Beragama dan Berfilsafat
Agama | 2026-01-19 12:03:19
Kalau kita membaca sejarah para cendikia muslim pada zaman nya, tidak akan terlepas dari kemampuannya memadukan potensi kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan intelektual (IQ). Sebagai contohnya adalah Al-Kindi (809-873 M) ia Dikenal sebagai Bapak Filsafat Arab, ia adalah filsuf Muslim pertama yang mengintegrasikan filsafat dan agama. Al-Kindi berpendapat bahwa wahyu (agama) tidak bertentangan dengan filsafat, sebab keduanya merupakan sumber kebenaran yang konsisten.
Para filsuf muslim lainnya pun demikian, Al-Farabi (872-950 M) yang disebut sebagai Guru Kedua setelah Aristoteles. Ia menegaskan bahwa filsafat dan agama saling berhubungan, di mana keduanya bertujuan menemukan kebenaran (Haqq). Ibnu Rusyd (Averroes, 1126-1198 M) merupakan tokoh paling vokal dalam memadukan keduanya, khususnya melalui karyanya Fashl al-Maqal. Ia berpendapat bahwa filsafat dan agama adalah dua jalan yang menuju pada kebenaran yang sama (harmonis), dan mempelajari filsafat diperbolehkan bahkan dianjurkan dalam Islam. Ibnu Sina (Avicenna, 980-1037 M) pun demikian, ia berupaya menyelaraskan pemikiran rasional dengan ajaran agama.
Saya menduga kuat bahwa bahwa sumber inspirasi para tokoh tersebut adalah dari Al-quran. Pada Q.S. Al-Mulk ayat 10
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ
Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).
Terang benderang pada ayat tersebut adanya penyesalan orang-orang masuk neraka gegara tidak mendengarkan nasihat agama dan tidak berfikir. Mendengarkan merupakan representasi agama dan berfikir merupakan representasi berfilsafat. Sehingga, jelaslah untuk menghindarkan manusia dari jurang neraka, manusia perlu beragama dan berfikir. Beragama menggunakan potensi spiritual dan berfilsafat menggunakan potensi intelektual.
berfilsafat merupakan upaya untuk mencari, mencintai kebenaran, kebijaksanaan dan ilmu. Dalam beragama, dorongan ini sangat kuat juga, tetulis dalam sebuah hadits Nabi SAW dalam riwayat Al-Baihaqi:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)
nabi SAW bersabda: jadilah engkau ilmuan, pencari ilmu, pendengar setia, pecinta sejati dan jangan jadi yang kelima, maka engkau binasa.
Jelaslah, bahwa beragama, berfilsafat yang merupakan proses pencarian keilmuan, cinta pada ilmu, Gandrung akan ilmu dan kebijaksanaan, merupakan dua hal yang bersinergi, sistem epistemologi yang saling menguatkan.
Imam Bukhari dan Muslim menempatkan ilmu pada bab tersendiri dengan redaksinya al-ilmu qoblal Qoul wal 'amal. Ini menunjukan bahwa untuk beramal, aktivitas menjalankan perintah agama perlu ilmu. Proses untuk mendapatkan ilmu dapat dilakukan dengan berfikir, berfilsafat.
Tabik,
Asep Supriyadi
Dosen IAI Al-Azhary Cianjur
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
