Ketamakan Penyebab Kekalahan Kaum Muslimin di Perang Uhud
Agama | 2026-03-07 06:39:10
Ketamakan, Tindakan yang akhir-akhir ini sering terlihat di masyarakat, baik dari tetangga sendiri ataupun pejabat-pejabat yang duduk di kantor pemerintahan. Tidak jarang kita mendengar kasus dimana seseorang berebut harta warisan dengan keluarganya sendiri demi tanah yang sepetak saja, ataupun terdapat kasus dimana seseorang merampas hak orang lain padahal rezeki yang diberikan Allah swt kepada orang tersebut lebih dari kata mencukupi. Na’udzubillahi min Dzalik.
Tamak sendiri merupakan sikap dimana seseorang tidak pernah puas dalam mencari harta meskipun harta yang dimilikinya berupa seisi langit dan bumi. Pelaku ketamakan sangatlah mencintai dunia secara berlebihan, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diingikannya, meskipun cara tersebut merupakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah swt.
Ketamakan merupakan sifat-sifat tercela, Tamak merupakan salah satu dosa yang apabila dilakukan, maka dosa lainnya akan mengiringi dosa tersebut. Tamak biasanya diikuti oleh sifat kikir dan serakah. Karena kebanyakan dari manusia terlalu cinta akan dunia dan takut bahwa harta mereka akan habis apabila disedekahkan di jalan Allah swt ataupun untuk membantu masyarakat.
Islam sendiri sudah memberikan penjelasan terhadap naluri manusia yang tidak pernah puas dan memberikan ancaman terhadap orang-orang yang tamak. Al-Qur’an sendiri telah menjelaskan hak tersebut dalam QS At-Takatsur : 1-8 yang berbunyi,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”
Rasulullah saw juga mengingatkan manusia akan bahaya tamak, sebagaimana sadabnya,
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
“Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” (H.R At-Tirmidzi no. 2376).
Dalam sejarah, ketamakan selalu berawal dengan kerugian dan kemalangan bagi para pelakunya. Di zaman Nabi Musa As terdapat kisah Qarun yang tamak dan rakus, yang pada akhirnya diadzab oleh Allah swt dengan menenggelamkan Qarun beserta hartanya ke dalam tanah. Dalam kisah Nabi Muhammad saw terdapat salah satu bentuk ketamakan yang merugikan umat islam, yaitu pada saat Perang Uhud.
Perang Uhud merupakan salah satu perang yang paling berpengaruh dalam sejarah Islam, Perang Uhud adalah perang terbesar kedua setelah perang Uhud. Perang ini terjadi pada tanggal 23 Maret 625 Masehi (7 Syawal 3H) di bukit Uhud, arah utara dari kota Madinah. Perang ini juga merupakan kekalahan pertama yang dialami oleh kaum muslimin sebagai pembelajaran dari Allah swt.
Dalam buku Sirah Nabawiyah (2009) cetakan ke 10 karya Syaikh Shaifyur-Rahman Al-Mubakfury Pada saat itu, kaum muslimin yang berjumlah 700 orang harus menghadapi kaum kafir Quraisy yang berjumlah sekitar 3 ribu orang. Dikarenakan mereka kalah jumlah, maka Rasulullah saw menerapkan taktik defensive dengan memosisikan pasukannya di tempat yang tinggi dengan perlindungan alami berupa tebing di sayap kanan dan belakang.
Rasulullah saw juga menetapkan detasemen yang berisikan para pemanah ulung yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair. Beliau memerintahkan agar para pemanah tersebut menempati posisi di atas suatu bukit yang kini dikenal sebagai Jabal Rumat. Jarak antara para pemanah dan pasukan utama kaum muslimin adalah sekitar 150 meter. Perintah Rasulullah saw kepada para pemanah ini cukup mudah, yaitu jangan tinggalkan tempat yang telah ditetapkan meskipun pasukan utama kaum muslimin disambar burung sekalipun, hingga ada utusan yang datang kepada mereka.
Dengan posisi yang sangat strategis ini, pada awalnya Rasulullah saw berhasil memukul mundur kaum kafir Quraisy sehingga mereka kocar-kacir. Hal ini juga berkat detasemen dari para pemanah ulung yang berhasil melindungi sayap kiri kaum muslimin yang merupakan titik terlemah dari serangan kaum kafir Quraisy.
Namun keunggulan tersebut berubah ketika ketamakan mulai hinggap di detasemen para pemanah ulung, pada saat kaum kafir Quraisy kabur dan meninggalkan harta rampasan, sebagian besar dari para pemanah tersebut melanggar perintah Nabi Muhammad saw dan ikut dalam mengambil harta rampasan sehingga menyisakan 10 orang pemanah saja.
Alhasil kaum kavalari Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang saat itu masih kafir berhasil masuk ke sayap kiri, membunuh Abdullah bin Jubair dan sisa- sisa dari pemanah ulung tersebut, kemudian menyerang kaum muslimin dari belakang, sehingga kaum kafir Quraisy kini berhasil mendominasi pertempuran. Kini kaum muslimin mengalami kekalahan yang dahsyat hanya karena ketamakan dari pemanah-pemanah ulung tersebut.
Begitulah bahaya dari ketamakan, apabila para pengikut Rasulullah saw saja bisa terkena penyakit ini, bagaimana dengan kita yang hidup jauh setelah Rasulullah saw meninggal dunia? Bersedakahlah, Bersedakahlah. Cukuplah firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 261 sebagai sebaik-baik penjelasan. Wallahu a’lam bis shawab.
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
