Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Endang Rosdiana

Shalat, Hadiah Langit Penguat Manusia Bumi

Agama | 2026-01-16 11:22:47
Sholat

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

”Jadikan sabar dan sholat sebagai penolong kalian. Sungguh hal itu teramat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,”(QS. Al-Baqarah : 45)

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling spektakuler dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dinaikkan menembus lapisan-lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha. Peristiwa luar biasa ini terjadi bukan pada masa kejayaan, tetapi justru setelah Rasulullah SAW melewati fase kehidupan yang sangat berat dan penuh ujian.

Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa historis yang berhenti pada kekaguman pada keajaibannya. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj merupakan sumber nilai spiritual, intelektual, dan sosial yang terus relevan sepanjang zaman. Dari peristiwa inilah Allah SWT menghadiahkan sholat kepada umat Islam, sebagai sebuah ibadah yang bukan hanya merupakan kewajiban ritual, tetapi kekuatan ruhani yang dirancang Allah SWT agar manusia mampu menghadapi kompleksitas dan tekanan kehidupan, termasuk di era modern saat ini.

Ayat di awal tulisan ini menegaskan bahwa sholat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sumber pertolongan dan kekuatan hidup yang Allah SWT siapkan bagi manusia. Ketika kehidupan terasa berat, langkah terasa sempit, dan ujian datang silih berganti, Allah SWT tidak membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian. Melalui sholat, manusia diajak untuk berhenti sejenak, bersandar, dan mengisi kembali pasokan energi jiwanya.

Setiap manusia pasti pernah berada di titik lemah berupa hati yang gelisah, pikiran yang sempit, dan jiwa yang letih menghadapi realitas hidup. Dalam kondisi seperti itu, Allah SWT tidak menawarkan solusi berupa harta, jabatan, atau kekuasaan, tetapi menghadiahkan sholat, sebuah ibadah yang diturunkan langsung melalui peristiwa agung Isra’ Mi’raj. Ini menjadi isyarat kuat bahwa sholat adalah penopang utama kehidupan seorang mukmin.

Melalui sholat, manusia diajak untuk berhenti sejenak, bersandar, dan mengisi kembali kekuatan jiwanya. Dalam bingkai inilah peristiwa Isra’ Mi’raj menemukan makna terdalamnya. Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan Rasulullah SAW menembus langit, tetapi penegasan Ilahi bahwa sholat adalah hadiah langit untuk menguatkan manusia di bumi, agar ia tetap tegak, jernih nuraninya, dan selamat menapaki kehidupan.

Di dalam sholat, hati yang gelisah menemukan ketenangan, pikiran yang sempit memperoleh keluasan, dan jiwa yang rapuh kembali diteguhkan. Karena itu, sholat sejatinya bukan penguras energi, tetapi sumber energi ruhani. Semakin sholat dijaga dan dihayati, semakin kuat seseorang menjalani hidup. Sebaliknya, ketika sholat ditinggalkan atau dilakukan tanpa kehadiran hati, kehidupanpun terasa kering dan mudah goyah.

Momentum Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi saat muhasabah bagi setiap mukmin. Sudahkah sholat kita benar-benar menjadi penolong dalam hidup? Sudahkah ia menenangkan saat gelisah, menguatkan saat lemah, dan membimbing perilaku kita dalam kehidupan pribadi maupun sosial? Jika sholat belum mampu mencegah kita dari keburukan, boleh jadi bukan sholatnya yang kurang, tetapi kekhusyukan dan penghambaan kita di dalamnya yang perlu diperbaiki.

”Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kekhusyukan dalam sholat, yang mengangkat derajat kami di sisi-Mu, yang memperbaiki akhlak kami dalam kehidupan pribadi dan sosial, serta yang menyelamatkan kami dari tipu daya dunia dan angkara murka.”

Sahabat,

Selamat menikmati sayyidu ayyam, Jum’at penuh berkah.

Semoga Allah SWT memampukan kita untuk senantiasa menegakkan sholat sebagai puncak penghambaan dan sumber kekuatan hidup.

آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image