Rajab dan Isra Mikraj, Momen Membumikan Hukum Langit
Sejarah | 2026-01-25 11:35:50
Oleh: Nisa Kholifah, M.Pd
Bulan Rajab dan peristiwa Isra Mikraj merupakan momen yang agung dalam sejarah Islam. Pada bulan ini, kaum Muslim di berbagai belahan dunia berlomba meningkatkan ibadah dan amal saleh, serta memperingatinya sebagai peristiwa istimewa yang sarat makna. Isra Mikraj dikenal sebagai perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu dari Allah SWT, yang terjadi sekitar tahun 620 hingga 621 Masehi.
Namun, terdapat rangkaian peristiwa penting pasca Isra Mikraj yang kerap luput dari perhatian, yakni baiat kepada Rasulullah saw. Sejarah mencatat terjadinya Baiat Aqabah pertama dan kedua. Pada musim haji, enam orang pemuda dari Yatsrib datang menemui Rasulullah saw dan menyatakan keimanan mereka. Jumlah ini kemudian bertambah hingga puluhan orang. Sekitar tujuh puluh dua orang dari Yatsrib mendatangi Rasulullah saw di Makkah untuk menyatakan kesetiaan, melindungi beliau, serta siap menanggung konsekuensi dari keimanan mereka. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan hijrahnya Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Isra Mikraj bukan hanya momentum spiritual yang menegaskan kebesaran Allah SWT, tetapi juga menjadi pintu perubahan sosial dan politik yang besar. Kedatangan penduduk Yatsrib kepada Rasulullah saw mencerminkan kesiapan mereka untuk diatur oleh Islam secara menyeluruh, baik dalam aspek ibadah maupun tata kehidupan bermasyarakat.
Selama berabad abad, Islam pernah memimpin peradaban dunia dengan penerapan hukum Allah secara menyeluruh. Namun, setelah runtuhnya Khilafah lebih dari satu abad yang lalu, umat Islam tidak lagi memiliki kepemimpinan global yang mampu menerapkan syariat Islam secara utuh. Akibatnya, hukum yang bersumber dari wahyu semakin tersisih dari pengaturan kehidupan.
Sebagian masyarakat memahami Isra Mikraj semata sebagai peristiwa diwajibkannya salat sebagai ibadah ritual. Padahal, dalam banyak penjelasan ulama, salat juga menjadi simbol ditegakkannya hukum Allah. Menegakkan salat bukan hanya berarti menjalankan ibadah individu, tetapi juga menjaga agar aturan Allah tetap menjadi pedoman dalam kehidupan.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa sistem sekuler demokrasi yang mendominasi dunia telah menjauhkan manusia dari hukum Allah. Syariat kerap dipersempit maknanya hanya pada ranah ibadah personal, sementara aspek kehidupan lain diatur dengan hukum buatan manusia. Ketika syariat tidak diterapkan secara menyeluruh, berbagai krisis pun muncul, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, maupun kemanusiaan. Kondisi ini telah dirasakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Runtuhnya Khilafah lebih dari satu abad yang lalu seharusnya menjadi peringatan besar bagi umat Islam. Islam bukan hanya ajaran spiritual, tetapi juga sebuah ideologi yang mengatur kehidupan. Keruntuhan Khilafah Utsmani menjadi bukti hilangnya kepemimpinan Islam secara universal, yang kala itu bahkan mengejutkan rakyat Turki karena perubahan hukum Islam menjadi hukum sekuler.
Sejak saat itu, dunia berada di bawah dominasi kepemimpinan kapitalisme global. Namun, banyak masyarakat belum sepenuhnya menyadari dampak kerusakan yang ditimbulkan dan masih meyakini bahwa sistem yang ada saat ini merupakan sistem terbaik. Oleh karena itu, tugas dakwah umat Islam adalah menyampaikan ajaran Islam secara benar dan menyeluruh, agar umat memahami urgensi hadirnya kembali kepemimpinan Islam yang adil dan bertanggung jawab.
Bulan Rajab dan peristiwa Isra Mikraj seharusnya menjadi momentum untuk kembali membumikan hukum Allah, bukan sekadar diperingati sebagai peristiwa sejarah penerimaan salat lima waktu. Syariat Islam perlu dipahami dan diperjuangkan penerapannya dalam seluruh aspek kehidupan, baik pada level individu, masyarakat, maupun negara.
Berbagai konflik dan penindasan yang menimpa umat Islam di berbagai wilayah dunia, termasuk di Palestina yang memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa Isra Mikraj, seharusnya menggugah kesadaran kolektif umat. Perpecahan di negeri negeri Muslim dan penderitaan kaum Muslim minoritas di berbagai negara menunjukkan pentingnya persatuan umat dalam bingkai Islam.
Umat Islam memiliki sejarah panjang peradaban dan kepemimpinan yang gemilang. Dengan keyakinan, kesadaran, dan perjuangan yang terarah, umat Islam diyakini mampu kembali meraih kemuliaan dengan menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan. Upaya ini membutuhkan kesungguhan dakwah, pembinaan umat, dan kesabaran dalam memperjuangkan nilai nilai Islam secara damai dan bermartabat.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad tentang tahapan kepemimpinan dalam sejarah umat, harapan akan kembalinya kepemimpinan yang berjalan di atas manhaj kenabian tetap terbuka. Hadis ini menjadi penguat optimisme umat Islam bahwa masa depan Islam tetap berada dalam naungan rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
