Mengenal Istilah Sastra Pusat dan Sastra Pinggiran
Sastra | 2026-06-10 22:20:01Kajian sastra pascakolonial memperlihatkan adanya kubu antara sastra “pusat” dan sastra “pinggiran” yang berkaitan erat dengan relasi kuasa global. Sastra pusat, yang umumnya berasal dari negara Barat, memiliki dominasi dalam distribusi dan pembenaran budaya, sementara sastra pinggiran sering kali berasal dari negara berkembang atau bekas jajahan yang kurang mendapatkan pengakuan global. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pengertian, karakteristik, serta relasi antara kedua jenis sastra tersebut, khususnya dalam konteks sastra Indonesia modern.
Dalam kajian sastra kontemporer, terutama dalam perspektif pascakolonial, muncul pembagian antara sastra “pusat” dan sastra “pinggiran”. Pembagian ini tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga mencerminkan relasi kekuasaan dalam produksi dan distribusi karya sastra di tingkat global. Sastra pusat cenderung mendominasi karena didukung oleh kekuatan ekonomi, politik, dan budaya, sedangkan sastra pinggiran sering kali diposisikan sebagai subordinat atau memiliki posisi yang lebih dibawah.
Fenomena ini menjadi relevan untuk dikaji karena berkaitan dengan bagaimana identitas budaya dan pengalaman lokal direpresentasikan dalam karya sastra, khususnya di negara-negara bekas jajahan seperti Indonesia.
Pembahasan
1. Pengertian dan Karakteristik Sastra Pusat dan Pinggiran dalam Perspektif Pascakolonial
Sastra pusat merujuk pada karya sastra yang berasal dari negara-negara Barat yang memiliki dominasi dalam sistem global baik ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan hal lain. Sastra ini umumnya menggunakan bahasa internasional, mengangkat tema modernitas, serta memiliki distribusi yang luas secara global.
Sebaliknya, sastra pinggiran berasal dari negara berkembang atau bekas jajahan yang sering berada di luar arus utama. Sastra ini lebih menonjolkan budaya lokal, pengalaman masyarakat, serta persoalan sosial yang kontekstual.
Dalam konteks di Indonesia, novel karya seperti Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merepresentasikan trauma sejarah dan kritik sosial, sementara Gadis Kretek karya Ratih Kumala menampilkan identitas budaya lokal melalui narasi kehidupan masyarakat. Selain itu, Hujan karya Tere Liye menunjukkan bahwa sastra Indonesia juga mampu mengangkat tema modern seperti teknologi dan lingkungan tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan.
2. Perbedaan dan Relasi dalam Konteks Global
Perbedaan utama antara sastra pusat dan sastra pinggiran terletak pada posisi dan pengaruhnya dalam sistem sastra dunia. Sastra pusat memiliki dominasi yang kuat karena didukung oleh kekuatan ekonomi dan budaya global, sedangkan sastra pinggiran sering kali kurang mendapatkan perhatian meskipun memiliki kekayaan nilai budaya yang tinggi.
Namun demikian, hubungan antara keduanya tidak sepenuhnya bersifat opsisional. Sastra pinggiran sering muncul sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi kolonial sekaligus sebagai upaya mempertahankan identitas budaya lokal.
3. Dampak Kolonialisme terhadap Perkembangan Sastra
Kolonialisme memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan sastra di negara-negara bekas jajahan. Dalam sastra Indonesia modern, pengaruh Barat terlihat pada teknik penulisan dan struktur naratif. Namun, pengaruh tersebut tidak menghilangkan unsur lokal, melainkan berpadu dengan nilai-nilai budaya setempat.
Novel seperti Laut Bercerita, Gadis Kretek, dan Hujan menunjukkan bahwa sastra Indonesia mampu menggabungkan tema global dengan konteks lokal. Hal ini menegaskan bahwa sastra pinggiran memiliki keunikan dan kualitas tersendiri dalam merepresentasikan realitas sosial dan budaya.
Sastra pusat dan sastra pinggiran memiliki perbedaan mendasar dalam hal posisi dan pengaruh dalam sistem sastra global. Sastra pusat lebih dominan karena dukungan kekuatan global, sedangkan sastra pinggiran menonjolkan identitas lokal dan pengalaman masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, sastra pinggiran menunjukkan kekuatan yang signifikan dalam merepresentasikan nilai budaya, sejarah, dan kemanusiaan. Meskipun terdapat pengaruh kolonialisme, sastra lokal tidak dapat dianggap lebih rendah, melainkan memiliki kontribusi penting dalam memperkaya keberagaman sastra dunia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
