Menyalin Buku di Papan Tulis
Sekolah | 2026-01-17 17:06:07
Kisah awal mulanya saya sendiri pun -secara pasti- kurang tahu, atau lebih tepatnya lupa. Entah mulai kapan dan karena apa. Pengalaman yang saya ingat, ketika duduk di bangku kelas IV SD Negeri, di sebuah kampung di kabupaten Rembang, saya beberapa kali diminta ibu atau bapak guru untuk menyalin atau menuliskan kembali isi buku miliknya ke papan tulis.
Papan tulis kami terbuat dari kayu atau semacam triplek berwarna hitam, dengan ukuran yang cukup lebar. Sebagian orang di daerah kami menyebutnya blabak. Alat menulisnya memakai kapur putih. Stok kapurnya satu kotak kardus kecil dekat meja guru. Agar mencapai bagian atas papan tulis, kadang saya perlu menjinjit.
Jika papan tulis sudah penuh dengan tulisan saya, maka saya pun bertanya kepada teman-teman, "Sudah selesai semua apa belum?"
Apabila jawabannya 'sudah' maka tulisan saya di papan tulis itu saya hapus menggunakan penghapus papan tulis yang pegangannya terbuat dari kayu tetapi ringan. Kemudian saya lanjutkan menyalin halaman buku berikutnya.
Namun bila ada yang menjawab 'belum' maka saya duduk dulu, kadang duduk di kursi saya, kadang sesekali duduk di kursi guru di depan kelas. Dahulu pernah ada teman yang selalu menjawab 'belum selesai' dan ternyata ketika saya menulis di papan tulis, dia ramai sendiri, asyik mengobrol dengan lainnya.
Bilamana saya disuruh menyalin di papan tulis? Biasanya ketika jam pelajaran kosong karena guru kami sedang ada acara. Mungkin ada rapat atau kegiatan lainnya sehingga mereka tidak bisa mengajar langsung di kelas.
Awalnya guru masuk kelas sebentar untuk memberi kabar lalu mempercayakan saya untuk menyalin bukunya. Kadang pernah langsung memanggil saya dan ditunjukkan bagian mana yang harus ditulis hari itu.
"Tulis mulai halaman ini sampai waktunya habis, ya," pesan beliau.
Ketika jam pelajaran kosong, biasanya murid-murid -termasuk saya- sangat senang, tetapi kelas sering berisik sehingga mengganggu kelas sebelah. Tetapi para guru tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Mereka memberi kegiatan.
Pada zaman sekolah SD saya dulu, banyak murid yang tidak punya buku paket. Ada beberapa buku dimana yang memilikinya hanya para guru saja. Di masa itu, buku seperti masih menjadi barang mewah. Beda cerita dengan buku paket yang dipinjamkan secara turun-temurun dari sekolah (pemerintah).
Buku yang masih saya ingat untuk disalin adalah RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap). Sebagai contoh adalah susunan nama menteri Kabinet Pembangunan. Pernah juga daftar daerah penghasil bahan tambang atau kekayaan alam.
Bagian yang paling saya senangi adalah ketika buku milik guru dipinjamkan kepada saya atau boleh saya bawa pulang untuk saya tulis di buku tulis saya di rumah sepulang sekolah. Uraian yang saya salin sering kali lebih banyak dari yang saya tulis di papan tulis sebelumnya . Saya bisa membaca bab atau bagian-bagian setelahnya. Dalam hal ini saya membaca uraian suatu tema yang sama minimal dua kali, sehingga lebih ingat. Sambil menyelam minum air.
Apakah ada keuntungan yang lain? Ada. Beberapa kali, ketika jam istirahat, saya dibonceng oleh Pak Guru Bambang dengan sepeda motornya diajak ke warung dekat pasar di desa sebelah. Untuk apa? Untuk membeli es campur atau es cao untuk para guru. Jumlahnya bisa mencapai belasan bungkus. Biar lebih nikmat, dilengkapi dengan jajanan tradisional. Ketika penjualnya masih sibuk membungkus, saya dan Pak Guru menikmati jajanan sambil duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu itu. Di warung berdinding gedhek dari anyaman bambu yang lokasinya dekat jembatan Jasem.
Pada zaman itu untuk memfotokopi buku pun perlu berpikir ulang apalagi kalau bukunya tebal. Pun, belum ada pula buku lembar kegiatan siswa alias LKS. Maka menulis bersama-sama dari papan tulis adalah jalan tengah yang paling ekonomis dan praktis dalam mengisi jam kosong. Selain melatih keluwesan tangan dan secara tidak sengaja telah belajar lewat kegiatan membaca untuk ditulis kembali itu.
Ketika saya menyalin buku di papan tulis, kadang beberapa teman dari kelas lain menengok dari balik jendela kaca dan melambaikan tangan. Mungkin mereka sekadar ingin menyapa.
Berdiri sekitar satu jam di depan kelas untuk menyalin buku saat itu seperti tidak terasa. Mungkin karena pengalaman kecil itulah akhirnya saya pernah memiliki cita-cita masa kecil untuk menjadi seorang guru, meskipun garis takdir harus berkata lain. Tetapi, setidaknya sudah pernah sedikit membantu pekerjaan bapak ibu guru dengan peran sederhana yang saya mampu saat itu.
(Sekadar menuliskan secuil jejak ingatan, Menteng, 17 Januari 2026)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
