Guru, Semoga tetap Dimuliakan
Humaniora | 2026-01-17 18:45:55
Saya bergumam, Guru tidak banyak menuntut karena sudah tertanam dalam hatinya rasa tidak enak menuntut, karena sudah terdogma, mengajar adalah tugas suci, meskipun dalam dirinya mungkin terdapat kekurangan finansial. Dalam hatinya berkata dengan keyakinan, biarlah Tuhan yang maha melihat memberikan pahala. Keikhlasan menjadi ruh dalam mengajar.
Saya menyuarakan ini bukan sebagai seorang guru, tapi sebagai anak ideologis dari peran-peran guru mencerdaskan anak bangsa. Saya merasa prihatin dengan kondisi guru yang mendapatkan upah tidak layak. Miris rasanya mendengar kabar guru-guru kita yang dalam hatinya mungkin menjerit dalam kesunyian.
Kalaulah mungkin kita mendengar jeritan tersebut, kita pun akan menumpahkan air mata jeritan kepedihan, tetesan air mata empati, ya Rab, betapa kuatnya engkau para guru menghadapi kehidupan. Engkau memang para guru hebat.
Namun, sebagai pemerintah yang memiliki kewenangan, kebijakan, wajib baginya untuk memperhatikan kesejahteraan para guru. Begitupun dengan masyarakat dan para murid, wajib untuk memuliakan para guru, karena dengan jasanya kita dapat mengenal kebenaran, mendapatkan ilmu pengetahuan dan mengenal Tuhan. Laulal murobbi maa 'araftu rabbi.
Sebagai seorang anak yang lahir dari ideologis seorang guru, saya, kita tidak mungkin melepaskan jasa guru. Lantas bagaimana kita menghormati guru?
Guru harus diposisikan mulia, karena para guru yang merupakan seorang ulama merupakan pewaris kenabian. Al-ulama' warotsatul anbiya. Para guru tidak mewariskan harta dan tahta, tetapi mewariskan ilmu. Dengan ilmu tersebut para murid mendapatkan kunci-kuncinya sekaligus juga guru mendidik adab, etika dan puncaknya mengenalkan kepada jalan kebenaran, terpuncaknya mengenalkan Tuhan.
Ali bin Abi thalib, sahabat nabi yang merupakan pintu-pintu ilmu, mengatakan:
أنا عبد من علمني حرفا واحدا إن شاء باع وإن شاء استرق
Aku adalah budak bagi orang yang mengajariku satu huruf; jika ia mau, ia boleh menjualku; jika ia mau, ia boleh menjadikanku budak
Coba renungkan, sudah berapa huruf, rentetan hikmah, pengajaran dan pendidikan yang diberikan guru kepada kita?
Semoga para pemimpin, pemangku kebijakan dimanapun berada dapat mendengar, melihat, memperhatikan dan memberikan kebijakan, keadilan bagi para guru, mendengarkan jeritan kesunyian.
Semoga kelak para pemimpin kita mendapatkan naungan dimana tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah. Naungan tersebut diberikan kepada 7 golongan yang salah satu diantaranya diberikan imam, pemimpin yang adil, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam muslim dari Abu Hurairah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ
Saya khawatir kalau guru-guru betul-betul tidak memberikan nasihat petunjuknya untuk memberikan pencerahan pada umat. Apakah jadinya umat ini? Saya khawatir kalau keberkahan ilmu tidak didapatkan lantaran kita tidak menghormati, memuliakan guru. Na'udzubillah, jika kembali pada jahiliyah (darkness).
Coba kita renungkan syair imam azzarnuzi
إِنَّ المُعَلِّمَ وَالطَّبيبَ كِلَاهُمَا ... لَا يَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَافَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيْبَهَا ... وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ إِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمَا
Sesungguhnya guru dan dokter, keduanya, tidak akan memberikan nasihat (pelayanan) terbaik jika mereka tidak dihormati.
Maka bersabarlah menanggung penyakitmu jika engkau menjauhi (berlaku kasar pada) dokter
dan terimalah kebodohanmu jika engkau menjauhi guru
Di negara-negara maju, kesejahteraan guru diperhatikan, coba kita cek salah satu indikator kesejahteraan guru: gaji di negara-negara maju dan bandingkan dengan di Indonesia yang kaya raya ini. Kemanakan kekayaan itu dikeluarkan? Sudahkah guru disejahterakan, sudahkah guru-guru kita dimuliakan?
Tabik,
Asep Supriyadi
Dosen IAI Al-Azhary Cianjur
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
