Mengapa Kehalalan Makanan Menjadi Penentu Takdir
Agama | 2026-02-25 17:18:57
Pernahkah Anda merasa sudah berusaha maksimal, bekerja keras hingga larut malam, dan berdoa sampai menitikkan air mata, namun rasanya pintu langit masih tertutup rapat? Kita sering kali fokus pada apa yang kita minta, tapi lupa memeriksa apa yang masuk ke dalam tubuh kita.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW memberikan sebuah peringatan yang menggetarkan hati tentang hubungan antara "isi perut" dan "ijabahnya doa".
Kalimat pertama dalam hadis tersebut adalah pondasi segalanya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu mengatakan bahwa,"Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik."
Di dunia ini, kita sering berkompromi. Kita mungkin merasa "sedikit curang" dalam bisnis atau "sedikit tidak jujur" dalam pekerjaan adalah hal lumrah selama tujuannya baik. Namun, Allah SWT memiliki standar mutlak. Dia adalah At-Thayyib (Maha Baik). Segala sesuatu yang dipersembahkan kepada-Nya, apakah itu sedekah, ibadah, maupun doa harus berasal dari sumber yang bersih.
Sama seperti kita tidak akan memberikan hadiah kotor kepada orang yang kita cintai, Allah pun tidak menerima amal yang tercemar oleh harta haram.
Sering kali kita berpikir bahwa standar kesucian hanya milik para Nabi dan Rasul. Namun, hadis ini menegaskan bahwa perintah mengonsumsi makanan yang baik (thayyib) ditujukan kepada kedua golongan yakni, para Rasul, "Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih."
Orang beriman, "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik..."
Ini menunjukkan bahwa makanan bukan sekadar urusan biologis, melainkan urusan ideologis. Apa yang kita makan adalah bahan bakar bagi jiwa untuk melakukan amal shalih. Tanpa asupan yang halal, mesin ruhani kita akan mogok saat diajak beribadah.
Rasulullah SAW memberikan ilustrasi yang sangat menyentuh tentang seseorang yang sedang dalam perjalanan panjang (musafir). Secara logika spiritual, orang ini memiliki tiga syarat utama agar doanya dikabulkan, pertama sedang Safar atau perjalanan jauh adalah waktu mustajab untuk berdoa. Kedua, kondisi memprihatinkan, rambutnya kusut dan badannya berdebu (simbol kerendah hatian di hadapan Tuhan). Ketiga, memohon dengan sungguh-sungguh, Ia menengadahkan atau mengkat kedua tangan ke langit dan memanggil "Ya Rabb, Ya Rabb".
Namun, apa kata Rasulullah?
"Makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya dikabulkan?".
Ini adalah peringatan keras. Meskipun kita sudah memenuhi formalitas ibadah dan menunjukkan kesedihan yang luar biasa, penghalang fisik berupa harta haram dapat menjadi tembok tebal yang memantulkan kembali doa-doa kita ke bumi.
Halal Saja Tidak Cukup, Harus "Thayyib". Dalam Surat Al-Baqarah ayat 168, Allah berpesan: "Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik (thayyib)..."
Makanlah sebagian (makanan) halal, terkait dengan aspek hukum (zatnya bukan babi/khamr, dan cara mendapatkannya bukan dari mencuri/riba). Kemudian thayyib (baik), terkait dengan kualitas, kesehatan, dan etika. Makanan yang didapat dari menipu orang lain mungkin secara zat "ayam", tapi secara proses ia tidak thayyib.
Mengapa Allah menyuruh kita waspada? Karena setan tidak akan langsung menyuruh kita menyembah berhala. Langkah-langkah setan (khuthuwatis syaithan) sering kali dimulai dari hal-hal kecil, memaklumi uang suap kecil, mengambil hak orang lain secara halus, hingga akhirnya hati kita membatu karena terbiasa dengan yang haram.
Jika kita merenungkan hadis ini, kita akan menyadari bahwa dampak makanan haram melampaui sekadar "doa yang tidak dijawab". Harta haram yang dibawa pulang akan menjadi "api" dalam rumah tangga. Anak-anak menjadi sulit diatur, dan ketenangan batin sirna. Orang yang terbiasa dengan yang haram akan selalu merasa kurang (tidak qana'ah), karena setan selalu membisikkan ketakutan akan kemiskinan. Tubuh yang tumbuh dari yang haram akan terasa berat untuk diajak sujud dan ringan untuk melakukan maksiat.
Memang tidak mudah menjaga kehalalan di tengah sistem ekonomi yang kompleks saat ini. Namun, kita bisa memulainya dengan mengedukasi diri memahami mana transaksi yang mengandung unsur riba, gharar (ketidakjelasan), atau kezaliman. Selektif dalam mengonsumsi makanan, tidak hanya melihat label harga, tapi juga asal-usul produk. Jika menyadari ada harta yang tidak beres, segera bersihkan melalui sedekah (meski tidak bernilai pahala sedekah, tapi berfungsi sebagai pembersih) dan bertekad tidak mengulanginya.
Makanan bukan sekadar pengganjal lapar. Ia adalah penentu kualitas hubungan kita dengan Sang Pencipta. Jika hari ini Anda merasa doa-doa belum kunjung terjawab, coba tengok isi piring kita. Mungkin ada hak orang lain yang tak sengaja tertelan, atau ada cara menjemput rezeki yang perlu diperbaiki.
Mari kita ingat kembali, Allah itu Maha baik, dan mencintai segala yang baik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
