Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Olivya Sifa Adni

Hijrah di Era Konten: Antara Ketulusan dan Pencitraan

Agama | 2026-05-17 23:36:39

Media sosial hari ini membuat apa pun bisa menjadi tontonan, termasuk proses hijrah seseorang. Ceramah singkat, konten religius, hingga perubahan penampilan sering mendapat perhatian besar dari publik. Di satu sisi, hal itu tentu baik karena agama menjadi lebih dekat dengan anak muda. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah semua proses hijrah benar-benar lahir dari ketulusan, atau justru perlahan berubah menjadi bagian dari pencitraan di media sosial?

ilustrasi gambar era digital zaman sekarang semua orang hidupnya dipenuhi media sosial (Sumber: iStock)

Fenomena ini muncul karena media sosial memang memberi ruang besar untuk mencari pengakuan. Banyak orang merasa lebih dihargai ketika mendapat pujian, komentar positif, atau dianggap lebih religius oleh orang lain. Tidak sedikit juga yang akhirnya menjadikan hijrah sebagai identitas digital. Apa yang seharusnya menjadi proses pribadi antara manusia dengan Tuhan malah berubah menjadi konsumsi publik. Semua ingin terlihat paling baik, paling paham agama, bahkan paling suci.

Selain itu, budaya media sosial yang haus validasi ikut memperkuat keadaan tersebut. Konten bernuansa agama sering lebih mudah mendapat perhatian dan dianggap membawa citra positif. Akibatnya, sebagian orang tanpa sadar lebih fokus membangun kesan religius dibanding memperbaiki diri secara perlahan dan konsisten. Hijrah akhirnya terlihat indah di layar, tetapi belum tentu benar-benar kuat dalam kehidupan nyata.

Dampaknya cukup terasa, terutama bagi anak muda. Banyak orang menjadi takut salah karena merasa selalu diawasi standar religius di internet. Ada juga yang akhirnya mudah menghakimi orang lain hanya karena merasa dirinya sudah lebih baik. Padahal, setiap orang memiliki proses hijrah yang berbeda. Agama yang seharusnya membawa ketenangan justru kadang berubah menjadi ajang perlombaan untuk terlihat paling benar.

Menurut saya, hijrah seharusnya kembali dipahami sebagai proses memperbaiki diri, bukan pertunjukan untuk mendapatkan pengakuan. Media sosial boleh digunakan untuk berbagi hal baik, tetapi tidak semua hal harus dipamerkan. Ketulusan sering kali tumbuh dalam hal-hal sederhana yang tidak selalu terlihat orang lain. Yang paling penting bukan seberapa religius kita terlihat di internet, melainkan seberapa jauh perubahan baik itu benar-benar hidup dalam sikap sehari-hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image