Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alifa Ilarakhis Juli Nur

Belajar Diam-Diam dari Balik Layar KAI: Sebuah Cerita Magang yang Mengubah Cara Pandang

Curhat | 2026-01-16 22:02:13
Gambar PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Awalnya, saya mengira magang hanyalah sebuah tahapan formal yang harus dilewati demi memenuhi tuntutan akademik. Datang ke kantor, menjalankan tugas yang diberikan, lalu pulang dengan catatan harian sebagai bahan laporan akhir. Tidak ada ekspektasi besar, apalagi bayangan bahwa pengalaman ini akan meninggalkan kesan menadalam. Namun, sejak hari pertama menjalani magang di Divisi Human Capital PT Kereta Api Indonesia (Persero), saya mulai menyadari bahwa magang bukan sekadar soal bekerja, melainkan tentang belajar memahami kehidupan profesional secara lebih utuh.

Berada di lingkungan KAI membuka mata saya bahwa perusahaan besar tidak hanya berjalan karena sistem yang rapi atau teknologi yang canggih. Di balik jadwal kereta yang teratur dan operasional yang tampak kompleks, ada kerja manusia yang sering kali tidak terlihat. Divisi Human Capital menjadi tempat saya memahami bahwa keberlangsungan sebuah perusahaan sangat bergantung pada bagaimana manusia di dalamnya dikelola, dihargai, dan dikembangkan. Di sinilah saya belajar bahwa sumber daya manusia bukan angka dalam laporan, melainkan individu dengan peran dan cerita masing-masing.

Pada minggu-minggu awal magang, saya lebih banyak mengamati daripada berbicara. Saya mengamati bagaimana para pegawai bekerja dengan tenang, menyelesaikan tugas administrasi yang tampak sederhana tetapi penuh tanggung jawab. Dari situ saya belajar bahwa profesionalisme tidak selalu ditunjukkan dengan hal besar. Ketelitian, konsistensi, dan sikap saling menghargai justru menjadi fondasi utama dalam dunia kerja. Saya menyadari bahwa bekerja dengan baik sering kali berarti bekerja tanpa harus selalu terlihat.

Pengalaman di Divisi Human Capital juga mempertemukan saya dengan sisi empati dalam organisasi. Saya melihat bagaimana kebijakan, data kepegawaian, dan proses administrasi sejatinya berhubungan langsung dengan kehidupan banyak orang. Setiap keputusan memiliki dampak, dan karena itu perlu dijalankan dengan kehati-hatian. Dari sini, saya mulai memahami bahwa mengelola manusia membutuhkan kepekaan, bukan hanya kecakapan teknis.

Tidak dapat dipungkiri, perjalanan magang ini juga diwarnai dengan keraguan dan rasa tidak percaya diri. Ada momen ketika saya takut melakukan kesalahan, merasa belum cukup mampu, atau bingung menghadapi ritme kerja yang berbeda dari dunia perkuliahan. Namun, justru dalam situasi itulah saya belajar menghadapi diri sendiri. Saya belajar untuk berani bertanya, menerima arahan, dan menyadari bahwa belajar tidak selalu nyaman. Lingkungan kerja yang suportif perlahan membuat saya lebih percaya diri untuk berkembang.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa banyak pelajaran penting yang tidak pernah tertulis dalam buku teks. Tentang kedisiplinan yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Tentang tanggung jawab yang dibangun dari kepercayaan. Tentang etika kerja yang tercermin dari sikap sederhana datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh, dan menjaga komunikasi dengan baik. Hal-hal kecil ini perlahan membentuk cara pandang saya tentang dunia kerja yang sesungguhnya.

Magang di KAI juga mengajarkan saya bahwa bekerja adalah proses kolaboratif. Tidak ada peran yang sepenuhnya berdiri sendiri. Setiap bagian saling terhubung dan saling mendukung. Dari balik layar Divisi Human Capital, saya melihat bagaimana kerja tim menjadi kunci agar roda organisasi tetap berjalan. Kesadaran ini membuat saya lebih menghargai peran orang lain, sekecil apa pun kontribusinya.

Di akhir masa magang, saya menyadari bahwa pengalaman ini bukan hanya tentang mengenal dunia profesional, tetapi juga tentang mengenal diri sendiri. Saya belajar diam-diam tanpa banyak sorotan tentang kedewasaan, tanggung jawab, dan cara memandang masa depan dengan lebih realistis. Magang ini mungkin telah usai, tetapi pelajaran yang saya peroleh akan terus saya bawa dalam langkah-langkah berikutnya.

Karena terkadang, perubahan terbesar justru lahir dari pengalaman yang dijalani dengan tenang, namun meninggalkan makna yang mendalam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image