Ketika Tradisi Membunuh Nalar: Mengapa Kita Gemar Menjadi Pengikut yang Enggan Bertanya?
Sastra | 2026-06-09 15:04:17Mengapa banyak orang tetap mengikuti suatu kebiasaan meskipun tahu kebiasaan itu merugikan? Mengapa kita sering merasa tidak nyaman ketika mempertanyakan sesuatu yang sudah dianggap "normal"? Dalam banyak kasus, tradisi dan kebiasaan sosial memiliki kekuatan yang begitu besar hingga membuat orang lebih memilih patuh daripada berpikir kritis.
Persoalan semacam itu tergambar dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel ini tidak hanya bercerita tentang kehidupan Srintil sebagai ronggeng, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Dukuh Paruk memandang tradisi sebagai sesuatu yang harus diterima tanpa pertanyaan. Menjadikan tradisi lama satu-satunya patokan kebenaran tanpa disertai penalaran.
Bagi masyarakat Dukuh Paruk, ronggeng bukan sekadar penari. Ia adalah simbol kehormatan kampung yang keberadaannya dianggap penting bagi kehidupan sosial mereka. Karena keyakinan tersebut telah mengakar kuat, hampir tidak ada yang mempertanyakan apakah tradisi itu adil bagi Srintil sebagai individu atau hanya menjadikan Srintil sebagai objek komoditas.
Akibatnya, Srintil lebih sering diperlakukan sebagai milik tradisi daripada sebagai manusia yang memiliki kehendak sendiri. Pilihan hidupnya ditentukan oleh harapan masyarakat. Ketika individu kehilangan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, tradisi berubah dari warisan budaya menjadi alat pengendali.
Fenomena serupa masih dapat ditemukan dalam kehidupan modern. Banyak orang mengikuti suatu praktik, mempercayai tokoh tertentu, atau menerima aturan sosial hanya karena "sudah dari dulu begitu". Tidak sedikit yang memilih diam karena takut dianggap berbeda atau melawan kebiasaan yang telah diterima masyarakat.
Salah satu penyebabnya adalah tekanan sosial. Bertanya sering dianggap sebagai bentuk pembangkangan, sementara kepatuhan dipandang sebagai kebajikan. Sehingga tolak ukur kebenaran tidak lagi menggunakan nalar tetapi dari lisan siapa ungkapan itu keluar. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis perlahan tergeser oleh keinginan untuk diterima oleh lingkungan.
Melalui kisah Dukuh Paruk, Ahmad Tohari mengingatkan bahwa tidak semua yang diwariskan oleh masa lalu harus diterima begitu saja. Tradisi memang layak dihormati, tetapi penghormatan tidak boleh menghilangkan kemampuan untuk menilai apakah suatu praktik masih sesuai dengan nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, masalah terbesar bukanlah keberadaan tradisi, melainkan ketika tradisi membuat manusia berhenti bertanya. Sebuah masyarakat akan berkembang bukan karena semua orang patuh, tetapi karena ada keberanian untuk berpikir, berdialog, dan menguji kembali apa yang selama ini dianggap benar.
Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan bahwa tradisi yang diterima tanpa sikap kritis dapat membuat masyarakat kehilangan nalar dan menjadikan individu sekadar pengikut yang enggan mempertanyakan ketidakadilan di sekitarnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
