Kebakaran di Terra Drone Indonesia Kronologi Fakta Utama
Info Terkini | 2026-01-21 19:29:38
Pada Selasa, 9 Desember 2025, sekitar pukul 12.43 WIB, sebuah kebakaran hebat melanda gedung milik Terra Drone Indonesia di Jalan Letjen Soeprapto, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat. Gedung ini berlantai tujuh dan berfungsi sebagai kantor/perkantoran serta area penyimpanan dan pengujian peralatan drone milik perusahaan. Kebakaran diduga bermula di lantai pertama dari bagian gudang atau penyimpanan baterai, dengan dugaan kuat bahwa penyebabnya adalah baterai litium yang mengalami korsleting atau thermal failure. Karyawan sempat berusaha memadamkan api dengan lima alat pemadam api ringan (APAR) tetapi upaya tersebut gagal karena asap dan api cepat menyebar. Api dengan cepat merambat ke lantai atas. Beberapa saksi menyebut ada ledakan keras sebelum api besar muncul. Tim pemadam kebakaran dikerahkan dalam jumlah besar sekitar 101 petugas dengan 28–29 unit mobil pemadam, dan upaya pemadaman dilakukan cukup intens hingga api berhasil dipadamkan sekitar tiga jam setelah kebakaran dimulai.
Jumlah Korban Kebakaran
Total korban meninggal dunia: 22 orang. Semua korban dipastikan adalah karyawan Terra Drone. Profil dari 22 korban tersebut, ada 15 perempuan dan 7 laki-laki — termasuk satu wanita hamil. Jumlah yang selamat dari kebakaran: 19 orang. Mayoritas korban ditemukan di lantai 3 dan 4, meskipun asal api berada di lantai 1, penyebab utama kematian diyakini karena sesak napas akibat asap dan gas beracun, bukan karena luka bakar langsung. Menjelang Rabu (10 Desember 2025), seluruh 22 jenazah telah diidentifikasi oleh tim forensik di RS Polri.
Faktor Pemicu dan Kekurangan Sistem Keselamatan
Dugaan utama: kebakaran dipicu oleh baterai litium umumnya baterai drone yang meledak atau korsleting. Setelah kejadian, diketahui bahwa gedung tersebut tidak dilengkapi sistem pencegahan kebakaran modern seperti sprinkler, smoke detector, jalur evakuasi darurat yang memadai. Karena dianggap sebagai “ruko / toko-kantor” bukan gedung kantor kelas tinggi, izin dan inspeksi keselamatan dari instansi berwenang pun disebut belum dilakukan secara menyeluruh. Menurut saksi dan komentar di media sosial, banyak yang heran bahwa gedung yang digunakan untuk menyimpan perangkat drone termasuk baterai dan alat elektronik bisa dioperasikan tanpa standar keselamatan yang memadai. Sebagian menyebut hal ini sebagai “kematian karena kelalaian administratif.”
Respon Perusahaan dan Pemerintah
Pihak Terra Drone Indonesia telah mengonfirmasi insiden dan menyampaikan belasungkawa mendalam atas hilangnya nyawa karyawan. Mereka menyatakan akan bekerja sama penuh dengan pihak berwenang untuk investigasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Gubernur Pramono Anung, menyatakan akan menanggung semua biaya pemakaman korban dan membantu keluarga korban. Tito Karnavian. Menteri Dalam Negeri yang membawahi pengawasan keselamatan bangunan setelah meninjau lokasi, menegaskan bahwa kejadian ini menjadi evaluasi serius bagi regulasi pengawasan bangunan agar kebakaran mematikan seperti ini tidak terulang.
Dampak Pelajaran: bagi Industri, Pemerintah, dan Keselamatan Bekerja
Insiden ini mengguncang industri drone/teknologi: ketika sebuah perusahaan teknologi tinggi ternyata menyimpan perangkat berisiko tinggi (baterai litium) perlunya SOP keselamatan, penyimpanan baterai, pengawasan, dan proteksi kebakaran yang ketat. Menjadi sorotan regulasi & pengawasan bangunan terutama jenis ruko/gedung kecil: jika dipakai untuk kantor/perusahaan dengan bahan berisiko, wajib ada sistem deteksi kebakaran, jalur evakuasi darurat, inspeksi rutin. Untuk seluruh perusahaan: pentingnya pelatihan HSE (Health, Safety & Environment), kewaspadaan terhadap penyimpanan baterai & bahan mudah terbakar. Bagi pekerja & publik: kejadian ini mengingatkan bahwa “kantor” tidak selalu aman, penting mengecek standar keselamatan jika bekerja di gedung bertingkat atau dengan bahan berisiko.
Penutup: Suka, Evaluasi, dan Harapan
Kebakaran di gedung Terra Drone merupakan tragedi besar yang mengakibatkan puluhan korban jiwa, banyak keluarga kehilangan orang tercinta, dan kepercayaan industri serta publik terhadap standar keselamatan mendadak goyah. Di satu sisi, insiden ini menyoroti betapa fatalnya kelalaian sistem keselamatan & regulasi bangunan. Di sisi lain, tragedi ini bisa menjadi titik balik penting, untuk memperkuat regulasi, standar kerja, serta kesadaran bersama bahwa keselamatan tidak boleh dianggap remeh, terutama di tempat kerja.
Semoga keluarga korban diberi ketabahan, dan semoga insiden ini menjadi pengingat bagi semua pihak: keselamatan pekerja harus dijunjung tinggi, regulasi harus ditegakkan, dan setiap perusahaan bertanggung jawab atas nyawa manusia.
(Penulis:Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
