Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syahrial, S.T

Dari Mager ke Bager

Gaya Hidup | 2026-01-22 09:55:00
Jalan-jalan pagi. Sumber foto : ramuanherbal.id

Pagi itu saya melihat Pak Harto. Bukan Presiden Soeharto. Ini Pak Harto tetangga saya yang pensiunan guru SMP. Umurnya sudah 58 tahun. Dia sedang berjalan santai di sekitar komplek perumahan. Kaos oblong biru, celana training hitam, sepatu olahraga yang sudah agak kusam.

Yang menarik bukan penampilannya. Tapi wajahnya. Ada senyum tipis di bibirnya. Matanya berbinar. Seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang sangat berharga. Padahal dia cuma jalan pagi. Cuma jalan keliling komplek. Tidak sedang dapat warisan. Tidak sedang menang lotre.

Saya ingat tiga bulan lalu Pak Harto bukan seperti ini. Dia selalu duduk di teras rumahnya. Dari pagi sampai siang. Perutnya buncit. Wajahnya kusam. Kalau ditegur cuma senyum seadanya. Seperti orang yang sudah pasrah dengan hidup. Sudah menyerah pada usia.

"Mager, Mas," katanya waktu itu ketika saya tanya kenapa tidak pernah olahraga. Malas gerak. Dua kata yang jadi momok banyak orang di atas 50 tahun. Dua kata yang seperti mantra pembenar untuk terus duduk. Terus diam. Terus membiarkan tubuh mengendur dan kesehatan merosot.

Tapi sekarang Pak Harto sudah berubah. Dari mager jadi bager. Bahagia bergerak. Saya penasaran apa yang mengubahnya.

Perubahan itu ternyata dimulai dari hal kecil. Sangat kecil. Pak Harto tidak langsung jogging. Dia tidak langsung berlari keliling komplek seperti anak muda. Dia cuma jalan. Sepuluh menit saja. Keluar rumah, putar sekali komplek, pulang. Itu saja.

"Awalnya berat sekali, Mas," ceritanya suatu pagi ketika kami berpapasan. "Kaki rasanya berat. Napas ngos-ngosan padahal cuma jalan santai. Tapi saya ingat kata dokter waktu cek kesehatan. Kolesterol tinggi. Gula darah mulai naik. Tekanan darah sudah masuk prehipertensi."

Dokter itu bilang padanya: bergeraklah atau bersiaplah dengan obat seumur hidup. Pilihan yang tegas. Pilihan yang membuat Pak Harto mulai berpikir.

Minggu pertama sangat berat. Dia hampir menyerah. Tubuhnya pegal-pegal. Lututnya kadang nyeri. Tapi dia tidak berhenti. Dia hanya pelan saja. Tidak memaksakan. Sepuluh menit tetap sepuluh menit. Tidak ditambah. Tidak dikurangi.

Minggu kedua mulai ada perubahan. Tidur malamnya lebih nyenyak. Dia yang biasanya terbangun tengah malam dan susah tidur lagi, sekarang bisa tidur pulas sampai pagi. Bangun dengan segar. Bukan bangun dengan badan pegal dan pikiran kusut.

Minggu ketiga dia mulai merasakan kebahagiaan yang aneh. Kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan kebahagiaan karena dapat uang. Bukan kebahagiaan karena dapat hadiah. Tapi kebahagiaan yang datang dari dalam. Dari tubuh yang mulai terasa ringan. Dari pikiran yang mulai jernih.

"Rasanya seperti tubuh saya di-reset, Mas," katanya. "Seperti mesin yang sudah lama tidak diservis, tiba-tiba diservis. Jadi ringan. Jadi enak."

Bulan kedua dia mulai menambah waktu jalannya. Lima belas menit. Lalu dua puluh menit. Tidak terburu-buru. Tidak memaksakan. Mendengarkan tubuhnya sendiri. Kalau terasa berat, dia pelankan. Kalau terasa nyaman, dia tambah sedikit.

Yang mengejutkan adalah efek sampingnya. Efek yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

Dia mulai bertemu orang-orang. Orang-orang sesama pejalan pagi. Ada Pak Bambang yang pensiunan polisi. Ada Bu Siti yang guru TK. Ada Pak Joko yang masih kerja tapi selalu sempat jalan pagi sebelum berangkat kantor. Mereka saling menyapa. Saling bertegur sapa. Kadang jalan bersama sambil ngobrol.

"Ini yang paling saya suka, Mas," kata Pak Harto. "Dulu saya di rumah terus. Jarang ketemu orang. Anak-anak sudah pada kerja. Istri sibuk dengan kegiatannya. Saya cuma duduk sendiri di teras. Sepi."

Sekarang dia punya teman. Punya komunitas kecil. Komunitas yang terbentuk alami. Tanpa rapat. Tanpa organisasi. Tanpa iuran. Cuma karena kesamaan kebiasaan: jalan pagi.

Mereka saling memberi semangat. Kalau ada yang tidak kelihatan beberapa hari, yang lain akan tanya. Saling peduli. Saling mengingatkan. Kadang mereka juga saling berbagi cerita. Cerita tentang anak. Tentang cucu. Tentang kesehatan. Tentang hidup.

Ada kebahagiaan lain yang Pak Harto rasakan. Kebahagiaan dari perasaan "masih bisa". Di usia yang sudah tidak muda lagi, banyak orang mulai merasa tidak berguna. Merasa sudah tua. Merasa sudah waktunya mengalah pada usia. Tapi ketika masih bisa jalan. Masih bisa bergerak. Masih bisa melakukan sesuatu untuk diri sendiri, ada kepercayaan diri yang muncul.

"Saya merasa saya masih bisa merawat diri saya sendiri, Mas," katanya. "Tidak menyusahkan orang lain. Tidak bergantung pada orang lain. Ini penting buat saya."

Sekarang Pak Harto bahkan sudah mulai jogging ringan. Tidak cepat. Cuma jogging pelan. Diselingi jalan. Tapi dia bangga. Sangat bangga. Di usianya yang hampir 60 tahun, dia masih bisa jogging. Masih bisa bergerak lebih dari sekadar jalan.

Perubahan fisiknya juga terlihat. Perutnya mengecil. Wajahnya lebih segar. Matanya lebih cerah. Yang paling penting: hasil cek kesehatannya membaik. Kolesterol turun. Gula darah normal. Tekanan darah terkontrol. Tanpa obat. Cuma dengan jalan pagi.

Dokternya sampai heran. Bertanya apa yang dilakukan Pak Harto. Ketika tahu cuma jalan pagi rutin, dokter itu mengangguk-angguk. "Itu obat paling mujarab," katanya. "Obat yang gratis tapi banyak orang tidak mau meminumnya."

Pak Harto sekarang jadi semacam inspirasi di komplek kami. Beberapa tetangga yang sebaya mulai ikut jalan pagi. Mereka terpengaruh melihat perubahannya. Dari yang mager, kini mereka berusaha jadi bager.

Ada Pak Wardi yang dulunya diabetes parah. Sekarang mulai jalan pagi rutin. Gula darahnya mulai terkontrol. Ada Bu Endang yang dulunya sering sesak napas. Sekarang napaasnya lebih lega setelah rutin jalan pagi.

Mereka semua merasakan hal yang sama: kebahagiaan. Kebahagiaan yang sederhana tapi nyata. Kebahagiaan dari tubuh yang lebih sehat. Dari pikiran yang lebih jernih. Dari kehidupan sosial yang lebih kaya. Dari perasaan masih berguna. Masih bisa. Masih hidup sepenuhnya.

Bukan hanya menunggu hari berlalu. Bukan hanya menunggu waktu. Tapi aktif menjalani hidup. Aktif merawat diri. Aktif menjaga kesehatan. Di usia yang memang memerlukan perhatian ekstra.

Pagi ini saya melihat Pak Harto lagi. Masih dengan kaos oblong birunya. Masih dengan sepatu olahraga yang kusam. Tapi wajahnya bersinar. Langkahnya ringan. Senyumnya lebar.

"Pagi, Mas," sapanya sambil melambaikan tangan.

Saya balas melambaikan tangan. Dan dalam hati saya berpikir: inilah bukti nyata. Dari mager ke bager. Dari malas gerak ke bahagia bergerak. Tidak perlu mahal. Tidak perlu ribet. Cukup dengan langkah kecil. Konsisten. Dan kesediaan untuk memulai.

Kebahagiaan ternyata bisa sesederhana itu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image