Membaca Maryam: Tentang Pulang, Luka, dan Hak untuk Diakui
Sastra | 2026-06-09 11:11:37
Tidak semua kepulangan berakhir dengan pelukan. Ada orang yang kembali ke rumahnya sendiri, tetapi justru merasa seperti orang asing. Ada tempat yang dulu disebut rumah, namun perlahan berubah menjadi ruang yang penuh luka. Perasaan semacam itulah yang terasa kuat ketika membaca novel Maryam karya Okky Madasari. Melalui kisah seorang perempuan yang pulang ke kampung halamannya, novel ini menghadirkan persoalan yang jauh lebih luas: iman, keluarga, pengusiran, diskriminasi, dan hak manusia untuk hidup aman di tanahnya sendiri.
Sejak awal, Maryam sudah membawa pembaca masuk ke suasana batin yang muram. Maryam, tokoh utama dalam novel ini, pulang ke Lombok setelah bertahun-tahun meninggalkan kampung halamannya. Namun, kepulangan itu tidak membawa rasa lega. Ia tidak tahu apakah masih ada orang yang menunggunya, atau justru kedatangannya akan membuka kembali kemarahan lama. Dari sini, pembaca mulai memahami bahwa pulang bagi Maryam bukan sekadar kembali ke sebuah tempat. Pulang berarti menghadapi masa lalu, keluarga, keyakinan, dan luka yang belum benar-benar selesai.
Novel ini bercerita tentang perjalanan hidup Maryam, seorang perempuan dari keluarga Ahmadi yang sejak kecil tumbuh dalam lingkungan keimanan yang kuat. Ia hidup di tengah keluarga dan komunitas yang saling menjaga, tetapi pada saat yang sama juga berada dalam bayang-bayang stigma. Ketika dewasa, Maryam merantau, menempuh pendidikan, bekerja, lalu jatuh cinta kepada laki-laki di luar komunitasnya. Cinta yang semula ia bayangkan sebagai jalan menuju kebahagiaan justru menyeretnya pada konflik batin yang panjang.
Konflik dalam Maryam tidak hanya berpusat pada kisah cinta tokohnya. Lebih dari itu, novel ini memperlihatkan benturan antara keinginan pribadi dan tekanan sosial. Maryam ingin menentukan pilihan hidupnya sendiri, termasuk dalam urusan cinta dan masa depan. Namun, pilihan itu tidak pernah benar-benar menjadi miliknya seorang diri. Keluarga, pasangan, mertua, masyarakat, bahkan lingkungan yang lebih luas ikut menekan dan mengatur hidupnya. Melalui tokoh Maryam, Okky Madasari memperlihatkan bagaimana kehidupan perempuan sering kali menjadi ruang perebutan berbagai kepentingan.
Salah satu kekuatan novel ini terletak pada cara Okky menggambarkan diskriminasi secara halus, tetapi tetap terasa tajam. Kekerasan dalam Maryam tidak selalu muncul dalam bentuk serangan fisik. Ia juga hadir melalui tatapan curiga, penolakan keluarga, ucapan yang menyakitkan, dan aturan sosial yang memaksa seseorang meninggalkan keyakinannya. Novel ini menunjukkan bahwa pengusiran bukan hanya tentang kehilangan rumah secara fisik, tetapi juga kehilangan rasa aman, martabat, dan tempat untuk diakui sebagai manusia.
Tokoh Maryam sendiri menjadi menarik karena tidak ditampilkan sebagai sosok yang selalu kuat. Ia rapuh, bimbang, marah, kecewa, dan beberapa kali mengambil keputusan yang sulit. Namun, justru dari kerapuhan itulah sisi manusiawinya terlihat. Maryam bukan tokoh yang sempurna. Ia adalah seseorang yang berusaha bertahan sambil membawa luka yang tidak sederhana. Ia pernah menjauh dari keluarga dan keyakinannya demi cinta, tetapi kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa cinta tidak selalu mampu melindungi seseorang dari prasangka.
Tokoh-tokoh lain dalam novel ini juga memperkaya konflik cerita. Orang tua Maryam, misalnya, menunjukkan kegelisahan keluarga minoritas yang ingin melindungi anaknya dari kemungkinan terluka. Alam memperlihatkan bagaimana cinta bisa melemah ketika berhadapan dengan tekanan keluarga dan pandangan mayoritas. Sementara itu, Umar dan komunitas Ahmadi menggambarkan orang-orang yang terus mencoba bertahan meski berkali-kali kehilangan tempat. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut membuat persoalan dalam novel ini tidak berhenti pada kisah pribadi Maryam, tetapi melebar menjadi persoalan sosial.
Latar Lombok juga memiliki peran penting dalam membangun kekuatan cerita. Pulau yang dikenal indah justru menjadi tempat yang menyimpan luka bagi tokoh-tokohnya. Keindahan alam tidak otomatis membuat kehidupan manusia di dalamnya menjadi damai. Di balik pantai, kampung, dan ruang-ruang pengungsian, ada orang-orang yang terusir karena keyakinan. Pertentangan antara keindahan tempat dan penderitaan manusia inilah yang membuat Maryam terasa kuat dan menyentuh.
Kelebihan utama novel ini adalah keberaniannya mengangkat isu yang sensitif, yaitu intoleransi dan pengusiran terhadap kelompok minoritas. Okky Madasari tidak hanya menulis tentang satu keluarga, tetapi juga mengajak pembaca melihat bagaimana ketidakadilan bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Novel ini mengingatkan bahwa perbedaan iman seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan hak untuk memiliki rumah, keluarga, dan masa depan.
Dari segi penceritaan, Maryam menggunakan bahasa yang lugas dan emosional. Kalimat-kalimatnya tidak dibuat rumit, tetapi mampu membangun suasana batin tokoh dengan kuat. Pembaca dapat merasakan kegelisahan Maryam, ketakutan keluarganya, dan kelelahan orang-orang yang terlalu lama hidup dalam ketidakpastian. Inilah yang membuat novel ini tidak hanya dibaca sebagai cerita, tetapi juga dirasakan sebagai pengalaman kemanusiaan.
Meski demikian, Maryam bukan bacaan yang sepenuhnya ringan. Tema yang diangkat cukup serius dan emosional. Pembaca yang mencari cerita santai mungkin perlu menyiapkan diri, karena novel ini banyak menghadirkan kesedihan, tekanan, dan rasa tidak adil. Beberapa konflik juga terasa berulang, seolah penderitaan tokoh tidak berhenti pada satu peristiwa saja. Namun, justru di situlah kekuatan novel ini. Pengulangan luka tersebut menunjukkan bahwa diskriminasi bukan kejadian sesaat, melainkan pengalaman panjang yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang secara perlahan.
Secara keseluruhan, Maryam adalah novel yang penting untuk dibaca. Novel ini tidak hanya berkisah tentang seorang perempuan bernama Maryam, tetapi juga tentang orang-orang yang kehilangan rumah karena keyakinan. Melalui cerita Maryam, pembaca diajak untuk bertanya kembali: apakah seseorang pantas kehilangan hak hidupnya hanya karena ia berbeda? Apakah rumah masih bisa disebut rumah jika pemiliknya sendiri tidak diizinkan kembali?
Maryam bukan novel yang selesai begitu halaman terakhir ditutup. Ia meninggalkan kegelisahan yang panjang. Novel ini mengajak pembaca memikirkan kembali makna toleransi, keluarga, iman, dan keadilan. Bagi pembaca yang menyukai karya sastra dengan kritik sosial yang kuat, Maryam layak menjadi bacaan pilihan. Novel ini membuktikan bahwa sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menyuarakan mereka yang selama ini dipinggirkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
