Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Aini

Mulianya Kedudukan Guru dan Murid

Agama | 2026-01-24 14:55:04

Guru dan murid, orang yang mengajarkan ilmu dan orang yang menuntut ilmu mempunyai kedudukan yang sangat istimewa sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quran Surah Al-Mujādalah ayat 11 yang artinya : Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Ya, Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. Tidak hanya itu, pujian akan kebaikan para pengajar dan penuntut ilmu juga disampaikan di beberapa hadits Rasulullah SAW. Di antaranya adalah :

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Sesungguhnya Allah, para Malaikat, serta seluruh penghuni langit dan bumi hingga semut dalam sarangnya dan ikan-ikan di lautan, benar-benar selalu mendoakan para pengajar kebaikan kepada manusia. (HR At-Tirmidzi).

Itulah pandangan islam terhadap para pengajar yaitu guru, dan para penuntut ilmu, yaitu murid atau siswa.

Apapun hasilnya, apakah guru bisa mencetak siswa berprestasi atau tidak apakah siswa akan sukses kelak dalam kehidupannya, mengajarkan ilmu dan menuntut ilmu adalah perkara mulia. Demikianlah pandangan Islam, maka tak heran menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, sehingga menjadi sebuah keharusan bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh mengajarkan ilmu dan semangat menuntut ilmu. Dengan kemuliaan yang dimiliki oleh guru dan siswa, maka seharusnya menjadi cerminan sikap yang juga selayaknya dimiliki guru dan murid, yaitu menghiasi perilakunya dengan akhlak mulia senantiasa terikat dengan syariat. Tidak mudah melakukan kemaksiatan meski dalam ucapan dan tindakan.

Namun ironi yang terjadi di negeri ini, perseteruan guru dan siswa terus saja ada. Yang terakhir viral seorang guru dikeroyok siswanya, guru kecewa dengan sikap siswa, siswa muak dengan perilaku sang guru. Sungguh marwah yang seolah tidak terdapat dalam perilaku manusia yang mendapat predikat mulia.

Selayaknya menjadi renungan bersama, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia namun suasananya sangat jauh dari cerminan akhlak mulia, sungguh dahsyat daya rusak pemikiran sekular di negeri ini. Beragama namun abai dengan aturan agama, karena itulah prinsip kehidupan sistem sekular, pemisahan aturan agama dengan kehidupan.

Aturan islam begitu mudah diabaikan. Pendidikan yang sebatas kepentingan bisnis, guru yang terjebak kehidupan materialistik siswa yang mengagungkan kebebasan, ditambah dengan kebijakan negara yang lepas tangan dari tanggung jawab sebagai pelayan rakyat. Pendidikan dan kesehatan yang seharusnya dinikmati secara gratis atau murah dijadikan kadang bisnis, SDA yang seharusnya dikelola untuk dikembalikan kepada rakyat diserahkan pada korporat swasta. Jadilah rakyat berjuang dalam sistem yang hanya berpihak pada para pemilik modal.

Sistem kehidupan yang abai dengan aturan Allah ini merusak seluruh sendi kehidupan. Akibatnya moral rusak seolah sangat mudah dijumpai. Termasuk dalam dunia pendidikan.

Negeri ini butuh perubahan menyeluruh, butuh perubahan paradigma berpikir dan perubahan sistemik. Aturan yang serba kapitalis telah menggerus kemuliaan para guru dan siswa, merusak moral anak bangsa.

Negeri ini membutuhkan sistem yang memuliakan manusia sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu untuk tunduk pada aturan Allah SWT. Sistem itu adalah sistem khilafah islam, warisan Rasulullah SAW yang diteruskan para khalifah, siatem yang terbukti melahirkan peradaban gemilang di semua bidang. Melahirkan manusia mulia dan sejahtera, bersungguh-sungguh menjalani kehidupan dunia, semangat mencari bekal akhirat. Oleh karena itu perjuangan dan dakwah dalam rangka menyampaikan sistem islam ini juga mutlak diperlukan, agar umat manusia paham dan tahu kewajiban menerapkan islam kaffah, agar umat tergambar kemuliaan hidup dalam naungan syariat islam yang pasti menjadi rahmat untuk seluruh alam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image