Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image SAEPANI universitas Pamulang

Kecerdasan Buatan: Kemudahan yang Diam-Diam Mengikis Kendali Manusia

Teknologi | 2026-01-24 17:37:10

Oleh: Saepani

Kecerdasan buatan kini hadir hampir di setiap sudut kehidupan. Dari rekomendasi konten, koreksi tulisan, hingga pengambilan keputusan berbasis data, AI menjanjikan efisiensi dan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, di balik kenyamanan itu, tersimpan persoalan mendasar: siapa sebenarnya yang memegang kendali—manusia atau mesin?

Kecerdasan Buatan (AI), Sumber: Pinterest

Dalam aktivitas sehari-hari, masyarakat semakin bergantung pada sistem otomatis. Keputusan yang dulu lahir dari pertimbangan manusia kini diserahkan pada algoritma. Masalahnya, algoritma tidak netral. Ia dibangun dari data, kepentingan, dan nilai yang tidak selalu transparan. Ketika AI menentukan apa yang kita baca, tonton, bahkan percayai, maka ruang kebebasan berpikir perlahan menyempit.

Masalah privasi alarm menjadi paling nyata. Data pribadi dikumpulkan, dianalisis, dan dibayangkan tanpa kesadaran seluruh pemiliknya. Ironisnya, banyak pengguna merasa “tidak masalah” selama layanan tetap gratis dan praktis. Padahal, ketika data menjadi komoditas, manusia berisiko direduksi menjadi sekadar objek pasar digital.

Di dunia kerja, otomatisasi berbasis AI juga menghadirkan dilema. Efisiensi meningkat, tetapi peluang kerja menyempit bagi kelompok tertentu. Tanpa kebijakan yang adil, kecerdasan buatan justru dapat memperlebar batas sosial. Teknologi yang seharusnya membantu manusia, berubah menjadi alat seleksi yang kejam.

Sayangnya, literasi digital masyarakat belum sejalan dengan laju perkembangan teknologi. AI digunakan secara masif, namun dipahami secara dangkal. Banyak yang memanfaatkannya, sedikit yang menyingkapnya. Padahal, tanpa kesadaran kritis, kecerdasan buatan bisa menjadi kekuatan yang mengendalikan, bukan mengendalikan.

Negara tidak boleh hanya menjadi penonton. Regulasi etika AI harus hadir sebagai pagar, bukan penghambat. Tujuannya jelas: memastikan teknologi berkembang untuk kesejahteraan, bukan sebaliknya. Pendidikan literasi digital pun perlu diperkuat, agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga subjek yang sadar dan berdaulat.

Kecerdasan buatan bukan musuh. Namun, tanpa kendali moral, hukum, dan kesadaran sosial, ia berpotensi menjadi kekuatan yang mengikis otonomi manusia secara perlahan—tanpa kita sadari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image