Renungan Orang Tua: Keterampilan dan Makna Bekerja dalam Perspektif Syariah dan Realitas Sosial
Agama | 2026-01-28 12:26:20
Peran orang tua dalam mendidik anak tidak hanya terbatas pada akademik. Orang tua wajib mengajarkan keterampilan dasar dan etika kerja agar anak siap menghadapi kehidupan nyata. Keterampilan dasar mencakup kemampuan rumah tangga sederhana, seperti merapikan diri, menjaga kebersihan, dan membantu tugas rumah tangga. Pembiasaan ini penting agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi bergantung pada orang lain di luar rumah.
Keterampilan ini bukan sekadar tugas domestik, tetapi fondasi karakter mandiri. Ketika anak terbiasa melakukan pekerjaan sederhana, mereka belajar bertanggung jawab, disiplin, dan menyelesaikan tugas hingga selesai. Kebiasaan ini sangat berharga saat anak memasuki dunia kerja dan menghadapi tantangan hidup.
Ketika anak memasuki usia kerja, orang tua perlu mengajarkan makna bekerja. Bekerja bukan sekadar mencari uang. Lebih dari itu, bekerja adalah proses membiasakan diri untuk konsisten, jujur, dan bertanggung jawab. Melalui bekerja, seseorang belajar menyelesaikan tugas hingga selesai, bukan hanya demi imbalan. Dalam perspektif agama, bekerja juga ibadah, karena menjadikan seseorang mandiri dan tidak menjadi beban orang lain.
Dalil syar’i memperkuat pemahaman ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. dalam Sunan Abī Dāwūd No. 1641 dan Sunan Ibn Mājah No. 62, Nabi ﷺ menasihati seorang peminta-minta:
“Seorang laki-laki dari Anshar datang kepada Nabi ﷺ dan meminta. Nabi ﷺ bertanya: Apakah engkau tidak mempunyai sesuatu di rumahmu? Laki-laki itu berkata: Ya, selembar kain dan sebuah mangkuk kayu. Nabi ﷺ berkata: Bawakan kepada saya. Ketika dibawakan, Nabi ﷺ menanyakan siapa yang mau membeli hingga dibeli dengan dua dirham. Nabi ﷺ berkata: Belilah makanan dengan satu dirham untuk keluargamu dan belilah kapak dengan yang satu dirham lagi lalu bawakan kepadaku. Setelah kapaknya dipasang, Nabi ﷺ berkata: Pergilah, kumpulkan kayu bakar lalu jual dan saya tidak ingin melihatmu selama dua minggu. Orang itu pun melakukan dan mendapatkan keuntungan sekitar sepuluh dirham. Nabi ﷺ bersabda: Ini lebih baik bagimu daripada meminta kepada orang-orang hingga permintaan itu menjadi noda di wajahmu di Hari Kiamat.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mendorong seseorang memanfaatkan kemampuan yang ada dan bangkit dari ketergantungan meminta-minta. Tujuannya bukan sekadar memberi bantuan materi, tetapi menjaga kehormatan dan martabat manusia melalui kerja.
Dalil lain yang relevan adalah hadis dari Aisyah r.a., dalam Sunan an-Nasā’i No. 4449 dan Shahih al-Bukhari:
“Tidaklah seorang dari kalian makan makanan yang lebih baik daripada makanan yang berasal dari kerja tangannya sendiri.”
Hadis ini menegaskan bahwa usaha dan kerja keras memiliki nilai moral dan agama. Rezeki dari hasil kerja sendiri lebih bermartabat dibanding bergantung belas kasihan orang lain.
Kisah Nabi ﷺ di atas sering disalahpahami sebagai sikap keras. Padahal, Nabi ﷺ menunjukkan kebijaksanaan dalam mengangkat martabat manusia. Selama orang tersebut bekerja, kebutuhan dasarnya tetap dipenuhi Nabi ﷺ dan sahabat, namun bagian ini tidak diceritakan karena kebaikan tidak perlu diumbar. Fokus utama adalah bagaimana Nabi ﷺ mendorong seseorang bangkit, berusaha, dan menjadi mandiri.
Renungan ini relevan di tengah fenomena sosial saat ini, khususnya bagi generasi muda yang terpengaruh virus GMM (Gengsi, Malu, Malas). Gengsi membuat seseorang menilai pekerjaan dari status dan penampilan. Malu membuat seseorang enggan melakukan pekerjaan sederhana, dan malas membuat seseorang enggan memulai proses kerja. Pola hidup instan dan budaya “ingin cepat berhasil” memperkuat virus ini.
Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Pembiasaan keterampilan dasar dan pemahaman makna bekerja menjadi kunci agar generasi muda tidak terjebak pola hidup instan dan tetap menghargai martabat pribadi.
Kesimpulan
Orang tua wajib mengajarkan keterampilan dasar dan makna bekerja sejak dini agar anak menjadi pribadi mandiri, bertanggung jawab, dan bebas dari budaya gengsi, malu, dan malas. Bekerja adalah ibadah mulia yang menjaga kehormatan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
