Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Winda K

Isra' Mi'raj: Dari Mihrab ke Jalan Perubahan

Agama | 2026-01-15 21:07:19

Tanggal 16 Januari 2026 / 27 Rajab 1447 ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional Isra' Mi'raj melalui SKB Tiga Menteri. Hari istimewa ini memberi ruang bagi umat Islam untuk menambah amal ibadah, menghadiri majelis ilmu, dan merajut kebersamaan keluarga dalam atmosfer yang sarat berkah ( liputan6.com) Rajab dan Isra’ Mi'raj adalah peristiwa istimewa yang selalu lekat di ingatan umat Islam sebagai perjalanan suci Nabi Muhammad SAW menuju langit, di mana salah satu hal penting beliau menerima amanah shalat sebagai kewajiban pokok bagi seluruh umat Islam.

Sejak dahulu hingga kini, ada yang menolak mempercayai Isra’ Mi’raj. Dengan akal semata mereka menilai, mustahil manusia menempuh perjalanan luar biasa hanya dalam semalam. Apalagi kisah perjumpaan Rasulullah dengan para nabi di langit, serta pandangan tentang surga dan neraka. Tetapi seorang mukmin yakin sepenuh hati: Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Bahkan jika ada peristiwa yang lebih dahsyat dan lebih sulit diterima nalar, ia tetap percaya, sebab bagi Allah, segala hal adalah mudah. Keimanan akan hal ini tidak lain karena Allah telah berfirman :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Artinya : "Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha" (QS. Al Isra: 1)

Maka tidak ada alasan/celah bagi seorang mukmin untuk menolaknya.

Isra’ Mi'raj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus langit, melainkan cahaya yang membuka jalan bagi lahirnya perubahan besar dalam sejarah umat. Dari langit turun perintah shalat sebagai ikatan spiritual, sementara di bumi tumbuh komitmen kolektif untuk menegakkan syariat sebagai pedoman hidup. Imam Muslim meriwayatkan bahwa pada malam Isra Mi’raj, Nabi diberi dua bejana minuman berisi khamr dan susu.

Beliau lalu meminum susu, bukan khamr. Kemudian Jibril berkata: ” Engkau telah diberi petunjuk sesuai fitrah atau bertindak benar selaras dengan fitrah. Sungguh, andai engkau mengambil arak, niscaya sesatlah umatmu ” Peristiwa ini menjadi bukti bahwa Islam adalah jalan yang lurus, sejalan dengan fitrah insani. Dari keyakinan hingga ibadah, dari akhlak hingga muamalah, bahkan dalam urusan politik dan negara, semuanya menghadirkan maslahat dan menyingkirkan mafsadat. Syariat Islam bukanlah sumber derita, melainkan cahaya yang menuntun manusia menuju kebahagiaan.

Kenangan Pahit 3 Maret 1924 Pelecut Ghirah Kebangkitan

Dalam kurun waktu 14 abad, umat Islam tak pernah terpisah dari kepemimpinan Khalifah dan naungan Khilafah. Baru setelah tanggal 3 Maret 1924, tonggak khilafah itu runtuh dan meninggalkan sejarah yang berbeda. Runtuhnya Khilafah membuat umat Islam terpisah dari payung ideologis yang menyatukan mereka, hingga selama 105 tahun hukum Allah tidak lagi diterapkan secara kaffah di seluruh penjuru dunia. Kekosongan itu bukan hanya kehilangan sistem, tetapi juga kehilangan ruh peradaban yang pernah menyinari bumi. Maka, Isra’ Mikraj menjadi simbol abadi: bahwa spiritualitas dan perjuangan ideologis tak pernah bisa dipisahkan, dan panggilan untuk kembali menegakkan hukum langit tetap bergema dalam hati umat hingga kini.

Umat harus tersentak menyadari bahwa sistem sekuler demokrasi yang dipaksakan secara global bukanlah sekadar pilihan politik, melainkan sebuah penentangan terang-terangan terhadap hukum Allah yang diturunkan dari langit; inilah panggilan untuk bangkit, menolak tunduk pada aturan manusia, dan kembali menegakkan syariat sebagai pedoman hidup sejati.

Mengabaikan syariat Islam bukan sekadar kelalaian, melainkan jalan menuju kehancuran: ia membuka pintu bagi krisis politik dan ekonomi yang merusak struktur bangsa, menjerumuskan masyarakat ke dalam bencana sosial dan kemanusiaan, serta mengundang malapetaka alam yang mengguncang kehidupan. Inilah seruan agar umat bangkit, menolak keterpurukan, dan kembali menegakkan hukum Allah sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

Runtuhnya Khilafah 105 tahun lalu bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan bencana besar yang merenggut kekuatan umat; sejak saat itu dunia digiring ke dalam penderitaan di bawah cengkeraman kapitalisme global yang menindas. Karena itu, menegakkan kembali kepemimpinan Islam atas dunia bukan hanya penting, melainkan sebuah panggilan mendesak bagi umat untuk bangkit, merebut kembali martabat, dan menghadirkan keadilan sejati bagi seluruh manusia.

Rajab dan Isra’ Mi’raj adalah momentum untuk meneguhkan kembali hukum Allah di bumi dengan menolak sistem sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam secara kaffah. Penjajahan atas Palestina—tempat Isra’ Mi’raj Rasulullah saw yang kini dikuasai entitas Yahudi—harus segera diakhiri, begitu pula perpecahan negeri-negeri muslim yang mesti dipersatukan. Kezaliman penguasa kafir terhadap minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, dan Filipina selatan wajib dihentikan. Seruan ditujukan kepada tentara muslim agar membebaskan Palestina dan menegakkan Khilafah Rasyidah.

Umat Islam, pewaris Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, keturunan Al Mu’tasim, Sholahuddin Al Ayubi, Al Fatih, Khalifah Salim III, Abdul Hamid, dan para khalifah lainnya, pasti mampu mengembalikan kejayaan Islam. Tegaknya Khilafah akan mengembalikan kemuliaan Islam sekaligus martabat umat. Partai Islam ideologis terus berjuang tanpa henti, siang dan malam, untuk memimpin serta membimbing umat agar kembali menjalani kehidupan Islam. Menegakkan Khilafah adalah perjuangan utama, agung, penting, dan mendesak, yang harus segera disambut oleh seluruh umat.

Demikian luar biasa peristiwa Isra Mi'raj, sudah seharusnya keluarga muslim memahaminya dengan benar.

Sudah seharusnya peristiwa Isra mi'raj yang fenomenal ini menjadi spirit bagi setiap keluarga muslim, untuk dijadikan sebagai momen untuk menguatkan iman, menyempurnakan ibadah kita, mengokohkan tekad dan menggelorakan semangat untuk meraih surga Allah dengan mewujudkan penerapan syariah Islam secara kafah.

-W-

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image