Maryam: Ketika Iman Menjadikan Seseorang Asing di Negerinya Sendiri
Sastra | 2026-06-10 19:35:31
Sebuah rumah seharusnya menjadi tempat pulang. Namun bagaimana jika seseorang terusir dari rumahnya sendiri karena keyakinan yang dianutnya? Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari novel Maryam karya Okky Madasari, sebuah karya yang tidak hanya bercerita tentang kehidupan seorang perempuan, tetapi juga merekam luka sosial yang masih menjadi persoalan dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Novel ini bahkan didedikasikan "untuk mereka yang terusir karena iman", sebuah pernyataan yang sejak awal menegaskan arah kritik sosial yang dibangun pengarang.
Pada permukaannya, Maryam tampak sebagai kisah tentang seorang perempuan bernama Maryam yang mengalami konflik keluarga, percintaan, dan pernikahan. Namun di balik kisah personal tersebut, Okky Madasari sesungguhnya sedang mengangkat persoalan yang jauh lebih besar: rapuhnya kebebasan beragama dalam masyarakat yang mengaku menjunjung keberagaman.
Maryam lahir dan dibesarkan dalam keluarga Ahmadiyah di Lombok. Sejak kecil, identitas keagamaannya telah membentuk cara ia melihat dunia sekaligus menentukan batas-batas sosial yang harus dihadapinya. Ketika ia jatuh cinta kepada Alam, seorang laki-laki di luar komunitasnya, cinta yang seharusnya menjadi ruang kebebasan justru berubah menjadi arena pertarungan identitas. Orang tua Maryam menginginkan Alam menjadi Ahmadi, sementara keluarga Alam menghendaki Maryam meninggalkan keyakinannya. Di tengah tarik-menarik tersebut, Maryam tidak lagi dipandang sebagai individu yang bebas menentukan hidupnya, melainkan sebagai simbol identitas kelompok yang harus dipertahankan.
Konflik ini menunjukkan bagaimana agama dalam realitas sosial sering kali tidak berhenti sebagai urusan spiritual, tetapi berkembang menjadi penanda batas sosial yang menentukan siapa yang diterima dan siapa yang dianggap berbeda. Dalam situasi demikian, pilihan pribadi kehilangan ruangnya. Yang tersisa hanyalah tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan identitas kolektif.
Lebih jauh lagi, Maryam memperlihatkan bagaimana posisi kelompok minoritas sering kali berada dalam situasi yang serba sulit. Mereka dituntut untuk beradaptasi, membuktikan diri, bahkan mengorbankan keyakinan demi memperoleh penerimaan sosial. Maryam akhirnya memilih menikah dengan Alam dan meninggalkan komunitasnya. Ia berharap pengorbanan tersebut akan menghadirkan kehidupan yang damai. Namun harapan itu tidak sepenuhnya terwujud. Pengorbanan identitas ternyata tidak serta-merta menghapus prasangka dan kecurigaan yang terus mengikutinya.
Di titik inilah novel ini menjadi kritik yang tajam terhadap cara masyarakat memperlakukan perbedaan. Okky Madasari menunjukkan bahwa diskriminasi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Ia dapat muncul melalui tekanan sosial, pengucilan, penolakan, hingga tuntutan untuk meninggalkan keyakinan yang telah menjadi bagian dari diri seseorang. Bentuk-bentuk tekanan semacam ini sering kali tidak terlihat, tetapi meninggalkan luka yang sama dalamnya.
Kepulangan Maryam ke Lombok setelah bertahun-tahun pergi menjadi simbol yang sangat penting dalam novel ini. Ia pulang bukan sebagai pemenang yang berhasil menemukan kebahagiaan, melainkan sebagai seseorang yang masih mencari tempat untuk diterima. Kepulangan itu sekaligus memperlihatkan paradoks yang menyakitkan: seseorang bisa lahir di suatu tempat, tumbuh di sana, memiliki kenangan dan keluarga di sana, tetapi tetap merasa asing karena identitas yang melekat padanya.
Melalui pengalaman Maryam, Okky Madasari menghadirkan gambaran tentang bagaimana konsep kewarganegaraan sering kali tidak berjalan seiring dengan praktik sosial di lapangan. Secara hukum, setiap warga negara memiliki hak yang sama. Namun dalam kenyataan, penerimaan sosial sering kali ditentukan oleh kesamaan keyakinan, identitas, atau afiliasi kelompok. Akibatnya, sebagian warga negara hidup dalam posisi yang rentan, selalu berada di bawah bayang-bayang penolakan.
Yang membuat Maryam begitu kuat adalah keberhasilannya mengubah isu sosial yang kompleks menjadi pengalaman manusiawi yang dekat dengan pembaca. Okky tidak menyampaikan kritik melalui pidato panjang atau argumen politik yang kaku. Ia memilih menghadirkannya melalui kegelisahan, ketakutan, harapan, dan kesedihan tokoh-tokohnya. Dengan cara itu, pembaca tidak hanya memahami persoalan diskriminasi secara intelektual, tetapi juga merasakan dampaknya secara emosional.
Dalam konteks Indonesia yang terus berupaya merawat keberagaman, Maryam menjadi pengingat bahwa toleransi tidak cukup berhenti pada slogan. Keberagaman hanya akan bermakna apabila setiap individu benar-benar memiliki ruang untuk menjalani keyakinannya tanpa rasa takut dan tanpa ancaman pengucilan. Sebab ketika seseorang harus kehilangan rumah, keluarga, atau identitasnya demi diterima oleh masyarakat, yang gagal bukan hanya hubungan antarindividu, melainkan juga cita-cita kebangsaan itu sendiri.
Oleh karena itu, Maryam bukan sekadar novel tentang Ahmadiyah atau kisah seorang perempuan yang mengalami kegagalan rumah tangga. Novel ini adalah cermin yang memperlihatkan bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yang berbeda. Melalui kisah Maryam, Okky Madasari mengajukan pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini: sejauh mana kita benar-benar siap hidup berdampingan dengan perbedaan? Dan ketika seseorang terusir karena iman yang diyakininya, apakah yang sesungguhnya sedang dipertanyakan keyakinannya, atau kemanusiaan kita sendiri?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
