Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Liincemedia

Pola Angka dalam Mushaf Al-Quran 18 Baris: Sebuah Pembacaan Struktural-Reflektif

Agama | 2026-01-23 18:39:42
Foto gambar Al Qur'an (Sumber: Dock pribadi/Berlian)

Al-Qur’an sebagai mushaf tertulis tidak hanya hadir dalam satu bentuk penulisan. Dalam praktiknya, terdapat berbagai variasi mushaf, antara lain berdasarkan jumlah baris per halaman, seperti mushaf 25 baris, 20 baris, dan 18 baris. Perbedaan ini bukan menyangkut isi wahyu, melainkan aspek teknis penulisan dan penyusunan teks.

Pada tahun 2024, penulis menemukan fenomena menarik terkait mushaf Al-Qur’an 18 baris di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dari pengamatan sederhana terhadap susunan halaman awal mushaf tersebut, tampak adanya keteraturan angka yang dapat dibaca secara simbolik dan reflektif.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai tafsir Al-Qur’an, apalagi sebagai klaim kemukjizatan matematis yang bersifat pasti. Kajian ini merupakan pembacaan struktural-reflektif, yakni upaya kontemplatif untuk melihat keteraturan angka sebagai bagian dari keindahan susunan mushaf dan sarana merenungkan kedalaman makna Al-Qur’an.

Objek dan Metode Pengamatan

Objek pengamatan difokuskan pada mushaf Al-Qur’an cetakan 18 baris, khususnya halaman 2 dan 3, yang memuat Surah Al-Fatihah dan awal Surah Al-Baqarah.

Elemen numerik yang diamati meliputi:

  • Nomor halaman
  • Jumlah baris penulisan ayat
  • Jumlah ayat pada masing-masing halaman

Pada halaman 2 dan 3, ditemukan data sebagai berikut:

  • Angka 6: jumlah baris penulisan ayat pada halaman 2
  • Angka 2: nomor halaman 2
  • Angka 3: nomor halaman 3
  • Angka 6: jumlah baris penulisan ayat pada halaman 3
  • Angka 7: jumlah ayat Surah Al-Fatihah (halaman 2)
  • Angka 4: jumlah ayat awal Surah Al-Baqarah (halaman 3)

Angka-angka ini kemudian dibaca melalui pendekatan numerik sederhana, seperti penggabungan, penjumlahan, dan pemangkatan, semata-mata sebagai alat bantu refleksi, bukan sebagai metode ilmiah eksak.

Pola Angka yang Muncul

Dari pengolahan sederhana terhadap unsur-unsur tersebut, muncul sejumlah angka, antara lain:

  • 23 dan 32
  • 47 dan 74
  • 6236
  • 114
  • 30

Angka-angka ini kemudian dibaca secara simbolik dengan mengaitkannya pada struktur internal Al-Qur’an, seperti nomor surah, jumlah ayat, dan pembagian juz.

Makna Simbolik Angka 23 dan 32

Angka 23 dan 32 diperoleh dari kombinasi nomor halaman 2 dan 3.

Angka 23 merujuk pada Surah Al-Mu’minun, yang bermakna “orang-orang yang beriman.” Angka 32 merujuk pada Surah As-Sajdah, yang bermakna “sujud.”

Secara reflektif, keterkaitan ini dapat dipahami sebagai isyarat bahwa sejak halaman-halaman awal mushaf, Al-Qur’an telah mengarahkan pembacanya pada dua sikap fundamental: iman dan ketundukan. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan juga perjalanan spiritual menuju kepatuhan kepada Allah.

Makna Simbolik Angka 47 dan 74

Angka 47 dan 74 berasal dari penggabungan jumlah ayat pada halaman 2 dan 3, yakni 7 dan 4.

Angka 47 merujuk pada Surah Muhammad, yang mengingatkan bahwa Al-Qur’an merupakan risalah yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw. Dalam tradisi Islam, Nabi sering disebut sebagai representasi akhlak Al-Qur’an, karena kehidupannya mencerminkan nilai-nilai wahyu.

Angka 74 merujuk pada Surah Al-Muddatsir, yang berarti “orang yang berselimut.” Secara simbolik, hal ini dapat dimaknai bahwa wahyu ilahi disampaikan melalui bahasa manusia, dan ketika mushaf dibuka serta dibaca, selubung makna itu perlahan tersingkap.

Angka 6236 dan Totalitas Al-Qur’an

Angka 6236 secara umum dikenal sebagai jumlah ayat Al-Qur’an menurut riwayat yang banyak digunakan.

Dalam pengamatan ini, angka tersebut dibentuk dari susunan:

  • 6 (baris ayat halaman 2)
  • 2 (nomor halaman 2)
  • 3 (nomor halaman 3)
  • 6 (baris ayat halaman 3)

Keempat angka ini membentuk satu rangkaian utuh. Secara simbolik, susunan tersebut dapat dibaca sebagai gambaran keterpaduan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan petunjuk. Penulis memaknainya secara reflektif menyerupai gerakan melingkar, yang mengingatkan pada thawaf sebagai simbol ketundukan dan pemusatan diri kepada Allah.

Angka 114 dan Struktur Surah

Angka 114 menunjukkan jumlah surah dalam Al-Qur’an.

Pola ini diperoleh melalui:

  • [7^2 = 49] (jumlah ayat Al-Fatihah dipangkatkan dengan nomor halaman 2)
  • [4^3 = 64] (jumlah ayat awal Al-Baqarah dipangkatkan dengan nomor halaman 3)
  • Ditambah angka 1 sebagai halaman pembuka mushaf.

Sehingga diperoleh: [49 + 64 + 1 = 114.]

Meskipun halaman pertama tidak memuat ayat, keberadaannya tetap penting sebagai gerbang pembuka mushaf, sehingga secara simbolik tetap dihitung sebagai bagian dari struktur keseluruhan Al-Qur’an.

Angka 30 dan Pembagian Juz

Angka 30 merepresentasikan jumlah juz dalam Al-Qur’an.

Jika dijumlahkan nomor ayat Surah Al-Fatihah (1 hingga 7), diperoleh angka 28. Ketika ditambahkan dengan nomor halaman 2, hasilnya menjadi 30.

Angka ini juga memiliki kedekatan simbolik dengan Juz 30, yang berisi surah-surah pendek dan menjadi bagian yang paling sering dibaca dalam praktik ibadah sehari-hari.

Sementara itu, pada halaman 3, penjumlahan nomor ayat awal Surah Al-Baqarah (1 hingga 4) menghasilkan angka 10, yang jika ditambahkan dengan nomor halaman 3 menjadi 13. Angka ini dapat dibaca secara simbolik sebagai pengingat unsur-unsur pokok dalam praktik shalat.

Pembacaan terhadap mushaf Al-Qur’an 18 baris, khususnya pada halaman 2 dan 3, menunjukkan adanya keteraturan angka yang menarik untuk direnungkan. Angka-angka seperti 23, 32, 47, 74, 6236, 114, dan 30 dapat dibaca sebagai simbol yang mengaitkan struktur mushaf dengan praktik dan nilai-nilai ajaran Islam.

Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan tafsir Al-Qur’an, melainkan sebagai sarana kontemplasi agar pembaca semakin menyadari keindahan, keteraturan, dan kedalaman Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk.

Biodata Singkat Penulis

Berlian adalah penulis asal Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Ia menempuh pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas April.Ia telah menerbitkan beberapa buku, antara lain Fatwa Semesta (2023), Arus Rasa dari Sang Pencipta (antologi, 2023), Jalan Kesempurnaan (2024), dan Aku Itu Dia, Kupu-Kupu di Sumedang Larang 1 (2025). Ia juga terlibat sebagai penulis dalam beberapa antologi tingkat nasional, seperti Ya Tuhan, Mudahkan Prosesnya, Ruang Kecil Bernama Keluarga, dan Hari Ini Berat, Besok Mungkin Lebih Indah (2025).

Selain aktif menulis, Berlian juga menerima dan mengerjakan pesanan gambar serta lukisan, serta meraih sejumlah prestasi literasi dan akademik tingkat nasional.

Penulis: Berlian

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image