Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muthmainnah Yusron

Akulturasi Indah: Menemukan Makna Bahasa Arab dalam Tradisi Nyadran Jawa

Agama | 2026-02-02 10:23:34

Bantul (MAN 3 Bantul) -- Dalam tradisi spiritual Islam, Sya'ban bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah bulan penyucian diri dan pengangkatan amal. Jika Rajab adalah bulan menanam benih, maka Sya'ban adalah waktu untuk menyiram dan merawatnya, agar kita siap memanen pahala di bulan Ramadan nanti. Tradisi yang lazim digelar dikenal dengan Nyadran.

Tradisi Nyadran dalam gambar ini terasa begitu khidmat dan penuh makna. Sajian makanan yang tersusun rapi di depan jamaah melambangkan rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur. Momen ini bukan sekadar ritual, tetapi juga wujud kuatnya nilai spiritual dan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

Nyadran adalah tradisi masyarakat Jawa berupa kegiatan ziarah makam leluhur yang disertai doa bersama dan kenduri (selamatan). Biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadan atau pada waktu tertentu sesuai adat setempat. Dalam proses Islamisasi di tanah Jawa, kata Nyadran sering kali diserap atau diasosiasikan dengan kata dalam bahasa Arab Ya Daroini (يا دارين). Dalam tradisi lisan beberapa masyarakat santri di Jawa, kata Nyadran tersebut memang juga sering di-ethologi-kan (dihubungkan) dengan kalimat doa bahasa Arab untuk memberikan kedalaman spiritual.

Secara harfiah, Daroini berarti "Dua Rumah" atau "Dua Alam", yaitu alam dunia dan alam akhirat. Kata ini menunjukkan makna bahwa ritual Nyadran adalah bentuk permohonan kepada Allah agar kita, keluarga kita, serta para leluhur yang sudah mendahului, diberikan keselamatan dan kebahagiaan di dua alam tersebut (Fiddunya Hasanah wa fil Akhirati Hasanah). Nyadran menjadi jembatan penghubung doa antara kita yang masih berada di "rumah dunia" dengan mereka yang sudah menempati "rumah akhirat".

Dalam ritual Nyadran terdapat trilogi simbolik, yaitu : Kolak, Ketan, dan Apem. Para ulama terdahulu menggunakan rima kata dari nama makanan untuk mengajarkan konsep Taukid (penguatan iman) dan Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) dengan cara yang sederhana. Selain itu Para ulama tersebut menggunakan makanan ini sebagai media dakwah yang mudah diingat masyarakat karena mengandung doa dalam setiap penyebutannya. Ketiga makanan ini hampir tidak pernah absen dalam tradisi Nyadran yang digelar menjelang Ramadan. yaitu bulan Sya’ban.

Pertama, Kolak (Kulla LakaKhaliq). Selain dihubungkan dengan kata Khaliq, Kolak juga sering dikaitkan dengan ungkapan Kulla laka (kullu laka) yang berarti "Semuanya milik-Mu".

Makna Filosofi ini bahwa bahan utama kolak yang berupa pisang (sering disebut Pisang Kolak) dan ubi mengajarkan kita untuk melepaskan keterikatan duniawi. Saat makan kolak, kita diingatkan bahwa segala apa yang kita miliki akan kembali kepada-Nya.

Kedua, Ketan (Khato’anKhatha’). Kata Ketan berasal dari kata Bahasa Arab Khato'an yang berarti "Kesalahan". Makna Filosofi pada simbol ini bahwa ketan mempunyai tekstur yang sangat lengket, melambangkan betapa "lengketnya" dosa-dosa dan kesalahan pada diri manusia. Untuk melepaskan lengketnya ketan tersebut, ia harus diproses dan dimakan. Begitu pula dosa, ia harus diakui dan dilebur dengan amal saleh serta silaturahmi sebelum memasuki bulan suci.

Ketiga, Apem (AfuwwunAfwan). Apem berasal dari kata Bahasa arab Afuwwun yang berarti "Maaf/Ampunan". Filosofinya adalah Jika Ketan adalah simbol dosanya, maka Apem adalah obatnya. Membagikan apem dalam acara Nyadran adalah simbolisasi dari saling memaafkan sesama manusia dan memohon ampunan kepada Allah. Apem menjadi penutup ritual yang menandakan bahwa hati kita telah "plong" atau bersih karena sudah saling merelakan.

Pesan Spiritual Nyadran secara keseluruhan terdapat pesan dari perpaduan dalam trilogi simbolik (Kolak, Ketan, dan Apem) bahwa melalui momentum Ya Daroini (keselamatan dua alam), kita menyadari bahwa hidup ini milik Allah (Kolak). Kita mengakui segala noda dan dosa yang melekat pada diri (Ketan), sehingga kita datang bersimpuh memohon ampunan (Apem) agar layak memasuki bulan Ramadan. Muthmainnah

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image