Ramadhan dan Revitalisasi Ormas Islam
Agama | 2026-02-23 08:05:53Ramadhan kembali hadir, membawa suasana teduh yang selalu dirindukan umat Islam diseluruh dunia. Bulan ini bukan sekadar rangkaian ritual, tetapi ruang perenungan yang menuntut setiap muslim untuk menahan diri, menata niat, dan memperbaiki akhlak. Namun, jika Ramadhan selama ini dipahami terutama sebagai latihan spiritual individu, sesungguhnya pesan moralnya juga relevan bagi entitas kolektif, termasuk organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam. Bila individu diwajibkan berpuasa untuk menahan syahwat dan ambisi, maka ormas pun perlu berpuasa untuk menata ulang dirinya.
Fenomena beberapa tahun terakhir menunjukkan batas antara ormas dan penguasa kian kabur. Ormas terlihat lebih sibuk menjaga kedekatan dan posisi dengan lingkaran kekuasaan dibanding mendengar keluhan umat di akar rumput. Alih-alih tampil sebagai penyangga moral masyarakat sipil, seakan ormas berebut menjadi bagian dari arus besar kekuasaan. Mereka hadir dalam seremoni, vokal dalam urusan politik, tetapi sunyi ketika rakyat kecil membutuhkan advokasi dan pembelaan.
Padahal, sejarah panjang ormas di Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan mereka terletak pada jarak yang sehat dari kekuasaan. Jarak itu bukan permusuhan, melainkan independensi moral, kemampuan untuk menegur ketika negara melenceng, sekaligus bekerja sama ketika kepentingan publik menuntutnya. Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk menarik kembali jarak itu, mengembalikan ormas pada peran aslinya sebagai pilar civil society.
Belajar dari Organisator Ulung
Sejarah Islam sendiri menawarkan teladan organisator ulung dan kuat. Ketika dakwah Nabi Muhammad SAW berkembang di tengah masyarakat yang penuh kejahilan, beliau mampu menampilkan perjuangan yang jujur dan akhlaq terpuji hingga mendapatkan dukungan. Tidak hanya itu, beliau mampu membangun gerakan kolektif, dalam prosesnya munculah kelompok yang terbentuk secara organik, kelompok Muhajirin dan Anshar. Dua kelompok ini bukan sekadar komunitas spiritual, tetapi organisasi sosial yang memiliki identitas kolektif yang jelas berbasis iman, akhlak, dan keberanian moral.
Muhajirin menunjukkan keteguhan untuk meninggalkan zona nyaman demi mempertahankan keyakinan. Anshar memperlihatkan solidaritas sosial yang luar biasa, membuka rumah dan sumber daya bagi saudara baru mereka. Keduanya membentuk model organisasi yang berakar pada nilai dan pengorbanan, bukan kepentingan dan keuntungan semata. Dari fondasi inilah Nabi berhasil membangun kepercayaan publik, menyatukan berbagai golongan di Madinah, dan menciptakan masyarakat yang mampu menghadapi tekanan eksternal tanpa kehilangan integritas internal.
Layaknya model ini relevan bagi ormas hari ini. Identitas kolektif tidak dibangun dari slogan atau atribut, tetapi dari konsistensi nilai kejujuran, keberpihakan pada yang lemah, dan keberanian moral untuk bersuara ketika ketidakadilan terjadi.
Revitalisasi Nilai dan Identitas Ormas
Dalam psikologi, revitalisasi organisasi hanya mungkin terjadi jika mereka berani menegaskan ulang identitas yang dimiliki. Ormas perlu kembali pada nilai dan dasar, sebagai pelayan umat, bukan hanya sebagai aktor politik yang mengejar kedekatan dengan kekuasaan. Krisis terbesar ormas bukanlah kekurangan anggota atau dana, tetapi hilangnya sifat distinctive. Keunikan moral yang membedakan mereka dari partai politik atau lembaga birokrasi negara.
Dalam konteks ini, legitimasi ormas tidak cukup hanya legal. Yang jauh lebih penting adalah legitimasi moral pada masyarakat, apakah mereka dianggap benar, adil, dan masih berpihak pada kepentingan publik?. Kedekatan dengan kekuasaan memang dapat memberi akses, tetapi tanpa keberpihakan pada kelompok rentan, kedekatan itu justru menggerus legitimasi moral. Ormas bisa kehilangan kepercayaan umat ketika perilakunya lebih mencerminkan kepentingan elite daripada kebutuhan masyarakat.
Revitalisasi berarti kembali pada nilai dasar, berjuang dan berani untuk menegur ketidakadilan, kemampuan mendengar suara akar rumput, dan komitmen untuk menjadi penyeimbang kekuasaan. Ramadhan mengajarkan bahwa kemenangan bukan datang dari kekuatan fisik atau kedekatan kuasa, tetapi dari kejernihan hati dan keteguhan prinsip.
Ramadhan adalah undangan untuk kembali ke jati diri. Bagi ormas, ini adalah kesempatan untuk menata ulang orientasi, memperkuat integritas, dan memulihkan kepercayaan publik. Bila individu berpuasa untuk membersihkan diri dari hawa nafsu, maka ormas pun perlu berpuasa dan menata ulang dirinya jika dirasa, terlalu tergoda akan kekuasaan yang pada akirnya dapat mengaburkan misi dan nilai yang dimilikinya.
Di tengah tantangan bangsa yang semakin kompleks, ormas Islam dibutuhkan sebagai penjaga moral publik. Ramadhan memberi ruang untuk merenung, tetapi juga mendorong untuk berubah. Semoga momentum ini benar-benar menjadi awal revitalisasi ormas Islam menuju peran yang lebih bermakna bagi umat dan bangsa.
Min Hajul Abidin
Dosen F-Psi, UNESA, Surabaya
Mahasiswa Doktor ECUST, Shanghai
Ketua PMII Tiongkok
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
