Ujian Kedewasaan
Kolom | 2026-01-24 07:09:04
Maiyah agaknya tidak hadir ujug-ujug sebagai jawaban. Ia datang sebagai pertanyaan yang terus hidup, prosesnya adalah sinahu bareng, melingkar bersama, tidak ada guru atau siswa, jika anggapannya adalah guru dan murid, maka semua memiliki posisi yang sama. Di tengah kondisi kehidupan “modern” – yang gemar kepastian instan, siapa benar dan siapa salah, siapa kawan dan siapa lawan maiyah justru menawarkan jeda; “mari duduk dulu, dengar dulu, pahami dulu.” Masalah terbesar manusia bukan pada kurangnya solusi, melainkan cara berpikir yang tergesa dan emosi yang terburu-buru.
Saat melingkar maiyahan, kita tidak dilatih untuk cepat menyimpulkan, tetapi untuk tahan banting dan senantiasa mengukur ketidakpastian. Tidak semua kegelisahan harus segera diselesaikan. Tidak semua persoalan harus ditutup dengan slogan, apalagi kesan nggampangne. Sebagian justru perlu dibiarkan terbuka, agar senantiasa tidak kehilangan kejujuran pada kompleksitas hidup itu sendiri. Segala sesuatu senantiasa mengalami prosesnya, tidak mak bedunduk begitu saja.
Proses kehidupan ini butuh ruang alternatif, maiyah menyajikan alternatif itu. Ia bukan lembaga, bukan partai, bukan ormas. Ia adalah peristiwa pertemuan manusia dengan manusia, akal dengan rasa, iman dengan realitas. Ia hidup dari kehadiran, bukan dari struktur. Dari percakapan, bukan dari keputusan. Maka sejak awal, relasinya dengan negara pun tidak pernah abu-abu, jelas cetto welo-welo apa anane.
Negara tidak disembah, tidak pula dimusuhi. Negara diperlakukan apa adanya sebagai sebuah sistem buatan manusia, yang bisa adil, bisa keliru, bisa sehat, bisa sakit. Negara adalah alat, bukan tujuan. Ia perlu, tetapi tidak absolut. Kebijakannya harus dihormati, tetapi juga perlu dikritisi, wong kita juragannya. Secara umum, memandang negara atau apapun saja yang dibutuhkan adalah cara pandang, sudut pandang, jarak pandang dan energinya, walaupun sangat sulit dijaga dan diistiqamahi di tengah budaya politik yang gemar kebakaran jenggot, dan sangat emosional.
Agaknya, memang tidak sedikit yang salah paham, apalagi dengan “maiyah”. Mereka menyangka maiyah harus selalu berada “di luar”, selalu berjarak, selalu kritis dari kejauhan. Seolah kedekatan dengan realitas negara otomatis mencemari kesucian moral. Padahal, jika jujur pada sejarahnya, Maiyah lebih tepat disebut ruang kewarasan, kontrol yang paling dekat, bukan posisi politik. Ia tidak sibuk menentukan di mana harus berdiri, melainkan bagaimana cara berdiri sebagai manusia, sebagai problem solver, paling tidak bagi dirinya sendiri. Bukankah kanjeng Nabi Muhammad adalah uswah yang senantiasa menjadi panutan dalam kebijakan dan cara berpikir yang solutif.
Kalau konteksnya resistensi, maka maiyah tidak mengajari orang untuk selalu melawan, juga tidak mendidik kepatuhan membabi buta. Ia melatih sesuatu yang lebih jarang, bahkan hilang; kedewasaan batin dalam membaca kekuasaan, sama sekali tidak tergantung sosok dan taqlid buta (kita kerap mendengar dawuh mbah Nun tentang kedaulatan toh). Sebab kekuasaan tidak selalu datang sebagai tirani. Kadang ia hadir sebagai tawaran baik, niat mulia, atau kesempatan berkontribusi. Dan di situlah ujian sebenarnya dimulai.
Gejolak ujian kedewasaan itu mulai terasa ketika figur yang selama ini identik dengan ekosistem maiyah yaitu Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh masuk ke dalam sistem negara sebagai tenaga ahli. Reaksi publik pun berlapis-lapis, beragam; ada yang kecewa, ada yang marah, ada yang membela mati-matian, ada pula yang diam dengan kegelisahan sendiri. Disadari atau tidak, yang menarik justru hampir semua respons itu berbicara atas nama maiyah.
Tapi Husnudzon saya bukan pada Sabrang yang “masuk sistem”. Justru agaknya masalahnya adalah cara kita memaknai maiyah. Apakah maiyah kita pahami sebagai spirit yang merdeka, atau sebagai identitas moral yang harus steril dari realitas kekuasaan? Apakah maiyah adalah jalan berpikir, atau sekadar tempat berlindung dari kekecewaan pada negara?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena tanpa sadar banyak orang telah menjadikan maiyah sebagai semacam pagar psikologis, sebagai tempat aman dari keruwetan politik, dari kebisingan negara, dari kompromi realitas, walaupun kadang tanpa disadari masuk juga pada dinamika dan dialektikanya (tetap suka yang ruwet-ruwet). Ketika pagar besar itu terasa “retak”, kekecewaan pun meledak. Bukan karena peristiwanya semata, tetapi karena harapan yang terlalu disederhanakan, sederhananya terjebak pada ekspektasi kita sendiri.
Banyak yang lupa bahwa maiyah tidak pernah mengajarkan sikap anti-negara, kritis wajib, tapi tawarkan solusi yang solutif. Yang dikaji dan disinahoni adalah anti penyederhanaan, aja nggumunan. Anti kesimpulan instan. Anti penghakiman tanpa pemahaman. Maka ketika seseorang masuk ke dalam sistem, pertanyaan yang mencerminkan maiyah seharusnya bukan, “Apakah ini pengkhianatan?” melainkan, “Bagaimana sistem ini bekerja, dan apa yang bisa, atau tidak bisa diubah dari dalamnya?”, “Tawaran apa, dan bagaimana pengelolaan yang seharusnya diterima oleh pemerintah, pejabat-pejabat itu, agar kebijakannya memang tertuju untuk kepentingan masyarakat, tidak tendensius pada kepentingan partai seperti pada umumnya?”.
Pertanyaan semacam ini tidak emosional, tetapi juga tidak dingin. Ia menuntut kesabaran berpikir, epistimologis dan axiologisnya jelas. Ia menuntut keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hal bisa dinilai dari jarak jauh. Ada wilayah abu-abu yang hanya bisa dipahami jika kita bersedia masuk, melihat dari dekat, lalu tetap menjaga jarak batin.
Di sinilah pentingnya membedakan antara orang, peran, dan nilai. Sabrang sebagai individu adalah warga negara, dengan hak dan tanggung jawab yang sama seperti warga lainnya. Sabrang sebagai tenaga ahli adalah fungsi teknis, bukan pemegang kuasa mutlak. Ia memberi masukan, bukan menentukan arah. Sementara Sabrang sebagai bagian dari figur dalam maiyah tidak otomatis menjadikan maiyah sebagai alat negara.
Jika semua itu dicampuradukkan, yang terjadi bukan kritik, melainkan kegaduhan simbolik. Kita sibuk memperdebatkan makna, tetapi lupa memeriksa mekanisme. Kita ramai menilai niat, tetapi malas menunggu proses. Padahal, spirit Maiyah justru bekerja di wilayah proses, bukan di hasil instan.
Maiyah sendiri tidak pernah membangun diri sebagai ruang yang bebas konflik. Justru sebaliknya, ia adalah latihan menghadapi konflik tanpa kehilangan akal dan adab. Konflik hari ini tentang figur maiyah yang masuk sistem adalah ujian kolektif, ujian kedewasaan berpikir; sejauh mana jamaah maiyah mampu tetap setia pada etosnya sendiri, kedaulatan dan cara berpikir yang terus ditumbuh kembangkan.
Etos itu sederhana tapi berat, bentuknya adalah menunda vonis, tidak ujug-ujug menghakimi, merawat nalar, dan menjaga kemanusiaan. Masuk ke sistem tidak selalu berarti larut dalam sistem. Sejarah menunjukkan, perubahan bisa datang dari luar, tapi juga bisa muncul dari ketegangan di dalam. Namun maiyah tidak pernah menjanjikan hasil, dalam sinahu tentu yang dituntut adalah kejujuran proses. Tidak ada jaminan seseorang yang masuk sistem akan berhasil membawa nilai-nilai yang ia yakini. Tapi juga tidak ada kepastian bahwa menjauh dari sistem otomatis lebih suci.
Hidup bukan soal memilih posisi paling aman secara moral, melainkan berani bertanggung jawab atas pilihan yang diambil, lengkap dengan risiko dan kritiknya. Kesucian yang tidak diuji realitas sering kali hanyalah ilusi kenyamanan.
Yang sering luput disadari adalah polemik ini lebih banyak menguji jamaah maiyah daripada tokohnya. Apakah kita masih bisa berpikir tanpa mengidolakan? Apakah kita sanggup mengkritik tanpa membenci? Apakah kita mampu menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai idealisme moral kita?
Maiyah, jika setia pada dirinya sendiri, tidak akan runtuh oleh satu keputusan individu. Ia justru hidup ketika para pengikutnya tidak menggantungkan makna pada satu sosok. Karena sejak awal, maiyah bukan tentang siapa yang bicara, tetapi bagaimana cara mendengar dan berpikir bersama. Sinahu terus tentang mendengar sebaik-baiknya.
Mungkin di situlah filosofi maiyah yang paling sunyi tapi paling radikal, bahwa kedewasaan bukan ditandai oleh keberpihakan yang lantang, melainkan oleh kemampuan bertahan di wilayah abu-abu tanpa kehilangan nurani. Di zaman yang gaduh oleh kepastian palsu, sikap seperti itu meski tidak viral, meski tidak heroic justru menjadi bentuk tanggung jawab paling manusiawi. Wallahu a’lam.[]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
