Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sebi Daily

Mengapa Diabetes dan Gagal Ginjal Kini Banyak Menjangkit Anak Muda?

Gaya Hidup | 2026-02-07 17:03:33
Ilustrasi Tulisan "Health". Foto: Production/Pexels.

Oleh: Qonita Farah Azizah_Mahasiswa Institut SEBI.

Dulu, diabetes dan gagal ginjal kerap dianggap sebagai “penyakit usia lanjut” yang umumnya muncul setelah memasuki usia 50 tahun. Namun, memasuki tahun 2026, realitas medis menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan. Kedua penyakit kronis ini kini semakin banyak menyerang generasi muda, bahkan mereka yang masih berada di usia produktif.

Fenomena ini bukan lagi sekadar persoalan kesehatan individu, melainkan telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan generasi bangsa. Pilihan gaya hidup di usia 20-an kini bukan hanya soal tren atau penampilan, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas hidup di masa depan.

Lonjakan Kasus yang Mengkhawatirkan

Peningkatan kasus diabetes dan gagal ginjal pada usia muda tidak terjadi tanpa sebab. Data dari laporan BPJS Kesehatan dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan adanya kenaikan signifikan sebesar 30 persen pada kasus gagal ginjal kronis di kelompok usia muda sepanjang 2024–2025. Sementara itu, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas telah mencapai 11,7 persen.

Angka tersebut menjadi sinyal peringatan bahwa Indonesia tengah menghadapi krisis kesehatan generasi muda. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, dampaknya tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga berpengaruh terhadap produktivitas nasional.

Gaya Hidup Modern sebagai Pemicu Utama

Lonjakan kasus ini erat kaitannya dengan pola hidup modern yang tidak dibarengi kesadaran kesehatan. Setidaknya, terdapat tiga faktor utama yang menjadi pemicu, namun kerap dianggap sepele oleh anak muda.

Pertama, tingginya konsumsi gula. Budaya mengikuti tren minuman viral dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out) membuat asupan gula harian kerap melampaui batas aman, yakni 50 gram per hari. Minuman seperti kopi susu kekinian dan boba menjadi kontributor utama lonjakan kadar gula darah.

Kedua, gaya hidup sedentari. Kebiasaan terlalu lama duduk di depan layar gawai, minim aktivitas fisik, serta budaya “mager” menurunkan sensitivitas insulin. Kondisi ini menjadi pintu masuk utama menuju diabetes tipe 2.

Ketiga, kurangnya perhatian terhadap hidrasi dan kualitas tidur. Kebiasaan jarang minum air putih serta kurang tidur secara kronis memaksa ginjal bekerja lebih keras dalam menyaring racun tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat kerusakan fungsi ginjal.

Diabetes dan Gagal Ginjal: Duo Mematikan

Perlu dipahami bahwa diabetes dan gagal ginjal merupakan “duo maut” yang saling berkaitan. Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah halus di ginjal. Akibatnya, fungsi penyaringan terganggu dan dapat berujung pada gagal ginjal kronis.

Kerusakan ini bersifat irreversible atau tidak dapat kembali normal. Artinya, masa depan yang seharusnya diisi dengan karya dan prestasi berisiko tergantikan oleh rutinitas cuci darah di rumah sakit.

Sebagian pihak mungkin beranggapan bahwa kemajuan teknologi medis mampu menjadi solusi. Namun, perlu disadari bahwa teknologi hanya membantu memperpanjang usia, bukan menjamin kualitas hidup. Pencegahan tetap menjadi langkah paling murah, efektif, dan manusiawi dibandingkan harus bergantung pada mesin seumur hidup.

Investasi Terbaik: Menjaga Kesehatan Sejak Dini

Di tengah kemudahan akses terhadap makanan dan minuman manis, biaya pengobatan justru semakin mahal. Oleh karena itu, kesehatan menjadi aset paling berharga yang tidak boleh dikompromikan.

Bagi generasi muda, investasi terbaik saat ini bukan hanya berupa saham, properti, atau aset digital, melainkan kesehatan tubuh yang terjaga hingga usia lanjut.

Rekomendasi Langkah Pencegahan

Untuk menekan risiko diabetes dan gagal ginjal sejak dini, beberapa langkah sederhana berikut dapat mulai diterapkan:

1. Mengurangi konsumsi gula harian, seperti memilih minuman dengan kadar gula rendah (less sugar) dan membatasi minuman kemasan.

2. Memperbanyak minum air putih dan menjadikannya sebagai asupan utama, minimal dua liter per hari.

3. Melakukan aktivitas fisik secara rutin, setidaknya 15 menit setiap hari untuk menjaga metabolisme tubuh.

4. Menjaga pola tidur yang cukup dan berkualitas.

5. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama kadar gula darah dan fungsi ginjal.

Jangan sampai masa muda habis di ruang tunggu rumah sakit hanya karena kelalaian menjaga kesehatan sejak dini. Setiap keputusan kecil hari ini memilih air putih daripada minuman manis, bergerak daripada duduk terlalu lama, dan tidur cukup daripada begadang akan menentukan kualitas hidup di masa depan.

Ingatlah, dirimu di masa depan akan sangat berterima kasih atas segelas air putih dan keputusanmu membatasi gula mulai hari ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image