Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Lensa Kotak-Kotak di Balik Layar Grageh

Sastra | 2026-01-19 09:54:25

Cerpen berjudul Lensa Kotak-Kotak di Balik Layar Grageh ini mengisahkan dedikasi seorang pemuda bernama Daffa Nabil Mubarak dalam mengabadikan momen perayaan Hari Kemerdekaan di Dusun Grageh, Desa Kepuhrubuh pada Agustus 2025. Sebagai seorang content creator andal yang beroperasi di balik layar, Daffa harus berjibaku dengan berbagai kendala teknis—mulai dari cuaca buruk, insiden listrik padam yang menyebabkan file corrupt, hingga masalah format flashdisk—demi menyajikan dokumentasi yang cinematic bagi warga RT 002/RW 002.

Di bawah arahan Pak Agung selaku Ketua Pelaksana dan dukungan Pak Kadim sebagai Ketua RT, narasi ini memotret dinamika gotong royong warga, aksi jenaka Bagas Mais Langkir Rifa’i dalam lomba makan kerupuk, hingga sisi personal Daffa sebagai penggemar berat rider MotoGP, Enea Bastianini. Melalui pendekatan yang hangat dan penuh rintangan, cerita ini mengeksplorasi pentingnya peran pengabdi di balik layar dalam merawat memori kolektif sebuah komunitas melalui lensa kamera.

Matahari tanggal 15 Agustus 2025 tepat berada di atas ubun-ubun Dusun Grageh, Desa Kepuhrubuh. Di tengah riuh rendah teriakan anak-anak dan aroma tanah kering yang tertiup angin, sosok pemuda dengan kemeja kotak-kotak kombinasi warna putih, biru, dan merah muda tampak sibuk mengatur posisi. Tangannya kokoh memegang kamera, membidik setiap tawa dan peluh yang tumpah di lapangan RT 002/RW 002. Dialah Daffa Nabil Mubarak, sang pengonten andal yang sudah ditunjuk Pak Agung, sang Ketua Pelaksana, untuk menjadi saksi bisu sejarah kecil di kampung mereka.

"Daffa! Angle-nya ambil dari sini, biar kelihatan spanduk selamat datangnya!" seru Pak Agung sambil menyeka keringat di dahi. Ia tampak sibuk mengarahkan panitia lain, namun tetap ingin memastikan dokumentasi berjalan sempurna.

"Beres, Pak! Ini sudah saya setting pakai frame rate tinggi biar gerakan anak-anak pas lomba lari karung nanti kelihatan dramatis," sahut Daffa tanpa melepaskan pandangannya dari viewfinder.

Di sudut lain, Pak Kadim selaku Ketua RT, tampak mengamati kinerja warganya dengan senyum bangga. Ia menghampiri Daffa yang sedang jongkok demi mendapatkan low angle. "Sabar ya, Fa. Kameramen itu memang kerjanya di balik layar. Orang-orang lihat videonya nanti pas nobar, tapi capeknya kamu yang rasa sekarang."

Daffa terkekeh pelan. "Sudah biasa, Pak RT. Yang penting kenangan Dusun Grageh rapi dalam satu file."

Kesibukan itu mencapai puncaknya saat final lomba makan kerupuk dimulai. Bagas Mais Langkir Rifa’i, sepupu Daffa, sudah bersiap di garis depan. Kerupuk yang digantung dengan tali rafia itu tampak menari-nari ditiup angin, seolah mengejek para peserta. Daffa yang awalnya fokus merekam secara profesional, mendadak tidak bisa menahan sisi personalnya.

"Ayo, Bagas! Sedikit lagi! Jangan mau kalah sama kerupuknya!" teriak Daffa sambil tetap berusaha menjaga agar kameranya tidak shaking. Tangannya yang dibalut celana jeans itu tampak lincah berpindah posisi.

Di tengah hiruk-pikuk itu, ada sebuah momen lucu. Daffa menyadari bahwa sejak pagi tadi, tidak ada satupun foto dirinya yang sedang bekerja. Ia memanggil seorang bocah laki-laki yang sedang asyik memegang es lilin di pinggir lapangan.

"Dek, sini sebentar. Tolong pegang kamera Kakak ya? Cukup tekan tombol ini saja, arahkan ke Kakak. Biar ada bukti kalau Kakak juga ikut kerja, bukan cuma nonton MotoGP di rumah," pinta Daffa sambil nyengir. Pikirannya sempat melayang sebentar pada balapan Enea Bastianini, pembalap favoritnya, namun ia segera kembali ke realita.

Si bocah menerima kamera itu dengan bingung. "Action, Kak?" tanyanya polos.

"Iya, action! Bergaya dikit ya!" pungkas Daffa sambil berpose di tengah debu lapangan Grageh yang mulai beterbangan.

Inilah awal dari dua hari panjang yang melelahkan bagi Daffa. Dari semarak lomba di tanggal 15, hingga persiapan doa bersama dan nonton bareng film perjuangan yang rencananya digelar besok malam. Di balik lensa kameranya, Daffa bukan sekadar merekam gambar, ia sedang menjahit memori untuk warga RT 002.

Masalah mulai muncul pada pagi hari tanggal 16 Agustus, beberapa jam sebelum acara doa bersama dan nobar (nonton bareng) film perjuangan dimulai. Langit Dusun Grageh yang semula cerah mendadak berubah menjadi abu-abu pekat. Angin kencang bertiup, menerbangkan debu-debu lapangan dan mengguncang tenda yang sudah dipasang susah payah oleh warga RT 002.

Daffa sedang berada di depan laptopnya, berusaha melakukan rendering video lomba kemarin, ketika tiba-tiba listrik padam. Pet! Layar monitor menghitam.

"Aduh! Belum sempat save!" seru Daffa panik. Ia menoleh ke luar jendela, melihat dahan pohon mangga di depan rumahnya meliuk-liuk ekstrem.

Tak lama, ponselnya bergetar hebat. Nama 'Pak Agung' muncul di layar.

"Daffa! Gawat! Layar proyektor kita robek kena angin kencang tadi. Ini saya dan Pak Kadim lagi berusaha nahan tiang tenda supaya nggak roboh. Kamu sudah selesai edit videonya? Kita butuh itu buat pembukaan acara nanti malam!" suara Pak Agung terdengar berat, bersaing dengan deru angin di seberang telepon.

"Waduh, Pak, ini listrik mati. File-nya tadi sempat corrupt sedikit karena mati lampu mendadak. Saya harus ulang lagi beberapa bagian grading warnanya!" jawab Daffa tak kalah panik.

"Daffa, tolong diusahakan ya. Warga sudah sangat antusias mau lihat rekaman si Bagas menang lomba makan kerupuk kemarin. Pak Kadim juga sudah pesan ke warga kalau malam ini adalah malam apresiasi. Kamu tulang punggung visual kita, Fa!" sahut Pak Agung penuh harap sebelum sambungan terputus.

Daffa mengusap wajahnya kasar. Kemeja kotak-kotak favoritnya yang sudah disiapkan untuk acara malam nanti tampak tergeletak di atas kasur, seolah mengejeknya. Ia harus berpacu dengan waktu. Masalahnya bukan cuma listrik, tapi file video berukuran besar itu butuh waktu lama untuk di-export.

Dua jam kemudian, listrik menyala, namun masalah baru muncul. Saat Daffa mencoba membuka kembali project videonya, muncul notifikasi warning: media offline. Beberapa footage kunci, termasuk momen heroik Bagas Mais Langkir Rifa’i, entah mengapa tidak terbaca oleh sistem.

"Sial! Jangan sekarang!" gumamnya. Ia segera merogoh saku celana jeans-nya, mencari memory card cadangan. Di tengah tekanan itu, pikirannya sempat terdistraksi. Ia melihat notifikasi di ponselnya: MotoGP Sprint Race starts in 30 minutes. Pembalap favoritnya, Enea Bastianini, akan mulai start.

"Fokus, Daffa! Bastianini bisa balapan besok, tapi warga Grageh cuma punya malam ini!" bisiknya menyemangati diri sendiri.

Ia mulai bekerja dengan kecepatan tinggi. Jarinya menari di atas keyboard melakukan shortcut editing. Saat proses exporting berjalan 50%, tiba-tiba Pak Kadim datang ke rumahnya dengan napas terengah-engah.

"Fa, kabel HDMI proyektor kita hilang! Tadi sempat dipakai anak-anak buat main game di pos, sekarang nggak tahu di mana. Ada cadangan?" tanya Pak RT cemas.

Daffa tertegun. "Saya nggak ada cadangan, Pak. Tapi... sebentar, saya ingat! Si bocil yang kemarin saya suruh fotoin saya, dia sempat bawa-bawa kabel di dekat meja panitia. Coba cari di rumahnya, Pak!"

Ketegangan makin memuncak saat waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Azan Magrib sudah berkumandang. Video baru saja selesai di-export, namun ketika dicek, audionya delay. Suara sorak-sorai penonton tidak sinkron dengan gerakan Bagas yang sedang melahap kerupuk.

"Ini nggak boleh gagal," gumam Daffa. Dengan sisa tenaga dan konsentrasi, ia melakukan re-syncing secara manual. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Di luar, suara mikrofon Pak Agung sudah terdengar memanggil warga untuk berkumpul di lapangan.

"Tes, satu, dua... Bapak-bapak, Ibu-ibu, silakan merapat ke area nobar..."

Daffa menyambar flashdisk-nya, berlari menembus sisa-sisa gerimis menuju lapangan. Di sana, Pak Kadim dan Pak Agung sudah menunggunya dengan wajah tegang di depan layar proyektor yang tampak sudah ditambal dengan isolasi besar.

"Gimana, Fa? Bisa?" tanya Pak Kadim singkat.

Daffa terdiam sejenak, mengatur napasnya yang memburu, lalu mengacungkan jempolnya sambil tersenyum tipis. "Siap tayang, Pak. Grageh tidak akan kehilangan kenangannya malam ini."

Suasana di lapangan RT 002 malam itu benar-benar di ujung tanduk. Meski gerimis telah reda, sisa-sisa kekacauan akibat angin kencang tadi sore masih terasa. Layar proyektor yang ditambal seadanya bergoyang setiap kali angin malam berembus. Pak Kadim berkali-kali melirik jam tangan digitalnya, sementara Pak Agung tampak mondar-mandir di depan meja operator sembari memegang mikrofon yang kabelnya sempat terlilit.

"Fa, ini sudah jam tujuh lebih lima belas menit. Warga sudah mulai nggeremeng (menggerutu). Mana file-nya?" bisik Pak Agung dengan nada suara yang tertahan, berusaha menjaga wibawa di depan warga yang sudah duduk lesehan di atas tikar plastik.

Daffa tidak menjawab. Wajahnya pucat, diterangi cahaya biru dari layar laptop yang diletakkan di atas meja kayu reyot. Tangannya gemetar saat mencolokkan flashdisk ke laptop utama milik panitia. Matanya terpaku pada loading bar yang terasa berjalan seperti siput. Di dalam kepalanya, ia membayangkan kecepatan The Beast Enea Bastianini di lintasan balap; ia butuh keajaiban kecepatan seperti itu sekarang.

"Sabar, Pak Agung. Ini sedang copying. File-nya besar karena saya pakai kualitas high definition agar wajah Bagas pas makan kerupuk tidak pecah-pecah," sahut Daffa, berusaha tenang meski jantungnya berdegup kencang.

Tiba-tiba, layar laptop menunjukkan pesan eror: “The file is too large for the destination file system.”

Daffa tersentak. "Astaga, format flashdisk-nya masih FAT32! Harusnya NTFS!" umpatnya pelan. Ia lupa memformat ulang media penyimpanannya karena panik dikejar waktu tadi.

"Ada apa, Fa? Kok merah semua layarnya?" Pak Kadim mendekat, wajahnya tampak sangat cemas di bawah temaram lampu bohlam. "Warga sudah siap doa bersama, setelah itu mereka mau lihat hasilnya. Jangan sampai kita malu, ini acara setahun sekali."

"Sebentar, Pak RT. Saya harus compress ulang videonya secara instan. Ini masalah teknis di bitrate," jawab Daffa cepat. Jarinya menari melakukan shortcut pada keyboard dengan kecepatan yang mungkin akan membuat Bastianini bangga. Ia melakukan rendering ulang pada bagian-bagian krusial.

Di tengah tekanan itu, Bagas Mais Langkir Rifa’i menghampiri meja operator sambil membawa piring berisi sate ayam hasil konsumsi panitia. "Mas Daffa, tenang. Kalau videonya nggak muncul, biar aku saja yang akting makan kerupuk lagi di depan layar sebagai pengganti," canda Bagas, mencoba mencairkan suasana.

Daffa hanya melirik sepupunya itu dengan tajam. "Diam kamu, Gas! Ini masalah harga diri content creator Dusun Grageh!"

Klimaks terjadi saat Pak Agung sudah kehilangan kesabaran dan mulai berbicara di mikrofon, "Bapak-bapak, Ibu-ibu, mohon maaf karena kendala teknis..."

"Tunggu, Pak! Play!" teriak Daffa tiba-tiba.

Klik.

Layar putih di depan sana mendadak hidup. Bunyi sound system menggelegar, memainkan lagu Kebyar-Kebyar versi aransemen baru yang dipilih Daffa sebagai latar suara. Muncul potongan gambar slow motion saat anak-anak Grageh berlari di tengah debu lapangan pada tanggal 15 Agustus kemarin. Warna videonya tampak hangat, tajam, dan emosional berkat proses color grading yang dikerjakan Daffa dengan susah payah di tengah pemadaman listrik tadi.

Warga yang tadinya riuh mendadak sunyi. Semua mata terpaku pada layar. Puncaknya adalah saat adegan Bagas makan kerupuk muncul. Daffa menyisipkan efek zoom-in pada ekspresi Bagas yang penuh perjuangan, disinkronkan dengan dentuman bass yang pas.

"Wooooooo!" sorak warga pecah seketika. Gelak tawa membahana saat melihat wajah-wajah mereka sendiri masuk ke dalam bingkai sinematik.

Pak Kadim menepuk bahu Daffa dengan keras. "Luar biasa, Fa. Kamu benar-benar punya feeling yang bagus buat momen. Lihat itu, warga sampai lupa kalau tadi mereka sempat protes."

Daffa menyandarkan punggungnya ke kursi plastik, napasnya yang sesak perlahan kembali teratur. Kemeja kotak-kotak putih-biru-merah mudanya kini basah oleh keringat dingin, bukan lagi karena gerimis. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans-nya, melihat hasil balapan MotoGP sebentar, lalu tersenyum tipis. Bastianini mungkin menang di lintasan, tapi malam ini, di RT 002/RW 002 Dusun Grageh, Daffa-lah yang memenangkan podium tertinggi di hati warga.

"Mas Daffa, fotokan aku lagi dong pas lagi nobar begini! Buat update status!" celetuk si bocil yang kemarin memegang kameranya, kini sudah berdiri di samping Daffa dengan wajah polos tanpa dosa.

Daffa tertawa lepas. "Nanti ya, Dek. Sekarang biarkan Kakak menikmati editing paling epik dalam sejarah hidup Kakak ini dulu."

Malam semakin larut di Dusun Grageh, namun semangat di lapangan RT 002/RW 002 justru mencapai puncaknya. Setelah pemutaran video dokumenter lomba yang emosional, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang khidmat dan nonton bareng film perjuangan. Di balik meja operator, Daffa akhirnya bisa benar-benar mengembuskan napas lega. Ketegangan yang tadinya melilit ulu hatinya kini mencair, digantikan oleh rasa puas yang membuncah setiap kali mendengar tepuk tangan warga.

Pak Kadim berjalan mendekat, membawa segelas teh hangat yang asapnya masih mengepul. "Minum dulu, Fa. Kamu sudah bekerja melampaui tugasmu. Dokumentasi ini bukan sekadar video, tapi warisan buat anak cucu kita nanti kalau ingin melihat bagaimana rukunnya Dusun Grageh di tahun 2025," ujar Pak RT dengan nada tulus sambil menyodorkan gelas tersebut.

"Terima kasih, Pak RT. Saya senang kalau warga senang," jawab Daffa singkat sebelum menyeruput tehnya.

Pak Agung, sang Ketua Pelaksana yang sedari tadi sibuk mengurus konsumsi, ikut bergabung. Ia menepuk-nepuk pundak Daffa yang terbalut kemeja kotak-kotak andalannya. "Fa, besok-besok jangan kapok ya jadi content creator tetap kita. Saya lihat tadi di Instagram desa, cuplikan yang kamu unggah sudah banyak yang like dan share. Dusun kita jadi kelihatan keren sekali, sangat cinematic!"

Daffa terkekeh, "Siap, Pak Agung. Asal jangan ada insiden proyektor robek atau listrik padam lagi saja, jantung saya rasanya hampir copot tadi."

Di tengah obrolan itu, Bagas menghampiri dengan gaya tengilnya yang khas, masih mengenakan celana jeans yang kotor terkena noda kerupuk dan debu lapangan. "Mas Daffa, karena videoku tadi jadi highlight, aku minta file mentahnya ya? Mau aku jadikan konten reels pakai lagu favoritmu itu, siapa tahu bisa secepat The Beast Enea Bastianini kalau lagi maneuver di tikungan!"

"Ambil saja di flashdisk, Gas. Tapi ingat, credit kameramennya jangan lupa dicantumkan," sahut Daffa sambil tertawa kecil. Ia kemudian merogoh ponselnya, melihat layar yang menampilkan foto dirinya hasil jepretan si bocil kemarin. Meski fotonya sedikit blur dan miring, namun ekspresi Daffa yang sedang fokus di balik lensa tampak sangat autentik.

Daffa kemudian membuka aplikasi media sosialnya, mengunggah foto tersebut dengan keterangan singkat namun bermakna: “Behind the lens, creating memories. Grageh Pride 2025.” Tak lupa, ia menyematkan tagar favoritnya dan me-mention akun resmi penggemar Bastianini sebagai bentuk dedikasi kecilnya.

Saat film perjuangan berakhir dan warga mulai bergotong-royong merapikan tikar, Daffa mulai mengemasi peralatannya. Ia memasukkan kamera, kabel HDMI cadangan yang akhirnya ditemukan, dan laptopnya ke dalam tas dengan sangat hati-hati. Meskipun ia melewatkan siaran langsung balapan MotoGP demi tugas ini, ada kepuasan yang tidak bisa digantikan oleh podium mana pun.

"Ayo pulang, Fa. Biar kuserahkan sisa tugas ini pada pemuda yang lain. Kamu butuh istirahat," ajak Pak Kadim sambil mematikan lampu sorot lapangan.

Daffa mengangguk. Sambil berjalan pulang menembus dinginnya malam Dusun Grageh, ia menyadari satu hal: menjadi orang di balik layar memang tidak membuat wajahnya terpampang besar di spanduk, namun melalui lensanya, ia telah mengabadikan kebahagiaan yang akan terus diputar berulang kali dalam memori warga. Sang pengonten handal itu melangkah mantap, siap menyongsong hari esok dengan ide-ide visual yang lebih gila lagi.

Tiga hari telah berlalu sejak gema lagu Kebyar-Kebyar terakhir kali memantul di dinding-dinding rumah warga RT 002. Dusun Grageh kembali ke ritme normalnya, namun ada yang berbeda di jagat maya. Di sebuah sudut kamar yang masih menyisakan aroma kopi, Daffa Nabil Mubarak duduk bersandar, memandangi layar monitornya yang menampilkan progress bar unggahan video versi extended cut di kanal YouTube desa. Kemeja kotak-kotak putih-biru-merah muda yang menjadi saksi bisu perjuangannya kini tergantung rapi di kapstok, tampak sedikit kusam di bagian kerah akibat keringat yang mengering saat mengejar momen Bagas makan kerupuk.

Ponselnya berdenting. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp "Panitia 17-an Grageh".

"Fa, ini videonya sudah ditonton 500 kali dalam dua jam! Pak Kades sampai telepon saya, katanya editing-nya kelas dunia," tulis Pak Agung lengkap dengan emotikon jempol yang berderet.

Daffa tersenyum tipis, jarinya lincah membalas, "Alhamdulillah, Pak. Itu berkat bantuan doa warga juga pas listrik mati kemarin."

Tak lama, Pak Kadim ikut menimpali, "Bukan cuma soal video, Fa. Kamu berhasil menangkap 'jiwa' Dusun Grageh. Saya paling suka adegan slow motion pas doa bersama. Kelihatannya sangat peaceful dan solemn."

Daffa menggeser duduknya, merapikan letak celana jeans-nya yang masih ia kenakan karena bersiap berangkat kuliah. Ia teringat kembali pada si bocil yang sempat memotretnya. Foto itu kini sudah ia poles dengan sedikit grading warna dan ia jadikan foto profil. Di sana, Daffa tampak seperti seorang profesional yang sedang mengarahkan cinematography sebuah film besar, padahal ia hanya sedang berusaha agar kabel HDMI-nya tidak lepas.

Tiba-tiba, Bagas menyerobot masuk ke kamar Daffa tanpa mengetuk pintu. "Mas! Lihat ini! Enea Bastianini baru saja unggah foto latihan di Instagram! Wah, andai dia tahu fans beratnya di Grageh adalah seorang content creator handal," seru Bagas sambil menunjukkan layar ponselnya.

Daffa tertawa lepas, "Hus! Jangan disamakan. Bastianini itu mengejar lap time, kalau aku cuma mengejar timeline supaya tidak deadline. Tapi ya, setidaknya semangat The Beast itu yang bikin aku tetap on fire pas laptop hampir crash kemarin."

"Tapi beneran, Mas," suara Bagas sedikit merendah, lebih tulus. "Makasih ya sudah bikin aku kelihatan keren di video itu. Padahal aslinya mukaku belepotan kerupuk dan nggak ada estetik-estetiknya sama sekali. Kamu benar-benar punya magic touch."

Daffa menepuk bahu sepupunya itu. "Itu tugas dokumentator, Gas. Menjadikan yang biasa terlihat luar biasa. Tapi ingat, jangan besar kepala. Tugasmu sekarang bantu Pak Kadim bereskan sisa kursi di balai RT."

Setelah Bagas pergi, Daffa kembali menatap layar laptopnya. Unggahan videonya akhirnya selesai. Ia mengetikkan takarir terakhir di kolom komentar: "Behind the lens, I found more than just images; I found the heart of my village."

Ia menyadari bahwa statistik penonton atau ribuan likes tidaklah sebanding dengan kepuasan batin saat melihat Pak Kadim tersenyum bangga atau Pak Agung yang merasa bebannya terangkat. Menjadi seorang pengonten di desa terpencil seperti Kepuhrubuh bukanlah soal popularitas, melainkan soal bagaimana merawat ingatan kolektif agar tidak lekang oleh waktu.

Sebelum mematikan laptop, Daffa menyempatkan diri membuka situs berita MotoGP, melihat jadwal balapan berikutnya. Ia menarik napas panjang, menutup layar laptop dengan bunyi klik yang memuaskan, dan mengambil kunci motornya. Di balik lensa kotak-kotak itu, Daffa telah menyelesaikan misi besarnya. Kini, ia siap kembali menjadi warga biasa, setidaknya sampai perayaan tahun depan memanggilnya kembali untuk kembali bertugas di balik layar.

Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh Daffa Nabil Mubarak bukan sekadar urusan memencet tombol shutter atau menggeser timeline pada aplikasi editing. Melalui kemeja kotak-kotak dan dedikasinya di balik layar, kita belajar bahwa sebuah pengabdian tidak selalu harus tampil di barisan paling depan untuk diakui. Ada sebuah amanat tersirat yang terpancar dari debu lapangan Grageh: bahwa merawat kenangan kolektif adalah bentuk cinta yang paling sunyi namun paling abadi.

Daffa mengajarkan kita tentang pentingnya etos kerja dan profesionalisme di tengah keterbatasan teknis. Ketika listrik padam atau file mengalami corrupt, ia tidak memilih untuk menyerah pada keadaan, melainkan berpacu dengan waktu layaknya maneuver tajam seorang rider di lintasan balap. Di sini kita memahami bahwa menjadi bermanfaat bagi lingkungan sekitar memerlukan ketangguhan mental yang luar biasa; sebuah semangat the beast yang diaplikasikan dalam pengabdian sosial.

Lebih dari itu, kisah ini menitipkan pesan bahwa setiap orang memiliki peran krusialnya masing-masing. Pak Kadim sebagai pemegang kebijakan, Pak Agung sebagai penggerak massa, Bagas sebagai representasi semangat pemuda, dan si bocil sebagai simbol regenerasi. Daffa hadir sebagai "penjahit" yang menyatukan semua fragmen tersebut menjadi satu kesatuan visual yang indah. Tanpa dokumentasi yang baik, sebuah peristiwa besar mungkin akan terkikis oleh waktu, namun melalui lensa yang presisi, setiap keringat dan tawa warga RT 002/RW 002 akan tetap vivid dan hidup bahkan bertahun-tahun kemudian.

Mari kita petik hikmahnya: jangan pernah meremehkan peran di balik layar. Sebab, seringkali mereka yang tidak tampak di depan kamera justru merupakan orang-orang yang memastikan bahwa cahaya kebersamaan kita tetap bersinar terang. Menjadi pengonten andal bukan soal memiliki alat yang paling mahal, melainkan soal memiliki hati yang cukup besar untuk menangkap jiwa dari setiap momen yang ada. Di balik setiap frame yang kita tonton dengan nyaman, selalu ada "Daffa-Daffa" lain yang mengorbankan waktu istirahat dan kegemaran pribadinya demi sebuah senyum kepuasan orang banyak. Itulah sejatinya pahlawan modern di era digital; mereka yang bekerja dalam diam, namun karyanya bicara dengan lantang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image