terfragmentasi.
Alhasil, kematian anak di Kupang adalah alarm keras atas gagalnya proyek kemandirian rumah tangga di Indonesia. Diperlukan transformasi radikal yang menggabungkan redistribusi ekonomi Marxian yang lebih adil, pembangunan institusi inklusif ala Acemoglu, serta reformasi pendidikan humanis-karakteristik ala Skandinavia.
Tanpa adanya keberanian untuk membongkar struktur ekonomi yang ekstraktif dan sistem pendidikan yang opresif, maka keadilan dan kemanusiaan bagi anak-anak di NTT akan tetap menjadi janji kosong yang terus ditangisi oleh sejarah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
