Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diva Aisah Maharani

Menjadi Mahasiswa, Tetap Menjadi Manusia

Gaya Hidup | 2026-02-06 14:37:11

Dalam dinamika zaman sekarang, mahasiswa berada di persimpangan antara tuntutan dan kenyataan. Mereka dituntut untuk cepat, produktif, dan selalu siap bersaing, seakan waktu tak memberi ruang untuk lelah. Kampus bukan lagi sekadar tempat menimba ilmu, melainkan arena pembuktian diri—IPK, prestasi, organisasi, hingga eksistensi di media sosial menjadi ukuran keberhasilan yang kerap disematkan.

Di tengah hiruk pikuk itu, tak jarang mahasiswa lupa bahwa di balik status akademik, mereka tetaplah manusia. Manusia yang bisa capek, bingung, dan merasa nggak selalu baik-baik saja. Tekanan datang dari banyak arah: tugas yang menumpuk, ekspektasi orang tua, tuntutan lingkungan, sampai rasa takut tertinggal dari yang lain. Semua itu pelan-pelan bisa bikin seseorang kehilangan arah, bahkan lupa tujuan awal kenapa ia memilih jalan ini.

Menjadi mahasiswa memang soal belajar, tapi bukan hanya belajar teori dan angka. Ada proses lain yang sering luput disadari, yaitu belajar mengenal diri sendiri. Belajar mengakui keterbatasan, menerima kegagalan, dan memahami bahwa setiap orang punya ritme hidup yang berbeda. Nggak semua harus selesai hari ini, dan nggak semua pencapaian harus diumumkan.

Di sinilah nilai dan iman punya peran penting sebagai penyeimbang. Ketika ambisi mulai melelahkan, iman mengingatkan untuk kembali tenang. Bahwa usaha tetap penting, tapi hasil bukan sepenuhnya di tangan kita. Ada doa, ada tawakal, dan ada keyakinan bahwa setiap proses punya waktunya masing-masing. Bukan untuk menyerah, tapi agar langkah tetap waras dan hati tetap utuh.

Menjadi manusia di tengah kesibukan kampus juga berarti tetap punya empati. Peka pada sekitar, menghargai perjuangan orang lain, dan tidak menjadikan pencapaian sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Ilmu tanpa adab hanya akan membuat seseorang pandai, tapi kehilangan makna.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang mampu bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri. Tetap belajar, tetap berjuang, tapi jangan lupa untuk bernafas. Karena sebelum menjadi apa-apa, kita semua adalah manusia—yang sedang tumbuh, mencoba, dan belajar memahami hidup dengan caranya masing-masing.

Maka dari situ, tetaplah menjadi mahasiswa yang tidak lupa bahwa dirinya juga seorang manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image