Peran AI dalam Monitoring, Perawatan, dan Pelestarian Hewan
Teknologi | 2026-01-25 12:25:23Oleh: Maziyah Zahroul Wardah
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin sering disebut sebagai jawaban atas berbagai permasalahan global, termasuk dalam urusan lingkungan dan pelestarian hewan. Teknologi seperti kamera pintar, drone, dan sistem analisis data kini digunakan untuk mengkonservasi populasi satwa, mendeteksi perburuan liar, hingga membaca pola perilaku hewan di habitat alaminya. Namun, di balik kemajuan tersebut, ada ruang kritik yang tidak boleh diabaikan.
Hewan dalam Bingkai Data
AI bekerja dengan mengubah kehidupan menjadi data. Gerak hewan direkam, suara dianalisis, dan keberadaan mereka dicatat dalam angka serta grafik. Pendekatan ini memang membantu pemantauan dalam skala besar tanpa harus selalu melibatkan kehadiran manusia di lapangan. Gangguan terhadap habitat dapat ditekan, sementara informasi diperoleh lebih cepat.
Namun, permasalahan muncul. Ketika hewan terlalu lama dipandang sebagai objek data, ada risiko hilangnya pemahaman bahwa mereka adalah makhluk hidup dengan insting, relasi, dan pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa diterjemahkan oleh algoritma. Teknologi yang seharusnya membantu justru bisa menciptakan jarak emosional antara manusia dan alam.
Perawatan Hewan: Efisien tapi Tidak Netral
Dalam konteks perawatan, AI menawarkan deteksi dini penyakit, pemantauan stres, dan rekomendasi perawatan berdasarkan pola data. Di pusat rehabilitasi dan peternakan berukuran besar, sistem ini jelas membantu keterbatasan tenaga dan waktu.
Namun perawatan hewan tidak hanya soal efisiensi. Ia juga soal kepekaan, pengalaman, dan empati manusia. Ketika keputusan terlalu bergantung pada mesin, perawatan berisiko berubah menjadi proses mekanis yang kehilangan nilai kemanusiaan. AI bisa membaca data, tetapi tidak bisa merasakan penderitaan.
Pelestarian Satwa dan Ilusi Solusi Teknologi
AI sering diposisikan sebagai penyelamat satwa langka. Model prediktif digunakan untuk memetakan risiko kepunahan dan perubahan habitat. Namun, kerusakan lingkungan bukan disebabkan oleh kurangnya teknologi, melainkan oleh pola eksploitasi manusia.
Tanpa perubahan sikap dan kebijakan, AI hanya akan menjadi solusi semu. Teknologi mungkin mampu memadukan kepunahan, namun tidak menghentikan jika akar masalah—keserakahan dan abainya manusia—tidak disentuh.
Menempatkan AI Secara Bijak
AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pusat kendali. Pelestarian hewan membutuhkan teknologi yang dikawal oleh etika, kebijakan, dan empati. Jika tidak, AI berpotensi menjadi wajah baru dominasi manusia atas alam, kali ini dalam bentuk digital.
Pada akhirnya, masa depan hewan tidak ditentukan oleh seberapa canggih algoritma yang diciptakan, melainkan oleh seberapa besar kesediaan manusia untuk bertanggung jawab atas teknologi yang ia gunakan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
