Spektrum di Balik Debur Parangtritis
Sastra | 2026-01-23 15:45:43
Cerpen ini mengisahkan perjalanan intelektual dan spiritual dua mahasiswa sains, Bram dan Siska, di pesisir Pantai Parangtritis. Konflik bermula ketika Siska, dengan ego akademisnya, mengabaikan kearifan lokal tentang larangan mengenakan pakaian berwarna hijau dan memilih memakai outer hijau lumut demi membuktikan bahwa mitos tersebut hanyalah urban legend. Namun, perdebatan logika mereka seketika berubah menjadi perjuangan hidup dan mati saat Siska terseret oleh kekuatan arus rip current.
Melalui peristiwa mencekam tersebut, narasi ini membedah mitos penguasa laut selatan bukan sebagai takhayul semata, melainkan sebagai bentuk risk management tradisional yang selaras dengan prinsip fisika. Penjelasan mengenai refraction, wavelength, serta fenomena Purkinje shift menjadi jembatan yang menghubungkan antara narasi mistis Nyi Roro Kidul dengan realitas ilmiah mengenai optical camouflage. Cerpen ini membawa pesan mendalam tentang pentingnya cultural intelligence dan kerendahan hati manusia di hadapan spektrum alam yang mahaluas, membuktikan bahwa sains dan kearifan lokal sering kali merupakan dua bahasa berbeda yang membicarakan kebenaran yang sama.
Matahari baru saja tergelincir ke ufuk barat, menciptakan semburat jingga yang kontras dengan pekatnya Samudra Hindia. Di bibir Pantai Parangtritis, angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam yang menusuk indra penciuman. Bram berdiri mematung, menatap gulungan ombak yang menderu layaknya raksasa yang sedang gelisah. Di sampingnya, Siska sibuk merapikan outer berbahan linen warna hijau lumut yang ia kenakan, mengabaikan tatapan cemas dari beberapa penduduk lokal yang melintas.
"Siska, aku serius. Lebih baik kamu ganti baju itu sekarang sebelum kita jalan lebih jauh ke arah laguna," ujar Bram dengan nada rendah, matanya tak lepas memantau garis imajiner yang konon menghubungkan pantai ini dengan Keraton dan Gunung Merapi.
Siska tertawa kecil, suara tawanya nyaris tenggelam oleh suara deburan breakwater. "Bram, hari gini kamu masih percaya takhayul? Kita ini mahasiswa sains, bukan sedang syuting film horor kolosal. Nyi Roro Kidul tidak akan mendadak muncul dari buih ombak hanya karena aku pakai warna favoritnya, kan?"
"Ini bukan soal berani atau tidak, Sis. Ini soal respect terhadap narasi lokal," balas Bram cepat. Ia teringat jurnal yang baru dibacanya tentang Rational Emotive Therapy dalam budaya Jawa. "Masyarakat di sini meyakini garis imajiner itu sebagai simbol filosofis hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Hijau dianggap sakral, milik sang penguasa laut selatan. Jika kamu melanggarnya, mereka percaya kamu akan 'diambil' untuk menjadi bagian dari kerajaannya di bawah sana."
Siska menghentikan langkahnya, menatap hamparan air laut yang dari kejauhan tampak berwarna hijau gelap akibat pantulan ganggang dan kedalaman air. "Ditarik ke bawah laut dan tidak akan pernah ditemukan lagi? Itu terdengar seperti urban legend untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak berenang terlalu jauh, Bram."
"Mungkin terdengar seperti mitos, tapi ada alasan yang jauh lebih logis di balik larangan itu," Bram menghela napas, berusaha mencari celah agar logika Siska bisa menerima. "Kamu lihat warna air itu? Di bawah sana, spektrum cahaya bekerja dengan cara yang berbeda. Hijau bukan sekadar warna kesukaan sang ratu, tapi itu adalah warna kamuflase yang paling berbahaya di medan ini."
Siska menaikkan sebelah alisnya, mulai tertarik. "Maksudmu?"
"Pantai Selatan punya karakteristik ombak yang ganas dengan arus rip current yang mematikan. Jika terjadi sesuatu—dan aku sangat berharap tidak—baju hijau itu akan menjadi musuh terbesarmu. Di mata tim Search and Rescue (SAR), kamu akan melebur dengan warna air laut. Kamu akan menjadi transparan di tengah luasnya samudra," jelas Bram tajam, matanya menatap lurus ke arah Siska yang mulai terdiam melihat buih ombak menyapu kakinya.
Siska terdiam sejenak, namun ego intelektualnya lebih cepat menguasai keadaan. Ia melangkah lebih dekat ke zona swash, tempat air laut menipis dan berbuih. "Argumen yang menarik, Bram. Tapi probabilitas terjadinya rip current di titik ini sedang rendah berdasarkan data forecast yang kubaca pagi tadi," sahutnya sembari merentangkan tangan, membiarkan outer hijau lumutnya berkibar ditiup angin laut yang kian kencang.
Tiba-tiba, sebuah suara berat memecah argumen mereka. "Nduk, hati-hati. Laut sedang tidak ingin bercanda," seorang pria tua dengan caping usang mendekat. Matanya tertuju tajam pada pakaian Siska. "Warna itu... sebaiknya jangan ditantang. Di sini, apa yang tidak terlihat oleh mata justru yang paling berkuasa."
Siska tersenyum sopan namun tetap keras kepala. "Terima kasih, Pak. Tapi saya hanya sebentar di sini."
Begitu pria itu menjauh, Siska menoleh ke arah Bram. "Lihat? Bahkan penduduk lokal pun hanya bicara soal mistis. Mereka tidak paham soal refraksi cahaya atau wavelength."
"Justru itu poinnya, Sis! Mitos adalah cara mereka mengemas keselamatan dalam balutan cerita yang ditakuti," Bram mencoba meraih lengan Siska. "Ayo kembali ke area yang lebih aman. Air sudah mulai pasang."
Namun, alam seolah ingin membuktikan teori Bram dalam hitungan detik. Tanpa peringatan, sebuah gelombang besar menghantam sandbar di depan mereka. Air tidak pecah menjadi buih, melainkan meluncur deras seperti lidah raksasa yang menjilat daratan.
"Siska, mundur!" teriak Bram.
Terlambat. Kaki Siska terperosok ke dalam cekungan pasir yang mendadak amblas akibat fenomena backwash. Tubuhnya goyah, dan sebelum ia sempat meraih tangan Bram, arus seret atau rip current yang tersembunyi di balik ketenangan permukaan air menariknya dengan kekuatan ribuan ton.
"Bram!" jerit Siska. Suaranya tertelan gemuruh ombak yang meledak di sekitar telinganya.
Dalam sekejap, Siska terseret sepuluh meter dari bibir pantai. Ia mencoba melakukan treading water, namun pakaian linen hijaunya yang basah menjadi sangat berat, membebani gerakannya layaknya belenggu besi. Dari sudut pandang Bram di daratan, pemandangan itu mengerikan. Spektrum warna hijau pada baju Siska secara optik menyatu sempurna dengan air laut yang kaya akan fitoplankton dan pantulan emerald dari kedalaman.
"Siska! Jangan melawan arus! Berenang paralel dengan garis pantai!" terak Bram sekencang mungkin, namun ia tahu Siska dalam bahaya besar.
Bram berlari mencari pertolongan, matanya menyisir laut dengan panik. Di sinilah teori ilmiah itu menjadi nyata dan mematikan. Di bawah pencahayaan sore yang mulai meredup, mata manusia mengalami Purkinje shift, di mana sensitivitas terhadap warna merah menurun dan warna hijau serta biru mulai mendominasi penglihatan. Siska, dengan baju hijau lumutnya, benar-benar menjadi invisible di mata siapapun yang mencoba mencarinya dari kejauhan.
"Tolong! Ada yang terseret arus!" teriak Bram kepada petugas Life Guard yang bersiaga.
Petugas berbaju oranye itu segera mengarahkan teropong binokularnya ke arah laut. "Di mana? Saya tidak melihat objek!"
"Di sana! Dekat pusaran air!" jari Bram menunjuk kalap ke arah titik di mana Siska berada.
"Sulit sekali! Warnanya terlalu menyatu dengan air!" petugas itu memaki pelan sembari berlari menuju perahu penyelamat.
Di tengah laut, Siska mulai kehilangan tenaga. Panik mulai mengaburkan logika sainsnya. Setiap kali ia berusaha melambaikan tangan, kain hijaunya justru membuatnya tampak seperti sekadar rumput laut yang terombang-ambing. Ia teringat ucapan Bram: Kamu akan menjadi transparan di tengah luasnya samudra.
"Aku bukan ditarik Nyi Roro Kidul," batin Siska di tengah sisa-sisa kesadarannya, "tapi aku sedang dibunuh oleh spektrum warnaku sendiri."
Detik berganti menjadi menit yang terasa seperti keabadian. Bram berdiri di bibir pantai dengan jantung yang berdegup melampaui ritme ombak. Di kejauhan, petugas Life Guard berjuang melawan breaking waves yang menghantam hull perahu karet mereka. Pandangan mereka menyapu permukaan laut yang kini sepenuhnya berubah menjadi zamrud gelap akibat sisa cahaya matahari yang menghilang.
"Posisinya hilang! Saya kehilangan visual!" teriak salah satu petugas melalui handy talky, suaranya parau tertutup angin.
"Tetap di koordinat jam dua! Dia memakai baju hijau lumut!" balas Bram dengan teriakan putus asa yang menyakitkan tenggorokan.
"Itu masalahnya, Mas! Hijau di atas air hijau itu mustahil terlihat dari sini!" sahut petugas lainnya sembari terus memicingkan mata.
Di tengah laut, Siska merasakan hypothermia mulai merayap ke sumsum tulangnya. Ia mencoba berteriak, namun air asin kembali masuk ke dalam kerongkongannya. Ia teringat penjelasan Bram tentang Purkinje shift. Di bawah cahaya twilight yang meredup, matanya sendiri mulai gagal membedakan batas antara lengan bajunya dan air yang mengepungnya. Secara optik, ia telah tereliminasi dari dunia atas.
"Tolong... siapa pun..." rintih Siska, suaranya kini hanya berupa bisikan lemah. Tubuhnya terasa berat, outer linen itu kini menyerap air layaknya spons, menciptakan beban tambahan yang menariknya ke dasar abyss.
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya dari menara pemantau menyapu permukaan laut. Searchlight itu bergerak cepat, namun saat melewati posisi Siska, cahaya itu tidak memantul. Warna hijaunya justru menyerap spektrum cahaya tersebut, membuatnya tampak seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan samudra.
"Bram benar," batin Siska dengan kesadaran yang kian menipis. "Mitos itu adalah bentuk kearifan lokal yang paling jujur. Mereka tidak bicara tentang wavelength atau refraction, mereka bicara tentang keselamatan nyawa yang dibungkus rasa hormat."
Tepat saat tangan Siska hampir berhenti menggapai, sebuah pelampung berwarna neon orange jatuh hanya beberapa jengkal dari wajahnya. Warna oranye yang kontras, warna yang memiliki panjang gelombang paling jauh dalam spektrum cahaya tampak, membelah dominasi warna hijau-biru di sekelilingnya. Itu adalah satu-satunya objek yang mampu dikenali oleh mata manusia di tengah kekacauan warna tersebut.
"Pegang pelampungnya! Jangan dilepas!" teriak petugas yang akhirnya berhasil menjangkau titik rip current tersebut setelah melihat sedikit gerakan anomali di atas air.
Dengan sisa tenaga terakhir, Siska mencengkeram erat pelampung itu. Ia ditarik naik ke atas perahu, gemetar hebat, sementara di daratan, Bram jatuh terduduk di atas pasir. Isak tangis lega pecah dari dadanya. Ia melihat sosok Siska yang kini dibungkus selimut termal berwarna perak, kontras dengan latar belakang laut yang hitam pekat.
Beberapa saat kemudian, di pos kesehatan, Siska terduduk lesu dengan wajah pucat pasi. Ia menatap baju hijau lumutnya yang kini teronggok di sudut ruangan seperti kulit ular yang baru saja dilepaskan.
"Bram," panggil Siska lirih saat Bram mendekat.
"Sudah, jangan bicara dulu. Yang penting kamu selamat," potong Bram lembut.
Siska menggeleng pelan, matanya menatap tajam ke arah laut melalui jendela. "Aku tadi benar-benar merasa ditarik, Bram. Bukan oleh tangan gaib, tapi oleh hukum fisika yang selama ini aku sepelekan. Aku sombong karena merasa tahu segalanya tentang sains, sampai aku lupa bahwa alam punya caranya sendiri untuk menghukum mereka yang tidak mau 'melihat'."
Bram terdiam, menatap garis imajiner yang kini tertutup kegelapan malam. "Mitos adalah sains yang belum terjemahkan bagi masyarakat awam, Sis. Larangan memakai baju hijau itu bukan tentang kemarahan seorang ratu, tapi tentang betapa kecilnya manusia di hadapan spectrum alam yang mahaluas. Hijau adalah warna kehidupan di darat, tapi di laut ini, ia adalah warna penyamaran menuju kematian."
Siska mengangguk pelan, menyadari bahwa di balik debur Parangtritis, ada harmoni antara logika dan kepercayaan yang menjaga nyawa manusia tetap berpijak di bumi.
Malam benar-benar telah jatuh di Parangtritis. Suasana pos kesehatan yang tadinya tegang mulai mereda, menyisakan suara detak jam dinding yang beradu dengan suara ombak dari kejauhan. Siska masih terbungkus selimut termal, tangannya gemetar saat memegang segelas teh hangat yang diberikan petugas. Di sudut ruangan, outer hijau lumut itu tampak gelap dan berat, seolah baru saja menjalankan tugasnya sebagai jaring penjerat.
"Kamu tahu, Sis?" Bram memecah keheningan sembari duduk di kursi kayu di samping brankar. "Petugas tadi bilang, kalau saja kamu tidak sempat menggapai ujung pelampung itu, mereka sudah hampir menyerah karena kehilangan visual. Mereka melihat ke arahmu, tapi yang mereka lihat hanya air."
Siska menghela napas panjang, uap teh hangat menerpa wajahnya yang pucat. "Aku merasakannya, Bram. Saat di dalam air, aku melihat lenganku sendiri dan aku mendadak ngeri. Warnanya benar-benar lenyap. Aku seperti menjadi bagian dari background laut itu sendiri. Itu bukan sekadar camouflage, itu seperti penghapusan eksistensi."
Seorang petugas Life Guard senior masuk ke ruangan untuk mengecek kondisi Siska. Ia tersenyum tipis, wajahnya penuh guratan pengalaman menghadapi ganasnya Pantai Selatan.
"Sudah enakan, Nduk?" tanya petugas itu. "Tadi itu kamu beruntung. Rip current di sini tidak pernah pandang bulu. Tapi yang paling membuat kami kewalahan adalah bajumu. Kami menyebutnya 'warna maut' jika dipakai berenang di sini."
"Karena Nyi Roro Kidul akan marah, Pak?" tanya Siska pelan, kali ini tanpa nada meremehkan.
Petugas itu terkekeh pelan sembari merapikan handy talky-nya. "Masyarakat sini menyebutnya begitu agar anak-anak muda menurut. Tapi bagi kami yang bertugas, alasannya adalah visibility. Air laut kita ini kaya akan sedimen dan plankton, membuatnya cenderung berwarna hijau kecokelatan atau biru gelap. Memakai baju hijau di sini sama saja dengan bermain petak umpet dengan maut. Kami tidak bisa melihatmu dari kejauhan, apalagi jika cahaya sudah low light seperti tadi sore."
Bram mengangguk, lalu menoleh ke arah Siska. "Itu yang disebut penjelasan logis di balik mitos, Sis. Masyarakat tradisional mungkin tidak mengenal istilah optical illusion atau light scattering, tapi mereka punya kearifan lokal untuk bertahan hidup. Mereka membungkus peringatan keselamatan dalam narasi yang mudah diingat dan dipatuhi."
Siska terdiam, menatap butiran pasir yang masih menempel di sela kuku jarinya. "Aku tadi sempat berpikir tentang Rational Emotive Therapy yang kamu ceritakan. Ternyata, ketakutan masyarakat akan mitos itu sebenarnya adalah bentuk perlindungan diri yang rasional, hanya saja dikemas dalam bahasa yang berbeda. Aku yang merasa paling rasional justru bertindak paling irasional karena mengabaikan konteks lingkungan."
"Setidaknya sekarang kamu punya data primer untuk argumenmu," canda Bram berusaha mencairkan suasana.
Siska tersenyum getir. "Data primer yang nyaris membuatku menjadi legend baru di pantai ini. Mulai sekarang, aku akan lebih menghormati 'warna' tempat yang kukunjungi. Bukan karena aku takut pada sosok gaib, tapi karena aku sadar bahwa aku hanyalah bintik kecil dalam spektrum alam yang tidak bisa kulawan dengan ego."
Siska bangkit berdiri, dibantu oleh Bram. Ia berjalan melewati baju hijaunya tanpa menoleh lagi. Di luar, mercusuar mulai memancarkan cahaya, membelah kegelapan Pantai Selatan yang tetap misterius, menjaga rahasia di balik setiap spektrum warna yang menyatu dengan deburan ombaknya.
Satu jam telah berlalu sejak insiden yang nyaris merenggut nyawa Siska. Kini, mereka berdua duduk di bangku kayu panjang di depan pos pengamanan, menghadap ke arah samudra yang kini hanya tampak sebagai garis hitam tak berujung. Suara ombak masih menderu, namun kini terdengar seperti bisikan peringatan daripada sekadar kebisingan alam. Siska telah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong berwarna merah terang milik Bram—sebuah kontras tajam yang seolah menegaskan eksistensinya kembali di atas daratan.
"Masih dingin?" tanya Bram sembari menyodorkan kembali botol air mineral.
Siska menggeleng, meski bahunya masih sesekali bergidik. "Bukan dingin fisiknya, Bram. Tapi dingin di sini," ia menunjuk dadanya sendiri. "Aku terus memikirkan bagaimana air itu seolah-olah memiliki tangan yang menarikku tepat saat aku merasa paling pintar di depanmu."
Bram menatap lurus ke depan, ke arah di mana laut dan langit menyatu dalam kegelapan. "Kamu tidak sedang ditarik oleh tangan gaib, Sis. Kamu ditarik oleh pressure gradient dari arus rip current yang memang sedang mencapai puncaknya. Tapi aku mengerti maksudmu. Secara psikologis, saat kita kehilangan kendali atas tubuh kita sendiri, otak kita akan mencari narasi yang paling masuk akal untuk menjelaskan kengerian itu. Bagi warga di sini, narasi itu adalah Sang Ratu."
"Dan pakaian hijauku itu adalah katalisatornya," gumam Siska lirih. Ia menoleh ke arah kantong plastik di samping kursi yang berisi pakaian basahnya. "Tadi Pak Petugas bilang tentang visibility. Aku baru sadar, saat aku di tengah gulungan itu, aku melihat ke bawah dan aku tidak bisa membedakan mana kakiku dan mana air. Green-on-green. Semuanya melebur."
"Itulah inti dari penjelasannya," sahut Bram dengan nada reflektif. "Secara ilmiah, air laut bertindak sebagai filter spektrum cahaya. Warna merah diserap paling awal di kedalaman dangkal, sedangkan warna hijau dan biru bisa menembus lebih dalam karena memiliki panjang gelombang atau wavelength yang lebih pendek. Saat kamu memakai baju hijau, kamu secara tidak sengaja sedang melakukan teknik camouflaging. Kamu menjadi transparan secara optik. Jika tim SAR mencarimu menggunakan helikopter atau dari atas menara pantau, kamu akan terlihat seperti sekumpulan algae atau sekadar pembiasan warna laut."
Siska menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Berarti, larangan Nyi Roro Kidul itu sebenarnya adalah protokol keselamatan yang dipuitiskan, ya?"
"Bisa dibilang begitu," jawab Bram. "Mitos adalah cara masyarakat kuno melakukan risk management. Mereka tidak perlu menjelaskan tentang refractive index atau spektrum cahaya tampak kepada setiap wisatawan. Cukup dengan mengatakan bahwa warna hijau akan mengundang murka penguasa laut, maka orang akan patuh karena rasa takut. Tujuannya sama: agar manusia tidak menjadi korban dari ganasnya Southern Sea."
Tiba-tiba, pria tua dengan caping yang mereka temui tadi sore melintas kembali di depan pos. Ia berhenti sejenak, melihat Siska yang kini mengenakan baju merah, lalu mengangguk pelan. "Sudah benar begitu, Nduk. Merah itu warna berani, warna yang terlihat oleh mata manusia dan mata 'sana'. Jangan lagi mencoba membaur dengan laut jika kamu belum siap untuk menetap di dalamnya."
Siska terpaku mendengar ucapan itu. Setelah pria itu berlalu, ia berbisik pada Bram, "Apa menurutmu dia tahu tentang Purkinje shift yang kamu jelaskan tadi?"
Bram tersenyum tipis. "Mungkin tidak dalam istilah biofisika. Tapi dia tahu satu hal yang tadi kita lupakan: kerendahan hati di hadapan alam. Kita datang dengan ego scientific kita, merasa bahwa data forecast adalah segalanya, sampai kita lupa bahwa alam memiliki variabel chaos yang tidak selalu bisa diprediksi oleh aplikasi di ponselmu."
Siska menyandarkan kepalanya di bahu Bram, membiarkan angin malam menyapu wajahnya. "Judul cerpen yang ingin kutulis tadi... sepertinya aku harus mengubahnya. Bukan lagi tentang 'pembuktian kesalahan mitos', tapi tentang 'harmoni spektrum'. Aku berhutang nyawa pada spektrum warna merahmu, Bram."
"Dan pada kearifan lokal yang selama ini kita anggap remeh," tambah Bram.
Malam itu, di bawah naungan garis imajiner yang menghubungkan Merapi, Keraton, dan Parangtritis, Siska belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus memilih antara sains atau mitos. Keduanya bisa berjalan beriringan, menjaga nyawa-nyawa yang berani menantang deburan ombak. Hijau mungkin adalah warna kesayangan Sang Ratu, namun bagi manusia yang masih ingin menghirup oksigen di daratan, hijau di pantai selatan adalah sebuah selubung kematian yang tak kasat mata.
Malam semakin larut di Parangtritis, namun deburan ombak yang menghantam karang terdengar lebih seperti sebuah wejangan purba daripada sekadar fenomena fisik. Siska menatap kaos merahnya, menyadari bahwa warna tersebut adalah alasan mengapa ia masih bisa bernapas saat ini. Di sinilah ia menemukan sebuah titik temu yang subtil antara sains yang ia agungkan dan mitos yang selama ini ia remehkan.
Larangan mengenakan baju hijau di Pantai Selatan bukan sekadar cerita pengantar tidur atau alat untuk melanggengkan kekuasaan mistis tertentu. Secara biophysical, ia adalah sebuah protokol keselamatan yang brilian. Alam tidak butuh penjelasan mengenai refractive index atau electromagnetic spectrum untuk menunjukkan kekuatannya. Masyarakat Jawa, dengan kearifan lokal yang mendalam, telah melakukan risk assessment jauh sebelum istilah itu ditemukan dalam buku teks modern. Mereka membungkus ancaman optical camouflage—di mana warna hijau menyatu dengan seawater yang kaya akan phytoplankton—menjadi sebuah narasi sakral agar setiap jiwa memiliki rasa hormat dan kewaspadaan yang tinggi.
Amanat yang tersirat di balik buih ombak malam itu begitu nyata: bahwa ilmu pengetahuan tanpa kerendahan hati adalah kesombongan yang mematikan. Kita sering kali merasa telah menaklukkan alam dengan data forecast dan angka-angka, namun kita lupa bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ekosistem yang memiliki variabel chaos. Menghormati mitos bukan berarti kita menjadi mundur secara intelektual, melainkan sebuah bentuk cultural intelligence untuk memahami cara lingkungan "berbicara" kepada kita.
Pada akhirnya, warna hijau di Pantai Selatan akan tetap menjadi misteri yang indah sekaligus mematikan. Ia adalah pengingat bahwa dalam hidup, ada hal-hal yang tidak perlu ditantang hanya untuk membuktikan kehebatan logika kita. Terkadang, kepatuhan terhadap tradisi adalah bentuk paling rasional dari upaya mempertahankan eksistensi. Siska kini paham, bahwa untuk selamat dari ganasnya arus rip current, seseorang tidak hanya butuh fisik yang kuat, tetapi juga jiwa yang cukup luas untuk menampung kebenaran yang datang dari dua sisi: laboratorium dan kepercayaan leluhur. Di balik spektrum warna yang memikat, tersimpan pelajaran abadi tentang batas antara keberanian dan kebebalan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
