Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nirwansyah

Kebiasaan Sederhana dan Penguatan Karakter

Pendidikan | 2026-02-16 11:37:45
Ilustrasi: kabarpendidikan.id

Pada 9-11 Februari lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengadakan Konsolidasi Nasional (Konsolnas) untuk kali kedua di era Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dengan mengusung tema “Memperkuat Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Kegiatan yang dihelat di Kompleks Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia, Depok, Jawa Barat ini dihadiri oleh 906 pemangku kepentingan lintas sektor. Mulai dari kepala dinas pendidikan se-Indonesia hingga organisasi profesi dan kemasyarakatan.

Konsolnas Dikdasmen menjadi wadah strategis dan wujud partisipasi semesta dalam menavigasi pendidikan nasional ke arah pendidikan bermutu untuk semua. Forum ini lebih dari sekadar momentum untuk menyamakan persepsi, melainkan juga menjadi ruang untuk menyusun kerangka kerja bersama sekaligus meneguhkan komitmen agar sembilan kebijakan prioritas pendidikan nasional tercapai secara optimal.

Salah satu dari sembilan kebijakan prioritas pendidikan nasional itu adalah pendidikan karakter. Dalam sambutannya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pengembangan kompetensi murid tidak boleh hanya dilakukan pada sisi akademiknya saja, tetapi juga karakternya. Dalam rangka itu, Kemendikdasmen telah meluncurkan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Yaitu, bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

“Kebiasaan-kebiasaan sederhana,” ujar Abdul Mu’ti, “namun jika dilakukan secara terus-menerus akan mampu membawa anak-anak Indonesia menjadi anak-anak hebat di masa yang akan datang.” Mu’ti mengatakan, per tahun ini tercatat 170.870 satuan pendidikan telah berpartisipasi dalam gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat atau 7 KAIH. Kemendikdasmen berkomitmen akan terus melakukan upaya perluasan penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat demi mencetak profil peserta didik yang berkarakter, berintegritas, tangguh, sehat, dan kreatif untuk menghadapi tantangan masa depan.

Tak lama setelah gerakan ini resmi diluncurkan pada 27 Desember 2024, beragam respons bermunculan. Ada yang mencibir kebijakan ini hanya sekadar memberi stempel nama atau istilah belaka. Ada pula yang berkomentar bahwasannya kebiasaan-kebiasaan tersebut memang sudah terlaksana di berbagai satuan pendidikan selama ini jauh sebelum diberikan istilah atau stempel oleh pemerintah. Singkatnya, peluncuran gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dianggap oleh sebagian pihak tidak terlalu menyentuh akar persoalan dalam penguatan pendidikan karakter.

Akan tetapi, juga tak sedikit yang menanggapi positif Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai satu dari sekian banyak upaya dalam membentuk karakter anak bangsa. Menurut Haidar Bagir dalam Pendidikan Bermutu untuk Semua: Menggali Pokok-pokok Pikiran Abdul Mu’ti (2025), di tengah budaya hedon dan flexing yang menjangkiti masyarakat Indonesia, Abdul Mu’ti justru mencontohkan pentingnya karakter kesederhanaan. Misalnya, saat sertijab beliau sebagai Mendikdasmen yang kala itu dihadiri oleh ibunda tercinta.

Kemudian Kemendikdasmen memformulasikannya ke dalam Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Bagir menilai jika dicermati “7 KAIH tersebut merupakan hal yang sederhana dan mudah dilakukan. Namun, kita sering terlewat untuk menyadari manfaat besarnya sehingga terkadang hal-hal tersebut tidak menjadi perhatian dalam pola asuh di rumah maupun pola didik di sekolah.”

“Di tangan Abdul Mu’ti,” Bagir melanjutkan, “hal-hal yang tampaknya sederhana: digali lagi, disistematisasikan, diberi konteks, sehingga akan berdampak pada pengembangan anak Indonesia yang berkarakter.” Dengan kata lain, Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat beresonansi dengan Atomic Habits-nya James Clear, yakni perubahan kecil yang memberikan dampak luar biasa apabila dilakukan secara berkelanjutan.

Akhirnya, semua tentu bersepakat akan pentingnya penguatan karakter. Sebab, ia menjadi fondasi yang menentukan bagaimana pengetahuan dan keterampilan digunakan: untuk membangun atau menghancurkan, untuk melayani atau menindas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image